Janji Di Ujung Mimpi

Janji Di Ujung Mimpi
Cemburu?


__ADS_3

Seharian ini Kinan hanya bermalas-malasan di villa. Sejak pagi, Ardi sudah berangkat ke kantor.


Kata Ardi, Kinan harus istirahat dua hari sebelum masuk kerja. Padahal hari ini Kinan sudah sehat.


Kinan hanya bolak balik memainkan ponselnya. Mengecek sosmed, baca berita, kadang mengirim pesan ke teman-temannya.


Saat sakit ini, Kinan sengaja tidak memberitahu Mama Papa maupun Kevin, kakaknya. Takut mereka kuatir, nanti yang ada malah mereka ke kota ini.


Menjelang malam hari, Ardi baru kembali ke villa.


"Halo Kinan sayang ... Kamu sudah sehat?" tanya Ardi.


"Iya, sehat banget malah," Kinan tersenyum manis.


"Kak Ardi ... "


"Kenapa?"


"Kak, aku kan sudah sehat, besok boleh masuk kerja lagi ya. Kalau kelamaan libur nanti kerjaanku menumpuk deh."


"Sudah kamu nggak usah mikirin kerjaan. Istirahat dulu disini biar badan kamu benar-benar fit. Sudahlah, aku nggak mau dengar protes kamu. Aku mandi dulu ya, baru kita makan bareng," kata Ardi tegas.


"Iya deh, besok aku disini dulu."


Huhhh ... Baru pacaran seminggu udah ngelarang dan ngatur banget. Gimana kalau udah nikah? Sebel!!!


Kinan menunggu Ardi di ruang makan.


"Kin, kok melamun? Ayo makan sekarang. Kamu masih harus minum obat kan?"

__ADS_1


"Ehm, iya Kak."


Mereka berdua menikmati makan malam. Kinan merasa aneh karena tinggal berdua saja dengan Ardi. Walaupun ada pelayan ya .... Tapi tetap saja rasanya seperti Ardi sudah jadi suaminya.


"Kin, kapan kamu mau liburan bareng sahabat-sahabatmu?"


"Mungkin dua minggu lagi Kak. Kita mau ke pulau B biar sekalian bisa ketemu Papa Mama."


"Ehm .... Aku boleh ikut nggak?"


"Hah! Kenapa? Ini kan acara cewek-cewek ... Nggak enak kan kalo aku ajak pacar sendiri. Padahal Dewi dan Chelsea masih jomblo."


"Aku nggak akan ganggu acara liburanmu. Aku hanya ingin berkenalan sama Papa Mama kamu. Habis itu paling langsung balik sini lagi. Aku nggak bisa libur lama-lama," kata Ardi.


"Oh gitu ... Gimana ya? Ya udah deh ... Boleh. Berarti ke pulau B kita berangkat bareng ya?"


"Iya. Besok kamu kasih tahu aja harinya apa, supaya aku juga bisa atur jadwalku."


"Sudah dibilang jangan panggil Bos kalo disini!" Ardi yang gemas mencolek pipi Kinan.


"Hehe ... Habisnya pas banget kalau panggil Bos."


Ponsel Kinan berbunyi tanda ada panggilan masuk. Kinan hanya melirik siapa yang meneleponnya.


"Kok nggak diangkat Kin?" tanya Ardi.


"Nggak penting kok, males."


"Memang siapa?"

__ADS_1


"Derryl. Itu lho yang pernah aku kenalin waktu pesta tahun baruan. Temennya Nathasya. Kak Ardi inget?"


"Oh iya iya, aku inget. Memang kenapa dia telpon?"


"Yah ... Mana kutahu?!"


Sebenarnya aku males bilang kalau dia mantanku tapi ...


"Angkatlah Kin! Dia telpon lagi tuh."


Kinan menolak panggilan masuk di ponselnya.


"Ehm ... Kak, sebenarnya Derryl itu mantanku. Setelah tau aku sekarang di kota ini, dia terus mendesakku buat ketemuan padahal udah aku cuekin."


"Oh ... Mantan kamu ya?"


Kok cuek sih ... Nggak cemburu ya? Ayo cemburu dong ... Biar aku seneng.


"Kak Ardi nggak cemburu?" tanya Kinan penasaran.


"Untuk apa cemburu? Kalau cuma dibandingkan dengan Derryl sudah jelas kan kalau aku jauh diatasnya?" Ardi tersenyum percaya diri.


Ih ... Pedenya kebangetan deh. Awas ya nanti kalau dia ketemu mantannya, aku juga nggak akan cemburu!


"Ih pede banget sih Kak."


"Iya dong ... Kita harus pede supaya orang nggak memandang rendah kita."


"Oh gitu ya?" Kinan hanya manggut-manggut.

__ADS_1


Masih ada sehari lagi untuk Kinan tinggal di villa ini.


__ADS_2