Janji Di Ujung Mimpi

Janji Di Ujung Mimpi
Ulang Tahun


__ADS_3

Ulang tahun perusahaan akhirnya datang juga. Kinan ikut dalam kepanitiaan, jadinya dia sudah sibuk sedari pagi.


Namun sejak kemarin, Ardi belum menghubungi Kinan lagi. Kinan tidak tahu apakah hari ini Ardi akan hadir atau tidak.


Acara akan segera dimulai. Tamu undangan kehormatan sudah mulai berdatangan. Pemilik perusahaan yaitu Ayahnya Ardi sudah datang beserta istrinya tapi Ardi ataupun Jimmy, Sang Asisten, belum juga terlihat.


Pembawa acara yang bertugas sudah memulai acara. Tepat pada saat itu, Ardi dan Jimmy pun datang.


Pemilik perusahaan, yaitu Pak Aris Hermansyah, memberi pengumuman yang sangat penting.


Mulai hari ini direktur utama perusahaan adalah Ardi Hermansyah karena Pak Aris sudah menyerahkannya dan akan pensiun.


Semua yang hadir ikut gembira menyambutnya, karena semua merasakan semenjak Ardi mengambil alih mengelola, perusahaan mulai berkembang ke arah yang positif.


Saat Ardi memberi sambutan pertamanya, secara tak sengaja matanya tertuju hanya pada Kinan.


Kinan merasa banyak sekali hal yang ingin Ardi sampaikan lewat sorot matanya. Kinan sampai grogi dipandangi Ardi lama sekali.


Selanjutnya semua berjalan dengan lancar sampai akhir acara. Kinan melihat Ardi sangat sibuk meladeni tamu undangan yang ingin berbincang-bincang dengannya.


Sampai saat Kinan pulang pun, dia tidak sempat untuk bertegur sapa dengan Ardi.

__ADS_1


Sedih sekali hiks ... Padahal aku kangen banget. Cuma pengen say hello aja nggak bisa. Mau marah kok ya nggak tega. Pasti dia capek banget. Ah sudahlah ... Aku juga capek banget, mending tidur aja.


Sebelum tidur, Kinan mengirim pesan ke ponsel Ardi.


- Kak Ardi, selamat ya atas diangkatnya menjadi direktur utama. Aku ikut senang dan bahagia untuk semua pencapaianmu. Selamat beristirahat, kamu pasti sangat lelah hari ini.


Kinan tidak bisa tidur, dia bolak balik melihat ponselnya. Tapi pesannya tak juga dibalas Ardi.


Boro-boro dibalas, dibaca aja enggak ...


Karena emosi akhirnya Kinan mematikan ponselnya. Dan akhirnya dia pun bisa tidur lelap.


Paginya saat bangun tidur, Kinan merasakan kepalanya pusing dan badannya demam.


Kinan pun tidur lagi. Saat hari mulai siang, Kinan dikejutkan dengan suara orang menggedor-gedor pintu apartemennya.


Siapa lagi sih itu? Mengganggu orang tidur aja!


Kinan cuek saja tidak beranjak dari tempat tidurnya. Suara gedoran pintu pun makin lama makin keras. Akhirnya dengan menggerutu, Kinan pun membukakan pintu.


"Siapa sih ... Mengganggu aja!" teriak Kinan saat membuka pintunya.

__ADS_1


"Kin ... Kamu nggak apa-apa? Kamu bikin aku kuatir aja," Ardi menghambur memeluk Kinan.


"Eh ... Ternyata Kakak, kirain siapa tadi."


"Loh! Badanmu panas? Kamu demam? Kamu sakit ya?" tanya Ardi sambil memeriksa kening Kinan.


"Iya nih, kayaknya demam sedikit. Tapi nggak apa-apa kok."


"Nggak apa-apa gimana? Ayo sekarang kita ke dokter! Makanya dari tadi pagi aku telpon ponselmu nggak aktif. Takut kenapa-kenapa, makanya aku langsung kesini."


"Iya, ponsel aku matikan semalam. Tapi nggak usah ke dokter dulu ya, aku beneran cuma demam sedikit kok. Minum paracetamol juga pasti langsung sembuh," kata Kinan meyakinkan.


"Tidak! Pokoknya sekarang juga kita harus ke dokter!" perintah Ardi.


"Tapi ini kan minggu ... Nggak ada dokter yang praktek kak."


"Ada. Kita ke rumah sakit AB. Disana ada Om Julian, adiknya Mamaku yang bertugas disana. Ayo cepetan! Kalau nggak mau juga, aku akan menggendongmu. Mau?" ancam Ardi.


"Ih ... Iya iya, aku siap-siap dulu."


Akhirnya Kinan menuruti kemauan Ardi untuk membawanya ke dokter. Selama perjalanan, Kinan terus menggerutu tidak rela jika dibawa ke dokter.

__ADS_1


Sebel!!!! Demam sedikit doang ke rumah sakit. Bisa-bisa aku ditertawakan dokter sama perawat disana!


__ADS_2