Janji Di Ujung Mimpi

Janji Di Ujung Mimpi
Penjelasan


__ADS_3

Kinan keluar ruangan Ardi dengan muka merah padam menahan malu.


Aduh ... Kacau nih. Kenapa bisa tadi aku nggak dengar Pak Jimmy dan Alex masuk ruangan? Aku mesti bilang apa sama Alex ya! Ah bikin tambah masalah aja nih.


Kinan berusaha menata emosinya untuk mengerjakan pekerjaannya hari ini. Saat jam istirahat, Mitha dan Nana mengajak Kinan untuk makan di kantin.


"Kin, ayo cepat kita ke kantin. Aku sudah lapar nih," ajak Mitha.


"Iya sabar. Yuk," saut Kinan.


Kinan mengikuti Nana dan Mitha yang berjalan cepat.


Saat sudah mendapat tempat duduk, mereka menikmati makan siang pilihan masing-masing.


Alex menghampiri meja Kinan.


"Boleh duduk disini kan?" tanya Alex.


"Iya boleh dong," saut Nana.


"Terima kasih," Alex terlihat langsung melahap makan siangnya. Namun matanya terlihat terus menatap Kinan.


Alex ingin bertanya tapi tidak berani. Alex merasa kalau Kinan ada hubungan khusus dengan Pak Ardi.


Selesai makan siang, Alex bertanya pada Kinan.


"Kinan, bisa kita bicara sebentar?"

__ADS_1


"Ada apa sih Alex? Kayaknya penting banget," kata Kinan santai.


"Kalau memang nggak penting, dibicarakan disini aja," ujar Nana penasaran.


"Nana kamu ini ingin tahu urusan orang aja. Udahlah biarin aja Alex dan Kinan," saut Mitha.


Alex hanya terlihat terbengong-bengong, bingung akan menjawab apa.


Kinan berdiri lalu mengajak Alex bicara berdua. Kinan mengajak Alex ke taman sebelah gedung kantor.


"Ada apa sih Alex?" Kinan langsung bertanya.


"Ehm ... Kinan, aku mau bertanya tapi jadi nggak enak. Nanti malah kamu mengira aku suka mencampuri urusan orang," kata Alex


"Alex nggak apa-apa kok kan kita teman. Tapi aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan."


"Maaf ya Kinan. Kamu tidak berkewajiban untuk menjelaskannya kok," ujar Alex.


"Apa?! Benarkah?" kata Alex merasa tidak percaya.


"Iya. Nana juga sudah aku kasih tahu tapi mbak Mitha belum. Sebenarnya aku ingin merahasiakannya tapi mau bagaimana lagi kalau aku sudah tertangkap basah begini," Kinan hanya bisa tersenyum.


"Wow ... Aku benar-benar tidak menyangka. Maaf ya Kinan, tapi tolong jangan bilang Pak Ardi tentang kata-kataku yang pernah mengumpat."


"Hahaha ... Tenang saja, santai saja. Lagipula aku juga sudah lupa tentang umpatanmu apa saja," Kinan tersenyum geli.


"Sudah ah yuk kita masuk kantor lagi. Jam istirahat juga sudah hampir habis," ajak Kinan.

__ADS_1


Alex dan Kinan berjalan kembali ke ruangan mereka. Dalam hati Alex merasa sedih.


Sebenarnya Alex menyukai Kinan dan berharap suatu saat Kinan akan membalas cintanya. Tapi bagai bunga yang layu sebelum berkembang. Alex harus menerima bahwa rasa cintanya tidak akan bisa berbalas karena saat ini Kinan adalah pacar bosnya. Alex tak akan sanggup jika harus bersaing dengan Ardi.


Sepulang dari kantor, Kinan langsung mandi dan bersantai tiduran di sofa apartemennya.


Kinan meraih ponselnya karena teringat akan menelpon Mama.


... Tut tut tut ...


- "Halo Kinan." Terdengar suara diseberang sana.


- "Halo Mama, bagaimana kabarnya?"


- "Baik dan sehat. Papa juga baik. Kamu sehat kan?"


- "Iya Ma, Kinan baik dan sehat kok."


- "Ada apa telpon Kin?" tanya Mama


- "Ma, kapan Mama bisa menengok Kinan disini? Kinan kangen sama Mama?"


- "Mama juga kangen banget. Tapi kapan ya? Sebentar ... mungkin minggu depan Mama bisa mengatur agar bisa menengok kamu sebentar."


"Yang benar? Asyik ... Terima kasih banget ya Ma? Sayang deh ..."


- " Mama juga sayang Kinan."

__ADS_1


Kinan pun mengakhiri telponnya. Hatinya merasa senang karena akan bertemu Mamanya.


Juga hatinya senang karena dengan pertemuan Mamanya dengan orang tua Ardi, maka mungkin masalahnya dengan Mama Ardi akan terpecahkan.


__ADS_2