
Kinan memandangi selembar cek di tangannya dengan perasaan yang campur aduk. Antara sedih dan marah menjadi satu. Tapi lama kelamaan rasa marahlah yang menguasai hatinya.
"Tante Wida, apakah cek ini diberikan pada saya atas permintaan Kak Ardi ataukah inisiatif Tante sendiri?" tanya Kinan dengan menahan amarah di hatinya.
"Untuk apa kamu tanyakan itu? Tidak penting atas permintaan siapa. Pokoknya kamu itu harusnya tahu diri!"
"Maaf ... Saya masih sangat menghormati dan menghargai Tante Wida sebagai ibu dari Kak Ardi, orang yang saat ini saya sayangi. Jadi, ini saya kembalikan cek nya," Kinan memberikan kembali cek itu ke tangan Tante Wida.
"Haha ... Kamu tidak usah sok acting di depan saya! Apa jumlahnya masih kurang banyak?" tanya Bu Wida sinis.
"Tante Wida, mengapa sih Tante kok tidak merestui hubungan saya dan Kak Ardi?"
"Saya sudah bilang kalau saya itu tahu sekali tipe wanita seperti kamu. Tipe materialistis kan? Hanya cinta saat ada harta. Ingin menumpang hidup enak tanpa bekerja. Itu dirimu kan?"
Kinan terdiam mendengar perkataan Bu Wida yang terus mencecar dirinya dengan anggapan negatif.
Haruskah aku sekarang mengatakan kalau orang tuaku adalah keluarga yang lumayan mampu? Tapi melihat situasi saat ini, apakah Tante Wida akan percaya?
Kinan terus memutar otak agar dia segera keluar dari situasi ini tanpa menyinggung perasaan Bu Wida.
"Kenapa diam saja? Apa kamu mengakui yang saya bilang tadi? Sudahlah ... Jangan gengsi! Terima saja cek ini dan tinggalkan anak saya!" kata Bu Wida dengan wajah mengejek.
Kinan hanya diam mematung. Menahan emosi rasanya sesuatu hal yang mustahil saat ini.
Bu Wida terlihat menuliskan sesuatu di selembar cek.
"Ini! Saya sudah menambah jumlahnya. Terima saja dan saya anggap kamu menyetujui permintaan saya. Tinggalkan kantor Ardi! Saya yakin kamu mudah mencari pekerjaan di tempat lain," Bu Wida berkata lalu memaksa Kinan untuk menerima cek itu.
Dengan tangan gemetar, Kinan menggenggam cek itu. Dia ingin meremas-remas cek itu dan menyobeknya menjadi serpihan kecil. Kinan hanya memandangi cek itu dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Bu Wida meninggalkan Kinan tanpa berpamitan. Terlihat wajah penuh kemenangan saat Bu Wida meninggalkan apartemen Kinan.
Saat sudah masuk ke dalam mobil, Bu Wida meraih ponselnya dan menyentuh sebuah nama. Dering panggilan terdengar di telinganya.
Tak lama kemudian, terdengar sahutan dari seberang sana.
- "Halo Tante Wida."
- "Halo Nathasya, apakah kamu sedang sibuk?"
- "Tidak Tante. Ada apa?"
- "Bisa kita bertemu sekarang di Coffe shop? Ada sesuatu yang hendak Tante ceritakan."
- "Tentu saja Tante Wida. Sekarang saya langsung ke sana."
Bu Wida memberitahu sopir untuk mengantar ke Coffee shop yang dimaksud.
Bu Wida menceritakan semua kejadian pertemuannya dengan Kinan.
"Benarkah Kinan setuju untuk meninggalkan Ardi? Aku takut kalau nanti Kinan malah akan memeras Tante di kemudian hari," kata Nathasya.
"Tidak mungkin dia akan berani. Lagipula Tante sudah berencana agar pertunangan kamu dengan Ardi segera terlaksana. Kalau Ardi sudah menjadi milikmu, tidak mungkin Kinan bisa memeras Tante. Benarkan?"
"Aduh ... Saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih Tante Wida. Nanti malam saya akan bilang ke Papa tentang pertunangan ini," senyum Nathasya terkembang menandakan hatinya sangat gembira.
"Oke, nanti malam Tante juga akan membicarakan tentang pertunangan ini dengan Ardi."
"Tapi bagaimana dengan Om Aris? Aku kuatir Om Aris tidak setuju," kata Nathasya bimbang.
__ADS_1
"Masalah itu biar Tante yang mengurusnya. Kamu tidak usah kuatir," Tante Wida meyakinkan Nathasya.
Bu Wida dan Nathasya melanjutkan rencana tentang pertunangan dengan optimis. Keduanya tampak sangat akrab.
Sementara di apartemen Kinan ....
Apa yang harus aku lakukan? Mengapa disaat aku mulai merasakan kebahagiaan sudah menemukan orang yang sayang dan cinta sama aku, malah sepertinya ada rintangan yang berat. Sanggupkah aku untuk bisa melewatinya?
Kinan menguatkan hatinya. Ditaruhnya cek itu di meja, lalu Kinan mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
Kinan mengirim pesan ke ponsel Ardi.
- Kak Ardi, malam ini kita bisa bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.
Sambil menunggu balasan dari Ardi, Kinan pun mandi.
Air segar mengguyur tubuhnya dari kepala hingga kaki. Dia harus mendinginkan kepala maupun hatinya. Walaupun masih merasa marah, tapi dia harus menurunkan tensi emosinya agar bisa berpikir dan bertindak bijaksana.
Setelah mandi, Kinan membaca balasan pesan dari Ardi.
- Oke Kinan, jam 7 aku ke apartemenmu. Nanti aku belikan makan malam sekalian, kita makan bersama.
Ardi menepati janjinya. Datang tepat waktu dan membawa makan malam.
"Kenapa wajahmu lesu begitu? Pasti sudah lapar ya. Yuk kita makan dulu. Nih, aku bawakan ayam bakar kesukaanmu," kata Ardi saat memasuki apartemen.
Kinan hanya terdiam dan mengambil peralatan makan.
"Sudah ... Ayo kita makan dulu. Kamu ingin bicara apa? Nanti setelah makan saja ya. Aku sudah lapar," kata Ardi sambil membuka bungkusan makanan.
__ADS_1
"Iya Kak."
Kinan pun makan tanpa semangat. Dia takut memikirkan reaksi Ardi jika Kinan bercerita tentang kejadian pertemuannya dengan Mama Ardi sore tadi.