
Ardi masih menunggu jawaban Kinan.
Aku bingung deh ... Maksudnya sebagai teman? Sahabat? Pacar? Nggak jelas banget. (Kinan).
"Bagaimana Kin?"
"Ehm... bolehlah kalau kita dekat sebagai teman. Tapi kan Kakak bos aku di kantor.... trus gimana?"
"Ya kalau di kantor kamu tetap pegawai saya tapi kalau diluar itu kita temenan biasa. Sekali-sekali saya juga ingin pergi berdua denganmu. Kamu setuju?"
"Oke deh ... Asalkan jangan sampai ketahuan karyawan yang lain ya. Aku malas kalau jadi bahan gunjingan dan gosip."
"Iya, aku tau kok Kin ... Aku pasti akan selalu menjaga nama baikmu."
"Kak, tolong antar aku pulang ya. Aku ingin istirahat lagi, badanku rasanya masih capek. Lagian kan besok juga sudah masuk kerja."
"Kamu tidur disini saja Kin. Aku baru nunggu Jimmy buat antar baju buat kamu."
"Oiya, baju piyama yang aku pakai ini punya siapa?"
"Tenang ... Itu masih baru, sengaja aku siapkan buat kamu," Ardi berkata dengan senyum-senyum.
"Loh ... Berarti Kakak emang udah rencanakan kalau aku akan disuruh menginap disini?"
"Iya, memang kenapa? Kamu mau marah?"
"Ya enggak gitu juga sih. Ah ... Sudahlah, aku mau tidur lagi dulu."
"Ya sudah sana. Nanti sore aku akan antar kamu pulang," kata Ardi.
__ADS_1
Kinan pun kembali tidur. Sampai sore hari, dia baru bangun.
Kinan melihat bungkusan diatas mejanya. Setelah dibuka ternyata sebuah baju. Kinan membersihkan dirinya lalu memakai baju yang sudah disediakan.
Ternyata baju ini pas juga. Kasihan Pak Jimmy disuruh beli baju cewek kayak gini. Hahaha ...
Kinan menikmati makan malam masih di villa milik Ardi.
"Kak, villa ini nyaman banget ya. Sebenarnya kalau tidak capek, aku pengen berenang."
"Kamu boleh kok main kesini lagi. Bagaimana kalau weekend besok?" tanya Ardi.
"Beneran boleh? Mau lah aku," Kinan tersenyum bahagia.
"Kadang jenuh rasanya tinggal di kota ini yang rasanya sibuk 24 jam. Apalagi keluargaku jauh."
"Kamu kangen dengan keluarga kamu?"
"Ambillah cuti tapi jangan lama-lama."
"Baik Pak bos!" Kinan memutar bola matanya.
Bagaimanapun Ardi tetaplah bosnya.
Malam itu Ardi mengantar Kinan. Sesampainya di apartemen, Kinan mengajak Ardi masuk ke dalam.
"Sempit sekali apartemenmu ini Kin," kata Ardi.
"Hehehe ... Memang agak sempit tapi nyaman kok dan sesuai dompet juga."
__ADS_1
"Loh ... Orang tua kamu kan bisa membelikan yang lebih besar dari ini."
"Iya sih, tapi kan perjanjiannya aku harus hidup mandiri sesuai penghasilanku. Jadi Papa Mama tidak membantu biaya hidupku disini."
Kinan merasa bangga mengatakannya.
Karena ternyata sudah hampir tiga bulan ini ternyata dia mampu untuk hidup mandiri di kota ini.
Saat tengah asyik mengobrol tiba-tiba ada bel pintu berbunyi.
"Siapa ya ... Tumben aku kedatangan tamu. Tunggu sebentar ya Kak, aku bukakan pintu dulu."
Saat Kinan membuka pintu, ternyata adalah Dewi dan Chelsea.
"Hai ... Surprise lagi!" teriak Dewi dan Chelsea.
""Aduh ... Kalian ini benar-benar hobi banget ya ngagetin orang!"
Mereka bertiga berpelukan melepaskan rindu.
"Kin, siapa itu?" tanya Chelsea setelah menyadari kalau ada cowok di ruang tamu apartemen itu.
"Oh ... Ini kenalkan temenku di kantor. Namanya Kak Ardi."
"Halo Kak ... Namaku Dewi dan ini Chelsea."
"Halo, senang berkenalan dengan kalian."
Pak Ardi kan memang temen kantor ... Aku kan nggak sepenuhnya bohong hehe ... Aku belum siap bilang kalau dia bosku.
__ADS_1
Sementara itu Dewi dan Chelsea saling berpandangan curiga siapa Ardi ini sebenarnya.