
" Lia !!! " pekik Dara yang sore itu benar benar melakukan niatnya untuk menemui saudara perempuannya . Tadi dia sempat mencari keberadaan Lia dan salah satu teman yang sedang berjaga di bawah mengatakan jika gadis itu sedang beristirahat di mess yang ada di lantai atas .
Odelia segera bangkit dari ranjangnya ketika mengetahui kedatangan Dara . Beberapa saat mereka saling memeluk untuk melepas rindu . Dara yang jarang sekali di ijinkan untuk pergi keluar negeri oleh kedua orang tuanya menjadikannya jarang bertemu dengan saudara saudara sepupunya yang lain . Kadang Lia , Via ataupun Noah yang akan mengunjunginya jika musim liburan tiba .
Dahi Lia mengernyit ketika melihat sebuah koper besar milik Dara yang ada di luar pintu kamarnya . Mungkin koper itu tadi di bawa oleh salah seorang penjaga gadis itu .
" Kau membawa kopermu kesini , apa itu artinya kau akan benar benar menginap denganku disini !? "
" Apa kau keberatan ? Aku tidak akan merepotkanmu , aku janji !! " kata Dara yang tahu jika gadis cantik di depannya adalah pribadi yang sangat mandiri dan punya banyak kesibukan .
" Aku senang bertemu denganmu , tapi untuk menginap bersamaku disini aku rasa bukan ide yang baik ! Kau lihat sendiri jika kamar ini sangat sempit ... " tunjuk Lia pada kamarnya yang hanya berukuran 3 x 3 meter dan itu pun di isi oleh dua buah ranjang bertingkat . ltu artinya ada empat orang yang tinggal di kamar itu .
Lia tahu dari kecil Wicaksono dan Violetta sangat memperhatikan kenyamanan hidup putri mereka satu satunya . Hanya yang terbaik yang akan didapatkan oleh seorang Anandara .
" Ada hotel disebelah galeri ini , nanti aku akan antar kau untuk menginap disana . Bukan aku tidak mau kau bersamaku disini , tapi mess ini tidak terlalu nyaman untukmu . Kau bisa mengunjungiku setiap waktu disini , dan akupun bisa mengunjungimu ke sana jika sedang break " kata Lia membiarkan Dara merebahkan diri di salah satu ranjang di ruangan itu .
Dara hanya mengangguk tanda dia mengerti , dia juga merasakan kasur yang ia tempati sedikit lebih keras dan tidak nyaman untuk beristirahat . Kadang ia ingin melampaui batas yang di berikan pada orang orang yang rasanya terlalu berlebihan memperhatikannya , Dara ingin lebih mandiri seperti saudara saudaranya yang lain . Tapi pada kenyataannya dia tak bisa keluar dari zona nyaman yang selama ini melingkupi hidupnya .
__ADS_1
" Kau sudah bertemu dengannya ? "
Dara langsung menoleh ketika Lia menanyakan tentang hal itu , pandangannya memicing penuh tanya karena setahunya kemarin dia hanya mengabarkan jika akan pergi ke London untuk melihat pameran yang diadakan oleh komunitas Odelia .
" Jangan menatapku seperti itu Dara , dari dulu kau tidak pandai menyembunyikan sesuatu . Satu pesanku , apapun yang akan kau lakukan kali ini aku minta jangan pernah memforsir tenagamu . Jalani dengan santai tanpa tekanan ... "
" Aku tahu , terimakasih atas perhatianmu . Tadi aku sudah bertemu dengannya sebentar untuk membicarakan kontrak mengenai pekerjaan baruku "
" Sebentar ? "
Lia mengangguk dan teringat dengan kejadian siang tadi , saat dia beradu argumen dengan pria yang sangat ia rindukan itu . Sebenarnya ia tahu jika gadis muda siang tadi bukanlah kekasih Jero , tapi ia cemburu karena pria itu selalu saja menjadi perhatian semua kaum hawa yang ada di sekitarnya .
Apalagi gadis muda yang tadi ia lihat jauh lebih cantik darinya , sangat terlihat jika gadis itu sangat merawat dirinya . Semua barang yang menempel ditubuhnya pun adalah barang branded . Sedang dirinya hanya akan pergi merawat diri jika ia memang benar benar sempat untuk melakukannya . Dan dia bukan tipe wanita pemilih untuk batang yang menempel ditubuhnya , selama ia suka dan nyaman maka barang murah pun tak akan pernah menjadi masalah .
" Mommy bilang dulu dia menyukaiku , dia selalu bermain denganku saat Daddy berkunjung di mansion Adipraja "
" Ya , Aunty Violetta dan Mommy juga pernah bercerita tentang itu . Uncle Wicaksono sampai sekarangpun masih menjadi tangan kanan empat pilar ! " sahut Odelia , dia tahu dari dulu gadis itu sangat berharap masuk menjadi keluarga Adipraja . ltu sebabnya Dara langsung menerima tawaran Aira walau sempat tahu dengan kemampuannya .
__ADS_1
" Sekarang mumpung belum terlalu malam aku antar kau ke hotel sebelah . Tadi Aunty juga sempat menanyakan keadaanmu saat tahu kau keluar dari hotel yang ada di dekat bandara "
" Ckk ... aku bukan anak kecil lagi ! Aku bisa bertahan disini " rengek Dara yang ingin memaksakan diri di kamar sempit itu .
" Kau pikir ini medan perang ? Sampai berpikir tentang bertahan .... ayo aku bantu bawa kopernya ! Untuk malam ini aku akan menemanimu bermalam disana jika kau takut sendirian "
" Yeayyy ... kau saudara terbaikku Lia !! "
Akhirnya mereka turun dan berjalan ke arah hotel yang tepat ada disamping galeri tempat mereka mengadakan pameran . Saat melewati lobi hotel dahi Lia mengernyit ketika melihat gadis yang siang tadi memicu pertikaiannya dengan Jero sedang duduk dengan seorang pria . Sangat terlihat raut ketakutan di wajahnya .
Dan gadis itu mengikuti langkah sang pria , sepertinya mereka akan naik ke atas . ltu artinya mereka menyewa salah satu kamar di hotel itu . Dan Lia sedikit terkejut ketika samar melihat bekas luka di tangan dan kaki gadis itu karena setahunya kemarin luka itu belum ada . Walau bekas luka itu sudah berusaha ditutupi dengan foundation tebal tapi tetap saja masih bisa terlihat olehnya .
Dan mata gadis itu seperti sedang memohon padanya ketika mereka beradu pandang . Lia tahu jika gadis itu tidak sedang dalam keadaan baik baik saja .
" Lia ... apa kau mengenalnya ??! "
" Aku rasa iya , sepertinya aku pernah melihatnya " jawab Lia yang kemudian berlalu menuju ke kamar sesuai dengan nomor kartu yang di bawanya .
__ADS_1