
Pagi-pagi sekali Kinan sudah ada di dalam mobil bersama Nana. Dua hari ke depan dia dan Nana ditugaskan untuk mengikuti seminar dan pelatihan di luar kota. Perjalanan untuk sampai ke hotel tempat seminar memakan waktu hampir 4 jam lamanya.
Kinan dan Nana hanya tertidur selama perjalanan.
Sesampainya di hotel, Kinan dan Nana segera melapor pada panitia dan mereka mendapat kamar bersama.
"Untung kita sekamar ya. Kalau tidak aku bakalan ketakutan kalau sendirian di kamar hotel begini," kata Nana tersenyum lebar.
"Memang kenapa kalau sendirian?" tanya Kinan.
"Lah ... Kan hotel biasanya banyak penghuni makhluk tak kasat mata. Apalagi hotel ini kelihatan sudah lama," saut Nana sambil merapatkan badannya pada Kinan.
"Ih apa-apaan sih kamu Na! Kamu aja yang penakut. Aku nggak pernah tuh mengalami kejadian horor kalau menginap di hotel," Kinan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.
"Pokoknya kamu jangan jauh-jauh dari aku ya Kinan."
"Iya iya," kata Kinan akhirnya mengalah.
Kinan dan Nana cepat-cepat bersiap ikut sesi pertama seminar.
"Untung kita nggak telat ya," kata Nana berbisik sambil mencari tempat duduk yang dekat dengan jendela.
Kinan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kinan mendudukkan dirinya di sebelah Nana. Sambil menunggu sesi pertama dimulai, Kinan kembali teringat pesan yang dikirimkan Ardi pagi tadi.
Ardi mengatakan kalau sore ini akan menjenguk Nathasya yang katanya sakit di rumah sakit. Sebenarnya Kinan ingin ikut untuk memastikan apakah Nathasya benar-benar sakit atau hanya pura-pura saja. Tapi mau bagaimana lagi ... Dua hari ini Kinan ditugaskan dari kantor untuk mengikuti seminar.
Kinan hanya bisa berdoa agar Nathasya segera sembuh apabila dia benar-benar sakit dan ini bukan merupakan siasat Nathasya saja. Kinan merasa takut kalau Ardi akan tertipu dan akan kembali pada Nathasya lalu meninggalkannya.
__ADS_1
Sesi pertama seminar sudah dimulai. Kinan tidak bisa berkonsentrasi dan malah melamunkan Ardi dan Nathasya. Entah mengapa Kinan merasa akan terjadi sesuatu yang akan menimpa dirinya. Seperti firasat buruk. Tapi Kinan tidak bisa menjelaskan apa.
Selesai sesi pertama, Kinan dan Nana kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.
Saat sudah di dalam kamar, Kinan cepat-cepat mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Ardi.
- Kak Ardi, sore ini jadi menengok Nathasya di rumah sakit?
Bolak balik Kinan membuka ponselnya hingga saat makan malam tapi pesannya tak kunjung di balas Ardi.
Nana yang ada di sebelahnya tak banyak bertanya atau mengajak Kinan bicara karena tahu jika sahabatnya itu pasti sedang ada masalah.
"Nana, setelah makan malam kan kita sudah nggak ada sesi lagi. Aku mau langsung ke kamar aja, rasanya capek," kata Kinan seusai menghabiskan makan malamnya.
"Iya Kinan. Aku juga mau istirahat aja, capek sekali rasanya tadi setelah perjalanan jauh," saut Nana.
Kinan dan Nana langsung pergi ke kamar. Mereka berdua tidak tertarik untuk berkenalan dengan sesama peserta seminar.
- Kinan, maaf baru balas. Ini aku sudah perjalanan pulang dari menjenguk Nathasya di rumah sakit. Nathasya benar sakit tifus. Kondisinya lumayan lemah. Kamu pasti capek, selamat beristirahat ya.
Kinan berkali-kali membaca pesan dari Ardi. Pesan itu seperti tidak untuk pacar tapi hanya memberi info saja. Kinan merasa aneh karena sepertinya Ardi tidak ingin berbalas pesan dengan Kinan. Rasanya Kinan ingin menelpon Ardi tapi setelah berpikir berulang-ulang, diurungkannya niat itu.
Kinan hanya bisa menenangkan pikiran dan hatinya. Dia harus percaya pada Ardi.
Aku tidak boleh berburuk sangka dan selalu curiga. Mungkin besok saja aku telpon Kak Ardi.
Pagi esok harinya Kinan bersiap mengikuti sesi-sesi seminar hari ini yang jadwalnya padat. Sebelum masuk ruang seminar, Kinan sempat menelpon Ardi tapi tidak diangkat. Kinan hanya pasrah dan berharap nanti Ardi akan balik menelponnya.
####
__ADS_1
Sementara pagi ini di rumah Ardi, terjadi perdebatan antara Ardi dan ayahnya.
"Pa, aku tidak akan mau menikah dengan Nathasya! Kok aneh sekarang Papa memaksa Ardi begini. Padahal kan Papa tahu kalau sekarang pacar Ardi adalah Kinan," kata Ardi menahan emosi.
"Tapi sekarang keadaannya berbeda Ardi. Kamu sudah tahu kan alasan Papa ingin menikahkan kamu dengan Nathasya? Papa hanya ingin kamu lebih sukses dari Papa."
"Sukses dengan mengambil perusahaan Papanya Nathasya? Ardi tidak mau! Bagi Ardi, kita sudah lebih dari cukup memiliki perusahan kita yang sekarang," Ardi berkata sengit.
"Tadi malam kan Papa Nathasya sudah mengatakan ingin melebur perusahaannya dengan perusahaan kita. Kalau itu terjadi, kita bisa memonopoli sektor usaha ini Ardi. Kamu sadar apa itu artinya?" tanya Pak Aris, ayah Ardi dengan tenang.
"Iya, Ardi tahu itu dengan pasti. Tapi Ardi tidak mau menukar kebahagiaan Ardi hanya untuk materi."
"Bukankah Nathasya itu dulu pacarmu? Papa yakin dalam hatimu pasti masih ada sedikit rasa sayang untuk Nathasya. Papa ingin kamu memikirkan matang-matang rencana ini," kata Pak Aris tenang, berusaha memenangkan perdebatan ini.
Ardi hanya bisa terdiam, ingatannya kembali ke kejadian tadi malam saat menengok Nathasya di rumah sakit.
Nathasya tergolek lemah ditemani hanya oleh Papanya. Saat Ardi datang, Nathasya dan Papanya terlihat senang. Walaupun sakit, Nathasya berusaha memanfaatkan untuk merebut perhatian Ardi. Bermanja-manja pada Ardi di depan Papanya, karena Nathasya tahu jika Ardi tidak akan bisa menolak.
Saat itulah, Papa Nathasya mengatakan jika ingin sekali melebur perusahaannya dengan milik Ardi karena Papa Nathasya ingin segera pensiun dan menikmati hari tuanya. Namun itu semua tentu saja ada syaratnya yaitu agar Ardi menikah dengan Nathasya.
####
"Ardi, sudah jangan berpikir lama-lama. Segera menikah saja dengan Nathasya. Mama rasa Kinan itu hanya pengganggu saja," kata Mama membuyarkan lamunan Ardi.
"Sudah Ma, sekarang jangan ikut campur urusan Ardi," kata Ardi marah dan segera keluar rumah dan masuk mobilnya.
Mama Wida menggelengkan kepalanya melihat Ardi. Tapi dalam hati Mama Wida merasa senang karena sepertinya rencana Nathasya akan berhasil. Mama Wida juga sangat senang jika menantunya nanti adalah Nathasya dan bukannya Kinan yang dimatanya terlihat kampungan.
Ardi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor. Ponselnya berdering terlihat ada panggilan masuk dari Kinan. Ardi malas berbicara dengan siapapun saat ini termasuk dengan Kinan.
__ADS_1
Ardi mengerem mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Dipijitnya keningnya dengan rasa frustasi.
Apakah aku bisa memaksakan diri menikah dengan Nathasya demi suksesnya perusahaan? Tapi sekarang memang perusaahan Papanya Nathasya sedang berada di puncak. Kalau aku meleburnya dengan perusahaanku, maka aku bisa menjadi nomor satu di sektor usaha ini. Tapi ... apa aku bisa memberikan hatiku untuk Nathasya dan meninggalkan Kinan?