Janji Di Ujung Mimpi

Janji Di Ujung Mimpi
Memaafkan


__ADS_3

Hari hari terlewati Kinan dengan bekerja dan bertemu dengan teman-temannya. Sore hari sepulang kerja, seringkali Kinan pergi ke kafe dengan Nana.


Tapi persahabatannya dengan rekan di kantor tidak sepenuhnya sahabat. Karena Kinan merasa banyak menyimpan rahasia yang harus disembunyikannya.


Latar belakang keluarga, alasan bekerja di perusahaan milik Ardi, dan juga hubungannya dengan Pak Bos mereka.


Terkadang Kinan ingin bercerita pada Nana hanya untuk sekedar menumpahkan perasaannya. Karena sahabatnya Dewi dan Chelsea berada jauh sehingga jika bercerita lewat ponsel lain sekali rasanya.


Tapi akhirnya Kinan pun bercerita pada Nana tentang hubungannya dengan Ardi.


"Nana, aku bercerita ini karena aku sangat percaya padamu. Tidak mungkin kamu akan menyebarkannya kan? Karena kalau sampai tersebar aku pacaran dengan Pak Bos maka aku harus keluar, tidak bisa kerja di kantor itu lagi," kata Kinan.


Nana hanya terdiam, pandangannya kosong seperti melamun.


"Nana, kamu kok diam aja sih?" Nana!" Kinan mencengkeram lengan Nana.


"Eh apa tadi Kin?" Nana tampak shock.


"Kamu ini lho... Ih nyebelin! Aku ngomong panjang lebar kamunya malah bengong," Kinan sebal memandangi Nana.


"Kin, aku ini baru shock. Kaget aku denger kalau ternyata kamu itu pacarnya Pak Bos. Nggak nyangka. Maaf ya Bu Bos ... Aku udah banyak bergosip tentang Pak Bos," muka Nana malah memelas melihat Kinan.


"Heh ... Kamu ini ngomong apaan sih. Aku ini lagi curhat sama kamu, kok kamu malah jadi nyebelin gini sih."


"Hehw ... Maaf ya Bu Bos."


"Stop panggil aku Bu Bos! Kamu ini memang nyebelinnya nggak ketulungan deh ... Udah ah."


"Iya iya ... Terus sekarang hubungan kamu sama Pak Bos gimana?"

__ADS_1


"Aku lagi sebel sama dia. Kemarin-kemarin seenaknya aja cuek sama aku. Biarin aja dulu lah. Besok akhir minggu baru aku mau bicara sama dia," kata Kinan.


"Kamu kok berani sih cuekin Pak Bos?"


"Nana ... Kalau di kantor Pak Ardi itu memang bosku tapi sesudah jam kerja diakan pacarku."


"Iya ya ... Haha kenapa tiba-tiba aku jadi bodoh sih? Mungkin aku terlalu shock ya."


"Nana, tapi kamu jaga rahasia ini ya jangan sampai orang kantor tahu."


"Iya Kinan calon Bu Bos. Siap laksanakan!"


"Halah ... Kamu ini! Yuk kita pulang. Udah malam nih," ajak Kinan.


"Yuk. Aku bayar dulu ya. Tadi kan aku sudah janji mau traktir kamu."


"Oke .. Terima kasih ya Nana.'


Besok aja ah aku baikan lagi sama Kak Ardi. Lagipula kayaknya benar Nathasya hanya halu dan mengada-ada. Mungkinkah Nathasya terobsesi sama Kak Ardi? Ih ... Serem juga ya ...


Kinan terus membuat skenario tentang Nathasya di kepalanya tapi lama kelamaan Kinan tertidur juga.


Esoknya saat sudah duduk di meja kerjanya, Kinan dipanggil Ardi yang meminta laporan mingguan seperti biasa.


Kinan langsung masuk ke ruangan Ardi. Menyerahkan berkas laporan dan menunggu kalau-kalau ada pertanyaan dari Pak Bosnya.


"Kinan! Kenapa sudah seminggu ini kamu belum memberi kepastian terhadapku?" kata Ardi galak.


"Maksudnya Pak?"

__ADS_1


"Kamu ini sudah lama kerja disini kok nggak naik-naik pintarnya?"


"Haaaa?"


Kak Ardi ini serius nggak sih? Sekarang kan jam kerja? Masak membahas masalah pribadi di jam kerja? Galak kayak bos aja, bukan ngomong sama pacarnya deh kayaknya.


"Maaf Pak Ardi, maksudnya hubungan kita? Kan nggak boleh membahas masalah pribadi di jam kerja," kata Kinan.


"Yang punya kantor ini siapa?"


"Pak Ardi."


"Ya kan terserah aku. Terus maumu apa? Aku sudah tidak sabar menunggu kamu!" Ardi terlihat frustasi sekarang.


"Hehe ... Iya deh aku maafin Kak Ardi. Tapi jangan diulangi lagi ya. Pokoknya aku nggak mau berurusan lagi dengan Nathasya!"


"Terima kasih Kinan, kamu mau memaafkan aku. Aku sayang kamu," Ardi berkata lalu memeluk Kinan.


"Kak! Kita ini masih di kantor. Kalau dilihat orang gimana?"


"Aku nggak perduli. Biar sekalian dilihat orang. Biar orang tahu kalau kamu ini milikku," Ardi menambah erat pelukannya.


"Kak!" Kinan berusaha melepas pelukan Ardi.


"Nanti malam aku ke apartemenmu ya?"


"Oke. Sampai nanti malam ya," kata Kinan sambil buru-buru keluar ruangan Ardi. Takut jika nanti ada yang melihat Ardi memeluk Kinan.


"Eh Pak Ardi, sampai lupa. Laporan mingguan gimana? Masih ada yang kurang?" tanya Kinan saat akan keluar ruangan.

__ADS_1


"Sudah cukup," Ardi hanya tersenyum memandang Kinan.


Hati Ardi merasa lega karena Kinan mau menerima dia kembali. Karena sebenarnya dia takut kehilangan Kinan.


__ADS_2