
Awal minggu kantor selalu penuh kesibukan. Begitupun Kinan. Pekerjaannya terasa tak ada habisnya. Saat istirahat makan, Kinan dan Nana juga Mitha langsung ke kantin.
"Habis tenagaku. Udah kayak kerja rodi aja," keluh Nana.
"Hus! Kalau ngomong diatur dong ... Kalau ada yang dengar gimana nasibmu Na. Emang kerja disini kamu nggak dibayar?" Mitha yang paling tua diantara mereka selalu berkata bijak.
"Hehe maaf, habisnya awal minggu begini pasti kerjaan menumpuk. Ya nggak Kin?" Nana meminta persetujuan.
Kinan yang masih asyik menikmati makanan hanya mengangguk.
"Tuh liat Kinan aja makan udah kayak seminggu nggak makan," saut Nana.
"Enak aja. Tadi pagi aku buru-buru jadi belum sempat sarapan. Makanya sekarang makan kayak orang kalap," kata Kinan.
"Kin, nanti sore jalan ke mall yuk. Mau cari baju nih. Temeni ya," ajak Mitha.
"Aduh maaf Mbak Mitha, nanti sore aku udah ada janji. Bagaimana kalau besok?"
"Oke deh. Besok sepulang kerja ya. Kamu ikut nggak Na?"
"Ikut dong," saut Nana sambil meminum es tehnya.
Nana menengok ke kiri dan ke kanan.
"Tau nggak gosip terbaru saat ini?" bisik Nana.
"Perasaan kamu sekarang jadi tukang gosip deh. Emang gosip apaan?" Kinan penasaran juga.
__ADS_1
"Sssttt ... tapi ini masih off the record ya. Katanya nih besok sabtu Pak Bos kita bertunangan dengan Nathasya," Nana memelankan suaranya.
"Apa!!! Masak sih?" teriak Kinan.
"Kinan, pelankan suaramu! Tapi ini baru gosip lho ya. Jangan dipercaya dulu," kata Nana.
"Nana, kamu ini nanti dikira penyebar gosip gimana? Memangnya kamu dengar dari siapa?" tanya Mitha.
"Hehe dari Alex," Nana hanya cengar cengir.
"Aduh ... Alex dan Nana klop banget kayaknya nih," Mitha hanya geleng-geleng kepala.
Kinan hanya mendengarkan obrolan teman-temannya. Pikirannya sudah melayang entah kemana.
*Ak*u nggak siap kalo lihat kak Ardi dan Nathasya tunangan sekarang. Hatiku masih sakit rasanya. Aku pengen ambil cuti lagi dan pulang ke rumah. Tapi aturan kantor nggak akan mengijinkan jika aku cuti bulan ini. Hiks hiks ...
Sisa hari ini dilewati Kinan dengan kerja keras. Pekerjaan menumpuk sementara pikirannya tidak bisa berkonsentrasi.
Untung saja hari ini Ardi tidak ke kantor. Dan Kinan tidak ingin mencari tahu alasannya. Baginya malah lebih mudah jika tidak ada Ardi di kantor.
Sepulang kerja Kinan langsung ke apartemennya.
Kinan ambruk di tempat tidurnya. Badannya capek luar biasa. Huhu ... Aku ingin menangis lagi.
Kinan menguatkan hatinya. Dia mandi berendam air panas agar merasa segar dan tenaganya pulih kembali.
Selesai mandi, Kinan memesan makanan online. Malam ini dia malas keluar untuk membeli makanan.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ...
Cepet banget kurirnya datang? Kayaknya baru 15 menit yang lalu aku baru pesan makanan.
Ceklek ... Kinan membuka pintu. Saat melihat orang yang datang, seketika dia menutup pintunya lagi.
"Kinan ... Kin ... Bukakan pintunya dong! Aku ingin bicara denganmu!" teriak Ardi diluar pintu.
Iiihh ... mau apa sih Kak Ardi datang kesini? Males banget lihat mukanya apalagi bicara sama dia. Huh ... Memang dia mau apa? Mau mengundangku di acara pertunangannya?
"Kinan ... Kinan ...! Please, tolonglah! Bukakan pintunya. Ayo kita bicara!" Ardi semakin memperbesar volume suaranya.
"Pergi saja Kak Ardi. Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa kan?"
Dari dalam rumah Kinan hanya mendengar suara orang bercakap-cakap.
Lah ... Itukan kurir makanan online? Kenapa sih datang disaat nggak tepat begini ...
"Kinan, ini makanan kamu datang. Ayo dong buka pintunya!" kata Ardi.
"Ayo masuk. Kak Ardi nih teriak-teriak di depan pintu, nanti aku bisa ditegur tetangga," Kinan membukakan pintu untuk Ardi.
"Nih makananmu," Ardi menyerahkan bungkusan.
"Terima kasih. Silahkan duduk. Aku mau makan dulu."
Kinan makan dengan lahap. Dia harus punya tenaga untuk mempersiapkan dirinya menghadapi Ardi kan?
__ADS_1