Janji Di Ujung Mimpi

Janji Di Ujung Mimpi
Belum berakhir


__ADS_3

Sudah agak larut malam saat Ardi sampai di hotel tempat Kinan mengikuti seminar. Ardi memarkir mobilnya dan mengambil ponselnya.


Ardi baru teringat jika tadi sebelum berangkat dirinya belum memberitahu Kinan akan kedatangannya. Ardi menyentuh nama Kinan di ponselnya bermaksud untuk menelepon, berharap Kinan belum tidur.


Agak lama barulah terdengar sahutan di telinga Ardi.


- "Halo" sapa Kinan dengan suara berat.


- "Kinan, kamu sudah tidur."


- "Iya, tapi sekarang sudah bangun kok. Ada apa Kak, malam begini telepon?"


- "Sekarang aku ada di tempat parkir hotel. Kamu bisa keluar sebentar? Aku tunggu di lobi."


- " Ba.. baiklah."


Kinan menutup teleponnya.


Kinan langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambil jaketnya karena udara malam di luar terasa sangat dingin.


Pelan-pelan Kinan keluar kamar agar tidak membangunkan Nana yang tidur sekamar dengannya.


Dalam perjalanan ke lobi, Kinan menerka-nerka apa sebabnya malam-malam begini Ardi datang menemuinya karena ia tahu jika jarak dari rumah Ardi sampai hotel ini sangat jauh.


Kinan mempercepat langkahnya hingga tak lama kemudian ia melihat sosok Ardi, orang yang sangat disayanginya berdiri di lobi melihat ke arahnya.


Saat Kinan sudah berada di depannya, Ardi tiba-tiba langsung memeluknya. Kinan pun balas memeluk namun hatinya terus bertanya akan tingkah tidak biasanya yang Ardi lakukan.


Agak lama mereka berpelukan, hingga akhirnya Ardi melepaskan pelukannya.


"Aku kangen sekali," hanya itu yang diucapkan Ardi.


Tak terasa Kinan meneteskan air matanya, tidak menyangka Ardi melakukan sesuatu yang sangat menyentuh hatinya.


Kinan tidak bisa berkata apa-apa, hanya menganggukkan kepalanya dan balas menatap Ardi lalu menggenggam tangan Ardi.


"Kita ke kafe, aku ingin mengobrol denganmu," ajak Ardi masih menggenggam tangan Kinan.


Kinan melangkahkan kakinya mengikuti Ardi menuju kafe hotel yang memang buka hingga larut malam.


Ardi memilih tempat duduk di sebelah jendela agar bisa memandang taman hotel yang asri. Hari sudah malam sehingga tidak banyak orang yang ada di kafe.


"Kinan, bagaimana kabarmu?" tanya Ardi memandangi Kinan dengan tatapan sayang.


"Aku baik Kak. Kenapa tidak memberitahuku dulu kalau Kak Ardi mau datang kesini?"


"Aku juga nggak rencana akan kesini. Tiba-tiba aku merasa kangen sama kamu jadi ini spontan aja," kata Ardi sambil memandangi wajah Kinan.


Kinan yang terus menerus ditatap Ardi malah jadi salah tingkah.


"Kak Ardi jangan lihat aku terus dong ... jadi malu nih," Kinan tersenyum malu.


"Kamu kalau semakin dilihat makin kelihatan cantiknya."

__ADS_1


Ardi dan Kinan menikmati secangkir kopi malam itu. Keduanya merasa semakin sayang satu sama lain. Rasa cinta pun terasa makin dalam di hati keduanya.


"Kak Ardi, sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan ya," Kinan memandang kedua mata Ardi mencari jawaban di sana.


Ardi hanya menganggukkan kepalanya dan akhirnya dia pun bercerita tentang semua yang terjadi selama dua hari ini.


Tentang Nathasya yang sakit ... tentang tawaran Papa Nathasya untuk merger perusahaan.


Kinan hanya bisa menarik napas dalam dan tidak menyangka semua ini terjadi. Namun Kinan juga merasa kasihan pada Nathasya. Untung saja penyakit Nathasya cepat diketahui sehingga kemungkinan sembuh sangat besar.


Kinan pun merasa lega karena Ardi mengambil keputusan untuk memilihnya daripada Nathasya. Tapi masih ada lagi rintangan yang harus dihadapi Kinan yaitu restu dari orang tua Ardi.


Hingga lewat tengah malam Ardi dan Kinan saling bertukar cerita. Asyik mengobrol membuat mereka lupa waktu.


"Kak Ardi lebih baik menginap saja disini. Sudah tengah malam, bahaya kalau memaksakan diri untuk pulang. Menyetir mobil sendiri lagi," kata Kinan yang kuatir akan Ardi.


"Benar juga katamu. Aku sangat lelah seharian ini banyak yang harus aku kerjakan. Apa kamu mau menemani aku kalau aku tidur di hotel ini?" goda Ardi.


"Haisss ... bercanda aja nih Kak Ardi. Sudah yuk kita ke lobi. Semoga masih ada kamar kosong. Aku temani ya," ajak Kinan.


Kinan menemani Ardi pergi ke lobi hotel. Untung saja masih ada kamar yang kosong sehingga malam ini Ardi pun bisa menginap di sana.


Ardi mengantar Kinan sampai depan pintu kamar dan Ardi pun pergi ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.


##


Esok harinya Kinan tetap mengikuti seminar dan pelatihan sesuai jadwal yang ditentukan. Di sela-sela istirahat, Kinan pun berbalas pesan pada Ardi.


Ardi mengatakan kalau akan menunggu Kinan sampai selesai seminar sore nanti. Saat ini Ardi hanya bersantai di kamarnya.


"Kinan, benar kamu tidak pulang bareng aku?" tanya Nana saat keduanya sibuk memasukkan baju-baju ke dalam travel bag.


"Kamu pulang ikut mobil perusahaan ya? Aku sudah dijemput kok jangan kuatir," kata Kinan.


"Siapa yang jemput? Pak Ardi ya?" tanya Nana penasaran.


"Hehe ... iya," Kinan hanya senyum-senyum malu.


"Oke deh, aku nggak bisa protes apa-apa deh kalau begini," kata Nana pasrah.


"Maaf ya Na," Kinan merasa tidak enak hati.


"Aduh ... nggak apa-apa lah Kinan. Kalau aku punya pacar pasti dia juga akan menjemput aku. Tapi sayangnya aku masih jomblo."


"Sabar Na, sebentar lagi pasti kamu juga akan punya pacar. Ada tuh di kantor yang selalu curi-curi pandang sama kamu," kata Kinan menggoda Nana.


"Siapa memangnya? Kok aku nggak menyadarinya?"


"Masak kamu nggak tahu? Itu lho si Alex ... kayaknya dia ada hati lho sama kamu," Kinan berusaha menjodohkan sahabatnya.


"Masak sih? Ah kamu ini cuma menggoda aku aja ya. Mana mungkin Alex suka sama aku? Kan selama ini aku dan Alex sahabat aja."


"Ya sudah kalau nggak percaya," kata Kinan akhirnya.

__ADS_1


Aku akan berusaha mendekatkan Nana dan Alex. Semoga mereka sama-sama jatuh cinta. Kata Kinan dalam hati.


Kinan dan Nana meninggalkan kamar hotel yang mereka tempati. Nana segera pergi ke tempat parkir karena sudah ditunggu mobil penjemputnya. Sedangkan Kinan duduk di lobi hotel menunggu Ardi di sana.


Tak berapa lama, Ardi menghampiri Kinan dan keduanya langsung naik mobil milik Ardi.


"Kita langsung pulang Kak?" tanya Kinan saat sudah berada di dalam mobil.


"Iya. Memangnya ada tempat yang ingin kamu datangi?" Ardi balik bertanya.


"Enggak ada sih. Yuk kita langsung pulang aja."


Kira-kira 4 jam lamanya perjalanan menuju rumah. Kinan menawarkan diri untuk bergantian menyetir mobil namun Ardi tidak mau.


"Kinan, kita makan dulu saja. Perutku sudah lapar," kata Ardi. Karena memang sudah waktunya makan malam.


"Oke, aku juga sudah lapar."


Ardi membelokkan mobilnya di salah satu resto yang terlihat cukup ramai. Keduanya makan dengan lahap.


Selesai makan, Ardi dan Kinan melanjutkan perjalanan.


Saat sudah hampir sampai di rumah Kinan, ponsel Ardi berbunyi tanda ada telpon masuk.


Ardi melihat layar ponselnya dan ternyata Papanya lah yang menelpon.


- "Ardi, sekarang kamu ada dimana?"


- "Ardi sedang mengantarkan Kinan pulang. Ini sudah hampir sampai. Ada apa menelpon Pa?"


- "Cepat kamu langsung pulang. Ada hal penting yang harus Papa bicarakan."


- "Baik Pa."


Ardi menutup telponnya, bertanya-tanya dalam hati hal penting apakah yang ingin dibicarakan Papanya.


Sesampainya di apartemen Kinan, Ardi langsung pamit pulang. Kinan pun mengerti walaupun sebenarnya ia masih ingin bersama Ardi.


##


Ardi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ingin segera sampai di rumah.


Saat sudah sampai rumah, Ardi cepat-cepat memarkir mobilnya dan masuk ke dalam rumah.


Saat melihat ke kursi tamu, Ardi kaget melihat tamu yang sedang duduk di sana ditemani Papa dan Mamanya.


"Selamat malam Pak Dirga," sapa Ardi sopan menyembunyikan kekagetan.


"Selamat malam nak Ardi," saut Pak Dirga, ayah Nathasya.


Ada apa lagi Papanya Nathasya datang kesini? Bukankah seharusnya hari ini mengantarkan Nathasya ke Jepang untuk pengobatan?


Ardi bertanya dalam hati tentang kedatangan Pak Dirga malam ini.

__ADS_1


Ardi bergantian memandangi Papa dan Mamanya namun mereka hanya diam. Sedangkan saat Ardi memandang wajah Pak Dirga, entah mengapa Ardi melihat senyum kemenangan di sana.


Sebenarnya ada apa ini?


__ADS_2