
Ardi menjemput Kinan di apartemen. Kinan berdandan secantik mungkin.
"Kita mau kemana Kak?" tanya Kinan saat mereka sudah didalam mobil.
"Aku mau mengajakmu ke resto favoritku."
"Tempatnya jauh?"
"Enggak, sekitar 20 menit dari sini kalau jalanan lancar," kata Ardi sambil menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Memang menu yang istimewa apa?" tanya Kinan memecah keheningan.
"Disana hidangan laut yang paling spesial. Kamu nggak alergi makanan laut kan?"
"Enggak sih, aku suka kok hidangan laut," Kinan membayangkan makanan favoritnya dan perutnya tidak bisa berkompromi.
Kriuk ... Kriuk ...
"Kamu sudah lapar Kin?" tanya Ardi.
"Haha keras ya suara perutku? Iya nih perutku jadi lapar membayangkan hidangan laut yang diceritakan Kak Ardi," ujar Kinan malu.
"Oke, aku akan mempercepat mobilnya," kata Ardi sambil menginjak gas mobil hingga melaju cepat.
Sesampainya di resto yang dimaksud, Kinan dan Ardi memesan makanan.
Tak terlalu lama makanan datang. Kinan dan Ardi menikmati makan malam mereka.
"Aduh ... Kenyang banget perutku," kata Kinan.
"Aku juga kekenyangan. Kita ini makannya banyak banget."
__ADS_1
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Ardi.
"Ardi, kamu kok disini?"
"Mama ... Papa?" Ardi terkejut melihat orang tuanya juga datang ke resto ini.
Kinan hanya bisa terpana melihat Papa Mama Ardi yang secara tak terduga datang ke meja mereka.
Ya ampun ... kenapa harus bertemu Papa Mama Kak Ardi disini sih? Semoga Kak Ardi nggak mengenalkan aku sebagai pacarnya. Bilang temen atau karyawan aja lah ... Kinan hanya bisa membatin dalam hati karena dia bingung mau berbuat apa.
"Silahkan duduk Pa Ma ... Papa Mama baru saja datang?" tanya Ardi sambil mempersilahkan duduk di meja mereka.
"Iya, tadi Papa mengantar Mama belanja dekat resto ini. Ya sudah sekalian mampir makan disini saja," jelas Pak Aris, ayah Ardi.
"Siapa ini Ardi?" tanya Mama Ardi.
"Oh kenalkan ini Kinan, pacar Ardi Ma," kata Ardi santai.
"Selamat malam Pak Aris, Bu," sapa Kinan.
"Santai saja Nak. Panggil saja saya Om Aris dan istri saya Tante Wida. Tapi kamu sudah tahu nama saya?"
"Diakan karyawan di kantor kita Pa," jelas Ardi.
"Oh begitu. Baguslah kalau begitu," kata Pak Aris.
Bu Wida, Mama Ardi, hanya memandangi Kinan. Menilai calon menantunya.
Pandangannya sedikit meremehkan dan timbul rasa tidak suka dihatinya.
Huh pacar Ardi kenapa malah pegawainya sih. Apa nggak ada wanita yang lebih selevel dengan Ardi? Kinan ini cantik sih tapi kayaknya dia hanya tertarik sama uangnya Ardi saja. Aku akan menyelidiki siapa dia.
__ADS_1
Bu Wida hanya membatin didalam hati apa yang sudah direncanakannya.
Dia merasa tidak rela jika anak satu-satunya mendapat istri yang tidak sesuai dengan kriterianya sebagai menantu idaman.
Pak Aris dan Bu Wida memesan makanan.
"Sayang sekali kalian sudah selesai makan. Seharusnya jika tadi tahu, kita bisa makan sama-sama ya," kata Pak Aris.
"Kan nggak rencana Pa," saut Ardi.
"Nak Kinan, bagaimana kalau besok kita semua makan di rumah? Sekalian supaya kita bisa lebih mengenal satu sama lain," usul Bu Wida.
"Saya senang sekali Tante. Saya pasti datang," kata Kinan.
"Bagus sekali," Bu Wida terlihat sangat senang.
Kinan ... Jangan harap kamu akan diterima dengan mudah di keluarga kami!
Makanan pesanan Pak Aris datang.
"Papa Mama, Ardi minta ijin mau mengantar Kinan pulang dulu. Takut nanti kemalaman," kata Ardi.
"Ya. Antarlah Kinan pulang," saut Pak Aris.
Kinan berpamitan pada Pak Aris dan Bu Wida.
Sesampainya di mobil, Ardi langsung meluncur ke apartemen Kinan.
"Kak Ardi, semoga Papa Mama kamu menerimaku ya," kata Kinan.
"Pastilah ... Jangan kuatir. Orangtuaku baik kok."
__ADS_1
Ardi tersenyum menenangkan Kinan.