
Benar saja , malam itu Jeronimo bermalam di kantornya sendiri . Walaupun kamar pribadinya yang ada di kantor tidak seluas kamar yang di apartemen tapi pria itu masih bisa menikmati istirahatnya disana .
Bungsu dari generasi kedua pilar Adipraja itu menatap bintang bintang bertebaran dari dinding kaca kamar yang ada di lantai sepuluh kantor miliknya . Sebentar lagi dia melewati dua tahun penantiannya . Rindunya sangat membuncah tapi jauh di lubuk hatinya dia masih ragu . Jero masih ragu apakah seorang Odelia Al Shama akan menerima kembali cintanya , apakah hati wanita itu masih terikat padanya dan apakah akhirnya mereka bisa bersatu .
Apalagi selama dua tahun ini Lia sama sekali tak pernah sekalipun berusaha untuk berkomunikasi dengannya . Dari semua postingan di media sosialnya gadis pemilik hatinya terlalu sibuk dengan kegiatan sosial dan pameran pameran seninya . Sepertinya dia tak pernah berarti apa apa bagi gadis itu .
Sampai akhirnya lamunannya buyar karena suara notifikasi pesan di ponselnya . Dia hanya berdecak ketika membaca dari siapa pesan itu terkirim .
" Vania .... mau resehin apalagi itu anak !! " gumamnya tanpa membuka pesan gambar yang dikirim istri dari sulung generasi kedua klan Adipraja , Gema Aksa .
Jero tahu jika Vania pasti mengirimkan gambar kemesraannya dengan sang suami , karena saat ini pasangan itu sedang mengadakan bukan madu kedua pernikahan mereka . Kesibukan membuat pasangan itu ingin mempunyai lebih banyak waktu untuk berdua .
Setelah meletakkan ponselnya di nakas Jero merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang, hingga tak terasa ia memejamkan matanya dan kemudian tertidur .
__ADS_1
*
" Apa kau tidak lelah ? " tanya seorang gadis pada temannya , saat ini mereka sedang berada di dalam sebuah bangunan megah tempat pelukis terkenal dari berbagai negara mengadakan pameran . Galeri seni itu berada di pusat kota London .
" Ckk kenapa harus bertanya ?! Tentu saja lelah , bukankah kau juga merasakan hal itu ? Menyiapkan pameran seni bukanlah hal yang mudah " decak gadis yang berada di depannya , seorang gadis cantik dengan kulit eksotis yang tampak tetap begitu cantik walau tanpa polesan apapun pada wajahnya . Kesibukannya pagi ini membuatnya lupa untuk sekedar mempercantik diri seperti gadis gadis lain .
" Bukan itu , kau tahu benar apa yang aku maksud . lni London Nona .... jika kau mau dalam hitungan menit dia bisa datang untuk menemuimu ! Come on .... ini sudah dua tahun " kata Elda yang tahu jika Odelia tidak pernah suka jika ia membicarakan pria yang masih menguasai hati gadis itu .
Tapi tidak salah jika Jero melakukan hal itu karena dulu dia sendiri yang meminta waktu dua tahun untuk tidak bertemu . Dia sendiri yang meminta waktu untuk berpikir dan mendewasakan diri . Tapi nyatanya rasa rindunya sangat menyiksanya , dia bahkan tak berani membuka media sosial milik Jero atau apapun yang bisa menampilkan wajah tampan itu . Odelia takut jika melihat kembali wajah itu maka hatinya semakin tersiksa .
Ada kalanya dia berharap Jero menjadi pembangkang dengan tiba tiba muncul di depannya dan mengatakan rasa rindunya . Tapi harapan hanyalah tinggal harapan , jangankan menemuinya semua postingan yang ia pasang di media sosial miliknya pun tak pernah mendapat tanggapan dari bungsu kesayangan keluarga Adipraja itu .
Sampai siang menjelang dua gadis itu masih disibukkan dengan urusan mereka . Hingga suara perut mereka mampu membuat kegiatan mereka terhenti .
__ADS_1
" Kau tak dengar suara demo di perut kita ? Sebaiknya kita segera pergi ke kafe atau restoran terdekat atau kau akan melihatku pingsan karena kelaparan ! " ujar Elda yang ditanggapi tawa oleh Odelia , gadis cantik sahabatnya itu bisa menahan segalanya ... kecuali lapar .
Elda adalah sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri , apalagi setelah pernikahan Olivia dan Albert beberapa bulan yang lalu . Sejak saat itu Olivia jarang curhat seperti biasanya , tentu saja karena semua yang di inginkan saudarinya itu sudah sepenuhnya tercapai yaitu menjadi istri dari psikiater tampan yang pernah menjadi dokter pribadinya .
Akhirnya mereka mencari restoran terdekat yang ada di sekitar galeri seni tempat mereka beberapa hari ke depan mengadakan pameran .
" Gila ... ini kafe mungil termewah yang pernah gue lihat ! Sepertinya ini akan sedikit memeras kantong kita " gumam Elda dengan mata kagum menatap setiap sudut kafe yang terlihat indah dan elegan . Penataan utang tidak berlebihan tapi sangat nyaman untuk untuk ditempati .
Setelah memesan makanan Elda dan Odelia meneruskan pembicaraan mereka tentang pameran seni yang diadakan komunitasnya di negeri ini . Tapi pembicaraan mereka terhenti ketika Odelia merasakan seseorang menepuk pundaknya dari arah belakang . Dan matanya menyipit ketika melihat seorang wanita cantik dan seorang pria tampan dibelakangnya .
" Vania ... Revania Alvaro ??! "
" Hai cantik !! "
__ADS_1