
Sepulang dari kantor, Kinan langsung pulang ke apartemennya. Dia sudah tidak tahan ingin menangis sejadi-jadinya.
Padahal Nana dan Alex mengajak Kinan ke kafe dulu. Alex ingin mentraktir Kinan sebagai balasan karena sudah memberikan oleh-oleh. Namun Kinan menolaknya.
Kinan langsung ambruk di sofa apartemennya. Menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan semua perasaannya. Seharian ini Kinan sudah menahan agar air mata tidak jatuh di pipinya.
Sampai tengah malam Kinan masih belum bisa tidur.
Sungguh tega sekali Kak Ardi memperlakukan aku kayak gini. Apa dia lupa akan janjinya untuk selalu membuat aku bahagia? Tapi bukankah lidah itu tak bertulang? Padahal kita baru jadian ... Kok dia sudah berpaling? Huaaa ... Aku sedih ...
Kinan berkali-kali memeriksa ponselnya. Berharap agar Ardi menghubunginya. Setidaknya dia kan harusnya memberi penjelasan.
Mungkin dia nunggu aku untuk menghubungi dia duluan? Ah enggak ah ... Aku nggak boleh menghubungi dia duluan. Biarlah terserah apa maunya. Kalau memang dia mau putus ya sudah apa boleh buat?
Esoknya Kinan sengaja berangkat pagi-pagi sekali. Dia tidak mau terlambat lagi.
Apalagi Kinan sudah mendapat Surat Peringatan dari kantor karena keterlambatannya.
Padahal selama ini Kinan baru terlambat dua kali. Tapi Kinan menerimanya, karena ini memang perintah Pak Ardi yang mungkin sudah tidak menyukainya lagi.
Aku harus menguatkan hati menjalani hari ini! Aku tidak boleh menyerah. Tidak boleh menangis di kantor. Semangat!!!
Kinan membulatkan tekadnya.
__ADS_1
Pagi ini jadwal meeting adalah laporan bulanan kantor. Kinan termasuk yang harus melaporkan tugas-tugasnya.
Sepanjang meeting, Kinan merasa Ardi terus memperhatikannya. Tapi sepanjang meeting tak sekalipun Kinan melihat wajah Ardi.
Kinan sangat takut tidak bisa menahan perasaannya apabila nanti mata mereka bertatapan.
Saat hendak makan siang, dilihatnya Nathasya kembali datang ke kantor. Lalu terlihat Ardi dan Nathasya keluar bersama.
Mungkin mereka akan makan siang bersama ... Hatiku terasa sakit melihatnya hiks ...
"Kinan, yuk makan siang. Laper nih," ajak Mitha.
"Kinan, Nana, Mitha ... Aku traktik makan yuk," kata Alex.
"Kalau nggak mau ya dudah," Alex melengos.
"Ayolah Alex. Siapa yang menolak sih," kata Kinan.
"Mau makan dimana kita Alex?" tanya Mitha.
"Aku ajak ke resto di gang sebelah kantor yuk. Kemarin aku makan disana rasanya mantul lho," Alex promosi.
"Siappp!" saut Nana.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju resto yang dimaksud Alex. Letaknya tidak terlalu jauh jadi berjalan kaki saja cukup.
Alangkah kagetnya Kinan saat masuk ke dalam resto. Dilihatnya Ardi dan Nathasya sedang makan di resto itu juga.
"Aduh ada Pak Bos nih, gimana?" Mitha berbisik.
"Sudahlah pindah resto aja yuk," ajak Kinan yang tidak akan tahan melihat Ardi dan Nathasya bersama.
Kinan melihat Nathasya berjalan menghampiri mereka.
"Halo ... Kinan. Masih ingat aku kan? Kita makan bersama yuk. Mejanya besar jadi muat untuk kita semua," ajak Nathasya.
"Ehm, terserah teman-teman aja. Gimana?" Kinan melihat ke arah teman-temannya.
"Ayolah jangan sungkan," Nathasya menarik tangan Kinan.
Ah sial!!! Apa aku harus melihat kemesraan mereka di depan mataku? Sial amat nasibku hiks ...
Kinan hanya pasrah duduk di depan Ardi. Dilihatnya Alex, Nana, dan Mitha juga tidak nyaman makan bersama Ardi dan Nathasya.
"Silahkan pesan saja menurut selera kalian. Nanti aku yang membayar," Nathasya menyerahkan buku menu.
Dengan terpaksa Kinan memesan makanan yang pertama dilihat matanya. Dipikirannya, dia tidak perduli akan makan apa yang penting segera selesai makan dan cepat-cepat pergi dari sini.
__ADS_1
Kinan duduk tepat didepan Ardi tapi tak sekalipun Kinan mau melihat wajah Ardi. Kinan terus menunduk berpura-pura melihat ponselnya.