Janji Di Ujung Mimpi

Janji Di Ujung Mimpi
Ketahuan


__ADS_3

West Caffe.


"Wow ... Lezatnya steak ini!" seru Kinan sambil mengunyah makanannya.


Kinan, Dewi, dan Chelsea sangat menikmati makan malam mereka sambil mengobrol melepaskan kangen. Seperti sudah kayak setahun tidak ketemu, padahal juga baru eberapa hari. Hehehe ...


Saat mereka mengobrol, tidak sengaja mata Kinan tertuju ke pojok ruang Caffe ini.


Lah ... Bukankah itu kan Pak Ardi dan Pak Jimmy, asistennya? Sial banget sih kenapa juga mesti ketemu disini. Untung aja aku udah selesai makan. Cepet-cepet kabur ah mumpung Pak Ardi belum lihat aku. (Kinan).


"Dewi, Chelsea ... Yuk kita udahan makannya. Tadi katanya mau ke mall juga. Takut kemalaman," ajak Kinan sengaja tidak bilang kalau ada Bosnya disana. Malas menjelaskan panjang lebar.


"Kenapa sih buru-buru? Sebenarnya masih pengen disini sih tapi nggak apalah. Yuk kita jalan ke mall di seberang Caffe ini aja," kata Chelsea sambil berdiri.


Mereka keluar dari caffe. Sebelumnya Dewi terlebih dulu membayar makanan karena memang dia yang akan mentraktir makan kali ini.


Kinan tanpa menoleh lagi dan segera keluar dari Caffe, khawatir kalau sampai Pak Ardi melihatnya ada disana.

__ADS_1


Kenapa Kinan buru-buru pergi? Dikiranya aku nggak lihat dia disana. Kamu sudah ketahuan dari tadi. Padahal rasanya senang juga lihat dia pakai baju santai begitu sambil tertawa lepas. Keliatan imut. (Ardi).


"Jimmy, besok jadwalku nggak ada yang meeting di luar kantor kan? Sehari besok aku ingin di kantor saja mau memeriksa laporan," tanya Ardi.


"Besok sebenarnya ada pertemuan dengan satu klien di luar kantor tapi bisa saya batalkan. Tidak terlalu penting dan masih bisa lewat telpon," jawab Jimmy.


Selesai makan Ardi dan Jimmy meninggalkan Caffe. Jimmy mengantar ke rumah Ardi terlebih dahulu. Saat ini Ardi memang tinggal sendirian di rumahnya yang besar.


Sedangkan orang tuanya tinggal di villa luar kota karena ayah Ardi membutuhkan ketenangan dan benar-benar harus istirahat total dari pekerjaannya.


Setelah keliling mall, Kinan mengajak kedua sahabatnya untuk menginap di apartemennya. Dewi dan Chelsea pun setuju.


Kinan dan Dewi tidur di tempat tidur, sedangkan Chelsea tidur di sofa karena apartemen ini hanya ada satu kamar.


Paginya, Kinan harus berangkat ke kantor. Kinan tidak pamit karena kedua sahabatnya masih terlelap tidur.


Ahhhh ... Kenapa mesti kerja sih. Apa aku ijin nggak usah masuk aja ya? Masih pengen jalan-jalan. Tapi kan aku baru dua hari kerja, bisa-bisa dipecat nanti.

__ADS_1


Kinan memaksakan dirinya untuk berangkat ke kantor.


Saat tengah menikmati makan siang di kantin yang ramai, tiba-tiba suasana jadi sepi. Karyawan yang lain berbisik-bisik. Ternyata tanpa diduga Sang Bos datang ikut makan siang di kantin.


Kinan melirik Ardi yang sedang makan. Tempat duduk mereka bersebelahan. Rasanya makan jadi tidak nyaman karena seperti anak SD yang baru diajari makan dengan baik dan benar.


Kenapa Kinan melirik lihat orang makan sih. Kan aku yang punya kantor ini, jadi bebas dong aku mau makan dimana. (Ardi).


"Kinan, duduk disini sebentar," perintah Ardi.


"Iya, Pak Ardi," Kinan pindah tempat duduk meninggalkan Mitha yang masih belum selesai makan.


"Ada apa Pak? Saya sudah selesai makan apa saya disuruh makan lagi? " tanya Kinan.


"Siapa yang menyuruh kamu makan lagi?" Ardi tidak habis pikir dengan kata yang keluar dari mulut Kinan.


Cantik-cantik kenapa bodoh ya? (Ardi).

__ADS_1


__ADS_2