Janji Di Ujung Mimpi

Janji Di Ujung Mimpi
Dilema


__ADS_3

Ardi terpekur di dalam mobilnya. Masih terngiang kata-kata Pak Dirga, papanya Nathasya semalam saat Ardi menjenguk Nathasya di rumah sakit.


"Nak Ardi, bisa kita bicara berdua di luar?" ajak Pak Dirga.


Ardi keluar kamar perawatan Nathasya mengikuti Pak Dirga. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. Pak Dirga mengajak Ardi duduk di taman sekitar rumah sakit.


"Ada apa Pak Dirga?" tanya Ardi.


"Begini nak Ardi, saya berterus terang saja melanjutkan perkataan saya tadi didalam. Kamu tahu alasan saya yang ingin agar perusahaan saya merger dengan perusahaan kamu?"


Ardi hanya diam menunggu Pak Dirga melanjutkan kata-katanya.


"Memang saya ingin pensiun menikmati hari tua. Sementara perusahaan belum ada yang bisa saya percaya untuk mengelolanya. Nathasya belum bisa mengelola perusahaan sebesar itu. Saya sangat mempercayaimu Ardi, jadi saya akan menyerahkan pengelolaan perusahaan saya padamu," kata Pak Dirga.


"Tapi dengan syarat agar saya menikah dengan Nathasya?"


"Ya itu adalah syarat mutlak yang saya tawarkan. Kamu kan dulu pernah berpacaran dengan Nathasya, jadi saya yakin kamu masih ada rasa sayang untuk anak saya," kata Pak Dirga yakin.


Ardi terdiam, menunggu perkataan Pak Dirga selanjutnya.


"Tapi selain itu juga masih ada alasan lainnya," lanjut Pak Dirga dengan wajah sedih.


"Apa alasannya?"


"Sebenarnya Nathasya bukan sakit tifus. Ehm ... Diagnosa dokter saat ini, Nathasya sakit kanker lidah stadium awal," kata Pak Dirga sedih.


"Mana mungkin? Apakah dokter yakin dengan diagnosanya? Apakah Nathasya tahu?" tanya Ardi kaget.


"Dokter sudah memastikannya dan Nathasya juga sudah tahu. Tapi orang tuamu belum tahu soal ini. Dua hari ke depan, saya akan membawa Nathasya ke Jepang untuk operasi dan pengobatan lanjutan di sana."


"Nak Ardi, saya minta tolong padamu untuk menerima tawaran saya. Menikahlah dengan anak saya dan bahagiakanlah Nathasya. Saya ingin Nathasya mempunyai semangat untuk sembuh. Jika kamu berjanji untuk menikahinya, saya yakin Nathasya akan sembuh," kata Pak Dirga memohon.


"Maaf Pak Dirga, saat ini saya tidak tahu harus mengatakan apa. Terus terang saya sudah memiliki kekasih yang kelak saya ingin menikah dengannya. Saya tidak bisa memutuskan sekarang mengenai permohonan Pak Dirga."


"Tidak apa-apa nak Ardi. Saya akan menunggu jawabanmu. Tolong pikirkanlah baik-baik," kata Pak Dirga menyudahi pembicaraan mereka.


Pak Dirga berjalan kembali menuju kamar perawatan Nathasya. Sementara Ardi masih duduk termenung di taman.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, Ardi kembali ke kamar perawatan dan berpamitan pada Nathasya dan Pak Dirga.


######


Ardi menjalankan mobilnya menuju kantor. Bagaimana pun juga, dia harus menyelesaikan tugas-tugas kantornya. Hari ini banyak meeting yang harus dihadirinya.


Sesampainya di kantor, Ardi mengetik pesan untuk Kinan.


- Kinan, bagaimana harimu di sana. Semoga menyenangkan dan kamu bisa menikmatinya. Kita bicara lagi malam nanti ya, hari ini banyak sekali tugas yang harus aku selesaikan. Miss you.


Ardi berharap agar Kinan tidak mengetahui dilema yang sedang dihadapinya.


Jika orang tuanya tahu alasan utama Pak Dirga ingin menikahkan Nathasya bukanlah sekedar merger perusahaan, maka semua pasti akan kacau. Papa dan Mama pasti akan memaksa Ardi untuk segera menikahi Nathasya.


Ardi harus segera membuat keputusan tapi dengan hati-hati. Dia tidak ingin ada pihak yang merasa tersakiti.


Ardi tidak ingin menikah dengan Nathasya karena baginya kebahagiaan adalah bersama Kinan.


Ardi mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Memberikan instruksi jelas dan besok dia ingin sudah mendapat laporan atas permintaannya.


Hari ini jadwal Ardi sangat padat. Hingga menjelang sore, barulah Ardi bisa beristirahat.


Ardi melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Saat memasuki ruang perawatan, terlihat tidak ada orang yang menemani Nathasya.


Nathasya sedang asyik memainkan ponselnya.


"Halo Nathasya," sapa Ardi.


"Eh halo Ardi. Sendirian?"


"Iya. Disini tidak ada yang menemanimu?" tanya Ardi.


"Papa Mama sedang mengurus segala keperluan untuk besok aku ke Jepang," kata Nathasya.


"Ardi, kamu sudah tahu kan tentang penyakitku?" tanya Nathasya.


"Iya, aku sudah tahu. Kamu sendiri bagaimana perasaanmu?"

__ADS_1


"Saat pertama tahu, tentu saja aku merasa sangat sedih. Tapi setelah tahu jika ini masih stadium awal dan kemungkinan sembuh bisa mencapai 90% maka aku yakin aku pasti akan sembuh," kata Nathasya yakin.


"Bagus sekali semangatmu Nathasya. Aku juga yakin kamu pasti akan sembuh. Tapi mengapa Papa kamu ingin kita menikah padahal kita bukanlah pasangan kekasih?" selidik Ardi.


"Aku yang memaksa Papa untuk mengatakannya padamu. Ardi ... kamu tahu kan kalau aku masih sangat mencintaimu? Sudah tidak adakah rasa cintamu sedikit pun untukku?"


"Nathasya, maafkan aku tapi hati dan cintaku sepenuhnya milik Kinan. Aku tidak bisa memaksakan diriku menikah denganmu. Sebenarnya aku bingung bagaimana akan mengatakannya padamu soal ini karena kamu sedang sakit. Tapi aku yakin kamu pasti bisa sembuh walaupun kita tidak menikah," kata Ardi meyakinkan.


"Benarkah? Kamu yakin pasti aku akan sembuh?"


"Tentu saja! Nathasya, aku yakin pasti kamu sembuh. Setelah itu, temukanlah seseorang yang mencintai dan menyayangi kamu. Aku yakin pasti Tuhan sudah menyiapkannya untukmu."


"Kamu yakin menolak perusahaan Papaku?" tanya Nathasya mencoba mencari celah.


"Aku bukanlah orang yang gila harta Nathasya. Aku sudah merasa cukup mengelola perusahaan milikku saat ini."


Nathasya terlihat kecewa. Tapi Ardi tetap memantapkan hatinya dan mengatakan keputusan yang sudah dipikirkannya masak-masak.


Saat itulah Pak Dirga dan istrinya masuk ke kamar. Ardi menyapa orang tua Nathasya dengan sopan.


Ardi meminta berbicara dengan Pak Dirga di luar ruangan.


"Nak Ardi, bagaimana keputusanmu?" tanya Pak Dirga tanpa basa-basi saat mereka berdua saja duduk di teras rumah sakit.


"Begini Pak Dirga. Sebelumnya saya mohon maaf sekali karena mungkin keputusan saya ini akan membuat kecewa. Saya tidak bisa memaksakan diri untuk menikah dengan Nathasya. Kalau saya memaksa menikah, saya yakin ke depannya saya dan Nathasya tidak akan bahagia."


"Saya sudah merasa cukup memiliki perusahaan saya saat ini. Saya sudah mengatakan keputusan saya ini dengan Nathasya. Saya juga yakin Nathasya pasti akan sembuh," kata Ardi yakin.


"Kamu sudah yakin menolak tawaran saya?" tanya Pak Dirga tak percaya.


"Saya yakin sekali dan saya tidak akan menyesalinya. Di masa depan, Nathasya pasti akan menemukan seseorang yang menyayangi dan mencintainya."


"Baiklah jika itu keputusanmu. Saya menghormatinya. Jika Nathasya sudah tahu dan bisa menerimanya, saya pun bisa apa," kata Pak Dirga.


"Sekali lagi maafkan saya Pak Dirga."


"Tidak apa-apa nak Ardi," Pak Dirga menerima keputusan Ardi dengan lapang dada.

__ADS_1


Setelah selesai berbicara dengan Pak Dirga, Ardi pamit pada Nathasya dan mamanya.


Ardi segera keluar dari rumah sakit dan masuk ke mobilnya. Dikendarainya mobilnya dengan agak cepat. Tujuannya hanya satu. Menemui Kinan.


__ADS_2