
Malam itu sepulang dari hotel tempat Kinan menginap, Ardi melajukan mobilnya menuju villa miliknya. Sambil menyetir dengan kecepatan sedang, Ardi menyusun rencana untuk memberitahu Papa Mamanya.
Saat masuk gerbang villa, Ardi dikejutkan dengan mobil orang tuanya yang terparkir di sana.
Mungkinkah Papa Mama ke sini? Ardi bertanya-tanya dalam hati.
Setelah memarkir mobilnya, Ardi masuk rumah dan benar, Papa Aris dan Mama Wida sudah menunggu kepulangan Ardi.
"Papa, Mama? Malam-malam ke sini ada apa?" tanya Ardi saat melihat kedua orang tuanya.
"Ardi, malam begini baru pulang dari mana saja?" tanya Papa Aris sambil menyuruh Ardi untuk duduk.
"Ardi habis bertemu Kinan dan Mamanya juga Kakaknya," saut Ardi setelah duduk di depan Mamanya.
"Ardi, Mamanya Kinan di sini?" tanya Mama Wida penasaran.
"Iya, sekarang mereka menginap di hotel. Tadi siang Mama Kinan dan Kakaknya datang," jelas Ardi.
"Ardi, kita harus menyelesaikan pembicaraan mengenai masalah Natasya dulu," kata Papa Aris dengan tegas.
"Apa yang mau dibicarakan lagi Pa. Aku sudah mengatakan keputusanku kan?! Aku tidak akan merubahnya," Ardi malas mengungkit masalah ini lagi.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan kita?" tanya Papa Aris.
"Lalu bagaimana? Perusahaan kan sudah mapan jadi ke depannya Ardi yakin akan baik-baik saja dan bisa berkembang lagi jika dikelola dengan baik," jelas Ardi.
"Kesepakatan Papa dengan Pak Dirga bagaimana?" tanya Papa Aris lagi.
"Papa yang membuat kesepakatan tanpa membicarakan dulu dengan Ardi jadi bisa dibilang kesepakatan itu tidak sah. Lagi pula untuk apa Papa memaksa Ardi bertunangan sedangkan Ardi hanya cinta pada Kinan."
"Papa Mama, seharusnya Ardi sudah bercerita dari dulu mengapa Ardi putus dengan Nathasya. Saat itu Nathasya berselingkuh dari Ardi. Waktu itu Ardi sengaja tidak memberitahu Papa Mama karena biarlah ini menjadi kisah Ardi sendiri," kata Ardi panjang lebar.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Mama sih. Jika tahu sifat Nathasya seperti itu, Mama tidak akan pernah mendekatkanmu dengan Nathasya lagi. Maafkan Mama ya nak," kata Mama Wida penuh sesal.
"Papa juga tidak menyangka Nathasya seperti itu. Tapi seharusnya kamu beritahu kami alasanmu putus dengan Nathasya jadi Papa juga tidak akan bertindak sejauh ini," Papa Aris pun terlihat menyesal.
"Sudahlah Pa Ma. Semua kan sudah masa lalu. Besok Papa beritahu Pak Dirga saja jika kesepakatan antara Papa dengan Pak Dirga batal karena Ardi tidak menyetujuinya," kata Ardi meyakinkan Papa Aris.
__ADS_1
"Baiklah Ardi. Ck ck ck ... Papa betul-betul tidak menyangka Nathasya seperti itu," Papa Aris masih terlihat terkejut dengan pengakuan Ardi.
"Ardi, lalu bagaimana tadi pertemuan kamu dengan Mama Kinan dan Kakaknya? Memangnya Papanya Kinan tidak ada?" tanya Mama penasaran. Sepertinya Mama Wida sudah melupakan Nathasya begitu saja dan sekarang tiba-tiba lebih tertarik membahas tentang Kinan.
"Papanya Kinan sibuk Ma. Mereka kan punya jaringan hotel di Bali. Jadi hanya Mama dan Kakaknya saja yang ikut. Tapi sebelum ini Ardi sudah pernah bertemu dengan orang tua Kinan dan mereka menyambut Ardi dengan baik," kata Ardi mengagetkan Mama Wida.
"Loh ... Jadi Kinan itu orang berada? Bagaimana bisa dia jadi pegawai di kantormu?" Mama Wida menanyai Ardi bertubi-tubi.
Walaupun Papa Aris penasaran tapi dia hanya mendengarkan saja.
"Iya Ma Pa, Kinan itu bekerja di kantor karena ingin belajar dan mencari pengalaman bagaimana bekerja itu dan supaya dia mandiri. Jika suatu saat nanti Kinan jadi pemimpin, maka dia sudah punya pengalaman. Itu tujuan Kinan jadi karyawan di kantorku," jelas Ardi pada Papa Aris dan Mama Wida.
"Aduh ... Mama jadi tidak enak hati karena waktu itu Mama sempat memandang rendah Kinan. Mama pikir Kinan hanya wanita biasa yang mencari suami kaya untuk dimanfaatkan saja. Mama jadi malu bertemu Kinan lagi," kata Mama penuh penyesalan.
"Sudahlah Ma, makanya Papa bilang untuk jangan mencampuri urusan pribadi Ardi. Jadinya begini kan? Papa juga jadi memaksa Ardi dengan Nathasya. Untung semuanya belum terlambat," kata Papa menenangkan Mama Wida.
"Iya Pa, Ma. Sekarang semuanya sudah jelas. Lagipula Kinan juga tidak mengungkit-ungkit masalah itu kok. Mama tenang saja," kata Ardi lega karena semua kesalahpahaman akhirnya teruraikan dengan jelas.
"Besok Mama akan bertemu Kinan saja untuk minta maaf," kata Mama Wida.
"Tidak usah Ma. Ardi sudah mengundang Kinan, Mamanya dan Kakaknya untuk makan malam di rumah besok."
"Iya, Ardi harap Papa Mama bisa menerima Kinan dan keluarganya dengan tangan terbuka," pinta Ardi.
"Tentu saja nak. Papa sangat senang jika kamu menemukan wanita yang baik untuk menjadi teman hidupmu," kata Papa Aris ikut senang.
Malam itu setelah semua kesalahpahaman antara Ardi dan orang tuanya sudah diselesaikan, Papa Aris dan Mama Wida kembali pulang ke rumah. Sedangkan Ardi masih menginap di villa karena dia merasa tenang dan betah tinggal di sana.
Ardi merasa sangat senang dan lega karena akhirnya permasalahannya dengan Nathasya sudah selesai dan Ardi senang karena orang tuanya akhirnya bisa menerima Kinan dengan baik.
Jika dari awal aku menceritakan kalau Kinan anak orang berada mungkin Papa Mama sudah menerimanya dan tidak akan memaksaku bertunangan dengan Nathasya seperti ini. Tapi untung saja semuanya belum terlambat. Ardi membatin dalam hati.
Sebelum tidur dia terus memikirkan masalah-masalah yang bertubi-tubi datang kepadanya akhir-akhir ini. Namun sekarang semuanya sudah berakhir. Ardi merasa sangat senang dan malam itu dirinya tidur dengan perasaan yang lega.
**
Esok harinya, Ardi berangkat ke kantor seperti biasa. Pekerjaannya menumpuk padahal dia hanya tidak berangkat satu hari saja. Ardi cepat-cepat menyelesaikan semua tugas-tugasnya agar dia bisa cepat pulang. Apalagi Kinan mengambil cuti beberapa hari, jadi Ardi merasa tidak bersemangat ada di kantor.
__ADS_1
Belum sampai jam kantor selesai, Ardi sudah meninggalkan kantornya. Dirinya harus ikut menyiapkan untuk menyambut Kinan dan keluarganya yang akan berkunjung ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Ardi melihat Mama Wida sudah menyiapkan semuanya dengan istimewa.
"Mama, sudah selesai persiapannya?" tanya Ardi saat melihat Mama Wida membereskan meja makan.
"Sudah dong. Lihat Mama sedang mengatur bunga-bunga ini supaya meja makan terlihat cantik," kata Mama senang.
"Terima kasih ya Ma," kata Ardi sambil memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Ardi, apaan sih kamu ini. Mama itu sangat senang jika kamu segera menikah. Sudah sana cepat mandi biar kamu terlihat siap menyambut keluarga Kinan!" perintah Mama sambil melepaskan pelukan anak satu-satunya itu.
"Iya siap Mama! Papa mana kok tidak terlihat?" tanya Ardi mencari-cari keberadaan Papa Aris.
"Papa sedang mandi. Kita sudah harus siap saat keluarga Kinan datang. Oiya Ardi, kamu menjemput mereka?" tanya Mama Wida.
"Tidak Ma, mereka tidak mau Ardi menjemput. Kinan sudah menyewa mobil kok," jelas Ardi.
"Oh baiklah. Pokoknya semua sudah beres. Sekarang tinggal kita menunggu waktu saja," Mama tersenyum senang mengingat semua persiapan yang dilakukannya hari ini sudah sempurna.
**
Sebelum malam menjelang, Kinan dan Mama Ratna juga Kak Kevin sudah sampai di rumah Ardi.
Papa Aris dan Mama Wida menyambut dengan senang kedatangan calon menantu dan keluarganya.
Kinan merasa senang namun juga heran melihat perubahan sikap Mama Wida terhadapnya. Karena selama ini, Mama Wida selalu bersikap tidak ramah terhadapnya. Tapi malam ini, Mama Wida menyambut Kinan dengan baik.
Aku senang Mama Kak Ardi bersikap ramah kepadaku. Tapi mengapa bisa berubah secepat ini ya? Aneh? Tapi ya sudahlah, yang penting Mama Wida sudah menerima aku dengan tangan terbuka. Kinan membatin dalam hati melihat keakraban Mamanya dengan Mama Kak Ardi.
Acara makan malam itu terasa santai dan akrab. Semua tampak menikmati dan saling menerima satu dengan lain.
Saat selesai makan malam, Papa Aris mengajak Kinan dan keluarganya untuk duduk di ruang tamu agar mereka semua bisa mengobrol dengan santai.
"Ardi, Kinan, lalu kapan kalian akan menikah?" tanya Papa Aris mengagetkan Ardi juga Kinan.
"Iya, kami semua sudah merestui. Semoga kalian bisa merencanakan secepatnya," Mama Ratna ikut berbicara.
__ADS_1
Ardi bertukar pandang dengan Kinan bertanya. Namun Kinan sendiri juga bingung akan memutuskan.