
Ardi menyiapkan makan malam yang spesial, membuat Kinan merasa istimewa.
"Kamu suka?" tanya Ardi.
"Suka banget lah," pipi Kinan bersemu merah tersipu malu.
Mereka berdua menikmati makan malam ditemani bintang-bintang yang bertebaran di langit.
Selesai makan, Kinan berdiri melihat taman yang ada dibawahnya. Tiba-tiba Ardi memeluk Kinan dari belakang membuatnya terlonjak kaget.
"Kin ... Maukah mulai malam ini kita pacaran saja? Rasanya aku tidak bisa menahan diri kalau kamu didekati cowok lain."
"Emm ... Kayaknya yang deketin aku cuma kamu deh Kak."
"Kin ... Aku serius! Sejak pertama ketemu kamu, rasanya kamu sudah mulai mengisi hati dan pikiranku. Dan makin kesini aku sadar kalau makin hari aku makin sayang kamu."
Ya ampun ... Secepat ini dia menyatakan isi hatinya. Aku sendiri belum tau hatiku gimana? Aku belum memikirkan perasaanku sendiri.
"Kalau kamu belum mau menjawab sekarang juga nggak apa-apa kok. Aku sabar menunggumu," kata Ardi menggenggam tangan Kinan lalu menciumnya.
"Ehm ... Kak aku mau mencoba pacaran denganmu, tapi tolong rahasiakan dulu ya dari orang kantor," pinta Kinan.
"Bener nih kita mulai pacaran?" Ardi merasa tak percaya.
__ADS_1
"Iya Kak ... Tapi bener ya rahasiakan dulu."
"Sebenarnya aku ingin agar semua orang tahu kalau kamu milikku. Jadi nggak akan ada yang deketin kamu lagi."
"Ih ... Jangan sekarang dong. Kita kan sekantor, kamu bos aku lagi. Aku nggak enak sama temen kantor."
"Iya sayang," Ardi memeluk Kinan.
Saat mereka saling berpandangan, Ardi tak bisa menahan untuk tidak mencium bibir Kinan.
Ardi mencium bibir Kinan dengan lembut dan mesra. Lama sekali sampai Ardi tak bisa mengontrol gairahnya sendiri.
"Cukup dulu ya Kak. Kalau diterusin takut ada setan lewat terus terjadi deh hal yang diinginkan. Hehe," canda Kinan untuk menetralisir gairah yang melanda mereka berdua.
"Bisa aja kamu Kin.. Tapi untuk kamu tahu aja kalau aku tidak akan melanggar batas sampai kita terikat tali pernikahan. Aku akan berusaha untuk menjaga kamu sampai saatnya nanti."
"Kayak anak kecil aja."
Meskipun cemberut akhirnya Ardi mau menautkan kelingkingnya.
"Bukan aku yang kecil tapi Kak Ardi yang ketuaan. Haha ... Memang umur Kakak berapa sih?"
"Kamu pikir berapa?"
__ADS_1
"Kayaknya udah hampir 40 tahun ya? Hahaha," Kinan meledek.
"Enak aja! Kamu pikir aku udah setua itu ya ... Umurku sekarang 29 tahun," kata Ardi.
"Iya aku tau kok. Berarti kita selisih 8 tahun dong ... Lumayan juga ya."
"Terus gimana? Sekarang setelah tahu umur kita selisih 8 tahun, kamu mau kita putus?' saut Ardi.
"Ya ampun, sensi amat sih! Baru pacaran 5 menit udah nawarin putus. Sabar hatiku ini menghadapi orang tua. Haha," Kinan malah terus menggoda Ardi.
"Kamu ini seneng banget ya menggoda orang. Nanti aku cium lho sebagai hukuman," ancam Ardi.
"Ampun Kak Ardi yang keren."
"Oh, jadi kamu mengakui kalau pacarmu ini keren?" Ardi mencolek pipi Kinan gemas.
"Iya iya, keren banget! Kak Ardi kita tidur yuk biar besok bisa bangun pagi. Aku pengen joging sambil lihat-lihat di sekitar villa sini."
"Loh ... Kamu pengen kita tidur bareng?" tanya Ardi.
"Iya, Kak Ardi di kamar Kakak, aku di kamarku sendiri gitu ... Ih ... Mikirnya kok yang enggak-enggak sih," Kinan geleng-geleng kepala.
"Iya iya sayang ... Besok aku temenin joging ya biar kamu enggak hilang," kata Ardi.
__ADS_1
"Oke."
Hehhh ... Nggak nyangka aku akan berpacaran dengan Kak Ardi secepat ini.