
Ardi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dirinya tidak habis pikir dengan kejadian antara Mama dan Kinan. Pikirannya terus berputar antara kasihan dengan Kinan dan merasa marah dengan Mamanya.
Ardi ingin segera sampai di rumahnya, menanyakan langsung pada Mamanya. Tapi pesan dari Kinan, dia harus menahan diri. Merasa frustasi, Ardi melajukan mobilny makin kencang.
Sesampainya di rumah, Ardi menata emosi dan hatinya agar rencana yang telah disusun dapat berjalan dengan baik.
Terlihat Papa Mama duduk di ruang tengah.
"Malam begini baru pulang?" tanya Mama.
"Iya nih Ma," saut Ardi sambil mendudukkan badannya di kursi berhadapan dengan Mamanya.
"Kalau kerja jangan terlalu di forsir. Nanti kamu kelelahan bisa-bisa malah sakit," ujar Papa
"Iya Pa."
Seorang pelayan datang membawakan minum untuk Ardi.
"Ardi, Mama boleh tanya?"
"Ada apa Ma?" Ardi menyesap minumannya. Dan membatin dalam hati jika inilah waktunya.
"Ardi, bagaimana hubunganmu dengan Kinan?" tanya Mama hati-hati.
__ADS_1
"Mama, kok mencampuri urusan anakmu. Biarkan Ardi sendiri yang menentukan," saut Papa.
"Nggak apa-apa kok Pa. Mungkin Mama antusias dengan Kinan. Ya kan Ma?" Ardi senyum-senyum sendiri.
"Tuh kan Pa, Ardi aja nggak masalah. Terus bagaimana Kinan?" tanya Mama penasaran.
"Hubunganku dengan Kinan baik kok Ma. Memang kenapa Ma?" Ardi balik bertanya.
"Ehm ... Mama tuh hanya penasaran kenapa cewek seperti Kinan kok bisa merebut hatimu. Kamu sudah menyelidiki tentang Kinan? Latar belakang keluarga, kehidupannya sebelum bertemu dengan kamu," Mama mulai membuka persoalan.
"Untuk apa sih Ma? Yang penting kan Kinan sekarang sayang dan cinta dengan Ardi. Dia tulus kok Ma. Bukankah Mama mengajarkan Ardi untuk tidak memandang orang dari derajat dan kekayaannya?" Ardi mulai memahami maksud Mama.
"Bukan seperti itu juga Ardi. Tapi kan Mama hanya penasaran saja."
"Sudahlah Mama! Jangan campuri urusan anakmu. Biarlah Ardi yang menentukan akan menikah dengan siapa. Toh besok yang menjalani kan Ardi juga," kata Papa tegas.
"Ardi berniat serius dengan Kinan, Pa Ma. Walaupun Kinan masih muda, masih usia 21 tahun, tapi dia sangat tulus. Jadi tolong biarkan Ardi menjalani dulu," kata Ardi sambil minta ijin untuk beristirahat.
Jadi Mama tidak menyukai Kinan karena setahu Mama, Kinan tidak sederajat denganku. Tapi kenapa Kinan tidak mau berterus terang saja siapa dia. Kan masalahnya akan selesai. Nggak jadi panjang seperti ini.
... Tok tok tok ...
"Ardi, kamu sudah tidur?" Mama mengetuk pintu kamar Ardi.
__ADS_1
"Belum Ma, ada apa?" kata Ardi saat membuka pintu kamarnya.
"Ardi, kamu kok kelihatan yakin banget kalau Kinan itu baik? Kamu yakin Kinan itu tulus sama kamu. Kalau tiba-tiba Kinan meninggalkan kamu bagaimana?" tanya Mama teringat jika dia telah memberikan cek agar Kinan putus dengan Ardi.
"Kalau Kinan memang mau putus dengan Ardi ya biarlah itu jadi urusan Ardi. Mama tidak usah kuatir."
"Ardi, Mama itu berpikir seandainya kamu tidak putus dengan Nathasya, pasti sekarang kamu sudah menikah dan Mama sudah menimang cucu," Mama berkata sambil menampilkan senyum manisnya.
Apa lagi sih maksud Mama?
"Maksud Mama?"
"Maksud Mama, sekarang itu Nathasya masih cinta kamu. Kalau Nathasya dan Kinan dibandingkan, jelas terlihat Nathasya jauh lebih baik dari segi manapun dengan Kinan," ungkap Mama.
"Kok Mama tahu kalau Nathasya masih cinta sama aku?"
"Tahu lah Ardi, kan Nathasya menemui Mama?"
"Mama tahu tentang latar belakang Kinan?"
"Iya," saut Mama mantap.
"Mama tahu dari Nathasya?" Ardi menyipitkan mata mulai curiga akan sesuatu.
__ADS_1
"Iya, Nathasya itu baik banget. Dia mau bercerita tentang Kinan karena temannya adalah mantan pacar Kinan dulu."
Jadi ... ini semua karena Nathasya berulah lagi?