
Sepanjang perjalanan kembali ke villa, Kinan lebih banyak diam. Kinan hanya mau bicara dengan Dewi dan Chelsea.
"Kin, besok acara kita kemana nih?" tanya Dewi.
"Kamu ada rencana pengen kemana? Aku ikut aja. Terserah kalian."
"Chelsea ... Besok kita kemana?" tanya Dewi lagi.
"Kemana ya? Hehe bingung. Apa kita ke pantai aja ya, gimana?" Chelsea juga bingung belum ada rencana.
"Ayo lah kalo gitu. Gimana Kin?" Dewi kembali bertanya.
"Setuju! Tapi berangkat agak sore ya biar nggak terlalu panas."
"Okay. Ehm ... Kak Ardi mau ikut?" tanya Chelsea.
"Besok sore aku sudah kembali ke kota J. Karena lusa ada pertemuan bisnis yang sangat penting. Maaf ya ... Nggak apa-apa kan?" kata Ardi.
Ardi menerima telepon dari Jimmy sore tadi yang menginformasikan bahwa tender proyek diajukan dari jadwal. Ardi harus mendapatkan proyek besar ini untuk kemajuan perusahaannya.
"Sudah sampai kita. Aku mau langsung tidur ya. Rasanya masih capek," Kinan pamit pada Dewi dan Chelsea.
Kinan berjalan menuju ke kamarnya tanpa berkata sepatah katapun pada Ardi.
__ADS_1
"Kin ... Tunggu sebentar!" teriak Ardi menghentikan langkah Kinan.
"Kinan, bisa kita bicara sebentar?"
"Besok saja Kak, aku capek."
"Oke lah Kin. Kamu istirahat dulu. Besok kita bicarakan masalah ini. Aku tahu kamu marah. Maafkan aku," Ardi menyesal dan sedih Kinan marah padanya.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya dan langsung masuk ke kamarnya.
Huh ... Biarin aja. Aku memang marah kok! Biar lain kali kak Ardi nggak seenaknya membuat keputusan tanpa membicarakan dulu denganku.
Kinan yang masih merasa lelah langsung tertidur pulas.
Paginya saat Kinan sedang menikmati sarapan, Ardi duduk disebelahnya.
"Nyenyak lah ... Kak Ardi gimana?"
"Aku nggak bisa tidur. Banyak yang kupikirkan. Ehm ... Kamu masih marah sama aku?"
"Aku nggak marah sih, cuma aku nggak suka kak Ardi memutuskan sesuatu tanpa membicarakannya dulu denganku. Aku kan bukan pegawaimu. Lagian kenapa sih mau cepat-cepat menikah?"
"Iya sekali lagi maaf ya sayangku Kinan ... Aku nggak bermaksud menikah sekarang juga. Maksudku kita bertunangan dulu saja."
__ADS_1
"Tapi aku belum ingin terikat dulu Kak."
"Terus ... Kalau kamu belum mau terikat berarti kamu menganggap hubungan kita ini nggak serius?"
"Bukan begitu, tapi kita kan pacaran belum ada satu bulan. Kita belum terlalu saling mengenal dan memahami. Aku juga baru 21 tahun," jelas Kinan.
"Aku tau Kin. Tapi umurku sudah hampir 30 tahun. Sejujurnya aku ingin segera menikah dan kurasa kita cocok. Mengenal dan memahami pasangan bisa sambil jalan kan?!"
"Ah ... Pusing aku! Pagi-pagi kita udah berdebat kayak gini. Ini liburanku! Kenapa juga kak Ardi ikut malah kita jadi bertengkar kayak gini."
"Kamu yang bikin ini jadi rumit Kin."
"Loh ... Malah menyalahkan aku! Ah sudah ... aku lebih baik pergi dulu. Kak Ardi kalau mau pulang hari ini pulang aja. Aku nggak ikut mengantar ke bandara," Kinan benar-benar marah.
"Kin ... Kinan!" panggil Ardi berulang-ulang.
Kinan pergi meninggalkan Ardi tanpa menggubris teriakan Ardi yang memanggilnya.
Kinan mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan villa.
Kinan sendiri tidak tahu akan pergi kemana. Setelah agak jauh dari villa, Kinan menghentikan mobilnya.
Kinan mengirim pesan pada Dewi dan Chelsea jika harus pergi sebentar ke rumah Mamanya. Ada hal yang harus diurusnya.
__ADS_1
Rasanya emosi memikirkan pertengkarannya dengan Ardi.
Perasaan yang marah aku. Harusnya yang minta maaf kan kak Ardi? Terus kenapa sekarang malah aku yang salah? Pagi-pagi udah bikin bete lagi ... Mending aku ke rumah Mama aja. Mama kan juga kerja jadi nggak ada di rumah. Ih ... Sebel ... Liburanku jadi kacau gara-gara Kak Ardi ikut. Kirain bakal lebih seru ternyata malah bikin bete.