
"Saya cuma mau bertanya, laporan yang tadi pagi saya minta nanti berikan setelah makan siang ini. Taruh di meja saya!" perintah Ardi.
"Siap Pak, setelah ini saya langsung ke ruangan Bapak," jawab Kinan.
"Saya kembali dulu ya Pak Ardi," tanpa jawaban dari Ardi, Kinan sudah berlalu meninggalkan meja kantin.
Lah ... Main pergi saja! Belum selesai bicara. Lihat saja di kantor nanti. (Ardi).
Di ruangan Ardi.
"Pak Ardi, ini laporannya. Apakah ada yang mau ditanyakan?" Kinan menampilkan senyuman manis.
"Duduk diam disitu! Saya butuh konsentrasi memeriksa laporan ini," kata Ardi galak.
"Baik, terserah Pak Ardi saja," Kinan masih tersenyum.
Kenapa juga aku disuruh duduk disini? Mana lama lagi. Kan kalau aku kembali ke ruanganku bisa mengerjakan tugasku lagi. Huufff ... Kapan selesainya?!
Hampir setengah jam lamanya, Kinan duduk di depan Ardi sambil manyun. Pikirannya sudah entah kemana.
__ADS_1
Tak lama mulutnya pun menguap. Perut kenyang, duduk diam, pikiran kosong. Jelas saja kantuk yang ada.
Hahaha ... Wajah manyunnya lucu banget. Kasihan juga sampai terkantuk-kantuk begitu. Tapi ini balasannya sudah meninggalkan aku di kantin tadi. (Ardi).
Sejam kemudian ...
Ardi meraih telpon memanggil Jimmy. Saat Jimmy masuk ruangan, Ardi menyuruh Kinan untuk kembali ke mejanya.
Akhirnya ... kenapa coba tadi hampir sejam cuma nyuruh aku duduk? Nggak ditanya apa-apa lagi. Dasar Bos aneh ... (Kinan).
Sisa hari itu dilewati Kinan dengan sukses. Kinan langsung pulang ke apartemennya karena Dewi dan Chelsea sudah menunggunya.
"Hai ... Ngapain aja kalian seharian ini?" tanya Kinan saat bertemu dengan kedua sahabatnya.
"Ya beginilah nasib karyawan, nggak bisa seenaknya. Kalian kok besok sudah pulang sih? Kesepian loh aku disini," muka Kinan dipasang memelas agar kedua sahabatnya tinggal menemaninya lebih lama.
"Yah ... Mau gimana lagi. Aku juga mesti bantu Papa," kata Chelsea.
"Iya, aku juga sekarang bantu Papa di kantor. Tapi aku akan berusaha agar bisa kerja sekantor sama kamu, Kin. Soalnya aku dengar bulan depan ada rekrutmen pegawai baru," Dewi menenangkan Kinan.
__ADS_1
"Okay deh, kalau begitu malam ini kita makan enak yuk merayakan persahabatan kita. Aku yang traktir ya," ajak Kinan.
Walaupun belum gajian, tapi Kinan punya tabungan untuk bekal hidupnya selama hidup di kota J ini.
Malamnya ketiga sahabat itu mencari restoran yang terkenal akan hidangan istimewanya untuk merayakan persahabatan yang istimewa pula.
"Kinan, kayaknya disini kan kamu belum punya temen, mending kamu cari pacar aja dari pada sendiri kan? Apalagi sekarang Derryl, mantan terindahmu kan di kota ini juga," kata Dewi.
"Iya sih, rasanya kok aku jadi jomblo ngenes begini ya hahaha ... Memang kan aku belum ada seminggu disini, jelaslah belum punya teman akrab. Tapi kalau mau balikan sama Derryl kok rasanya enggak dululah. Dia juga belum tahu kok kalau sekarang aku di kota ini. Kalian jangan kasih tau Derryl ya,"curhat Kinan.
"Jangan-jangan kamu sudah punya gebetan baru di kantor ya ... Cakep nggak?" goda Chelsea.
"Ihhh ... Gebetan apaan sih? Belum juga seminggu. Tapi suatu saat kalian mesti lihat Bosku deh, orangnya sih ganteng, keren, jomblo lagi ... Tapi super galak," Kinan menceritakan tentang Pak Ardi, bosnya.
"Hati-hati nanti jatuh cinta lho Kin," goda Chelsea.
"Hahaha ... Semoga enggak ya. Iiihhh, serem deh kalau dekat Pak Bos radius 5 meter aja serasa merinding," kata Kinan.
"Serem? Emang hantu, pakai merinding segala hahaha ... Tapi penasaran juga deh," saut Dewi.
__ADS_1
Memang saat ini Kinan, Dewi, dan Chelsea jomblo. Tidak disengaja sih kok bisa barengan jomblonya padahal kalau dilihat dari penampilan, ketiganya cantik dan menarik. Tapi karena memang belum bertemu yang 'klik' jadi mereka memilih sendiri dulu.
Obrolan tiga sahabat itu terus berlanjut sampai mereka kembali ke apartemen.