
Kinan menghabiskan makanannya tanpa bisa menikmati sedikit pun.
Setelah makan, Kinan membereskan peralatan makan dan mengambilkan minuman untuknya dan Ardi.
"Kenyangnya ... Oiya, tadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ardi.
"Oh ... Yang tadi ya? Kayaknya nggak jadi aja deh. Mungkin lain waktu saja."
"Tidak boleh! Kamu membuat orang penasaran saja. Tadi kamu sudah janji! Lagipula aku bisa melihat kalau ada sesuatu yang sedang kau pikirkan. Ayolah cerita."
"Tapi kamu janji ya setelah dengar ceritaku, kamu harus menahan diri. Tidak boleh marah! Bagaimana? Janji?" tanya Kinan serius.
"Haha ... Iya aku janji. Kamu serius amat sih. Memang ada apa sih Kinan sayang."
"Ih ... Kak Ardi kok nggak serius sih! Aku nggak jadi cerita."
"Aduh, kok jadi marah. Iya aku serius. Ayolah ceritakan."
"Kak Ardi, tadi sore Mamamu datang kesini," Kinan berkata pelan-pelan.
"Oh ya? Kok Mama nggak beritahu apa-apa ke aku? Mama kenapa datang kesini?" Ardi tampak heran.
Kinan mengambil selembar cek lalu memberikannya pada Ardi. "Tadi sore Mamamu memberiku ini."
"Cek? Kamu diberi Mama cek sebanyak ini? Untuk apa?" Ardi masih belum mengerti arah pembicaraan Kinan.
__ADS_1
"Mamamu memaksa memberikan cek sebanyak ini dengan kompensasi yaitu aku harus putus denganmu Kak. Juga aku harus keluar dari pekerjaanku di kantormu," Kinan berkata dengan melihat mata Ardi.
"Apa?! Mama benar berbuat seperti ini padamu?" teriak Ardi.
Kinan hanya mengangguk. Teringat kejadian tadi sore membuat hatinya kembali bersedih. Tak terasa sebutir air mata menetes di pipinya.
Ardi memeluk Kinan. Hatinya merasa marah dan tidak mengerti mengapa Mamanya bisa berbuat seperti itu pada Kinan.
"Kinan, aku sama sekali nggak menyangka Mamaku berbuat seperti ini padamu. Maaf ya sayang," kata Ardi sedih.
"Iya nggak apa-apa kok. Aku sudah merasa kalau sejak pertama Mamamu melihatku, dia tidak menyukaiku."
"Tapi kenapa? Apa alasan Mama tidak menyukaimu? Padahal yang aku lihat sepertinya Mama biasa saja."
"Enggak Kak. Kalau di depanmu memang Mamamu bersikap biasa saja tapi saat berdua denganku, Mamamu mengatakan kalau ...," Kinan tidak bisa meneruskan kata-katanya.
"Mamamu bilang kita tidak selevel karena aku hanyalah karyawan di kantor kamu. Katanya aku hanya cewek materialistis yang mengincar hartamu saja."
"Benarkah Mama bilang begitu? Tapi kenapa kamu tidak membela diri? Kamu bukan cewek seperti itu! Kamu tidak menceritakan siapa kamu?" tanya Ardi menahan marah.
"Aku tidak bisa bercerita karena Mamamu tidak akan percaya. Jadi aku pilih diam dulu dan menerima semua perkataan Mamamu."
"Baiklah kalau begitu, kita hanya perlu menceritakan siapa dirimu. Siapa orangtuamu. Dengan begitu, Mama pasti percaya."
"Iya Kak."
__ADS_1
"Ayo sekarang kita ke rumahku dan ceritakan semua tentang dirimu supaya masalah ini cepat selesai," ajak Ardi.
"Jangan sekarang Kak Ardi," saut Kinan.
"Kenapa? Aku tidak suka Mamaku sendiri merendahkan kamu Kinan ..."
"Bukan begitu Kak. Aku hanya ingin tahu apa sebenarnya yang diinginkan Mamamu."
"Maksudmu? Sudah, jangan memperpanjang ini lagi. Kita sekarang ke rumahku supaya urusannya cepat selesai," kata Ardi tidak sabar.
"Kak, kita tahan dulu amarah dan emosi kita. Aku sebenarnya agak curiga kalau Mamamu bertindak seperti ini karena ada sesuatu hal."
"Maksudnya?"
"Ya aku sendiri belum tahu pasti. Tapi tolong ... Malam ini Kak Ardi pulang dan bertemu Mama seperti biasa saja. Pura-pura tidak tahu tentang kejadian ini. Jika Mama bertanya tentang aku bilang saja kalau Kak Ardi baru pulang dari kantor dan belum sempat berkomunikasi denganku," jelas Kinan panjang lebar.
"Terus kalau aku bersandiwara seperti ini, apa yang kamu harapkan akan terjadi?"
"Aku sendiri tidak tahu pasti. Tapi tolong cobalah. Jika Mamamu diam saja, ya sudah ... Besok kita bertemu Papa Mama kamu untuk menyelesaikan permasalahan ini. Bagaimana?" tanya Kinan.
"Tapi aku mungkin nggak bisa menahan emosiku saat sudah bertemu Mama."
"Tolonglah sekali ini saja Kak ... Oke?"
"Baiklah Kinan sayang. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Aku sangat sayang kamu, Kinan," Ardi mencium pipi Kinan.
__ADS_1
"Aku juga Kak," balas Kinan mencium pipi Ardi juga.