
" Prabu mana sayang ?? " tanya Janu pada istrinya yang terlihat menyusulnya masuk ke kamar . Rencananya siang ini para wanita Adipraja ingin jalan jalan mengelilingi kota kota indah di Dubay , sedang para pria akan berkunjung di perusahaan Al Shamma yang ada di pusat kota .
Aira , Diva , Nayya dan para menantunya awalnya ingin membantu untuk perencanaan perayaan pernikahan Jero dan Odelia di sanggar tapi Jasmine melarangnya dengan alasan jika tidak ingin membuat semuanya lelah . Jasmine dan menantunya sendiri yang merancang semuanya tanpa terkecuali .
" Prabu pergi sama Ayah dan Kak Gema , katanya sih mau muter muter kota ! " jawab Ava yang langsung merebahkan tubuhnya di ranjang . Acara hari ini memang membuatnya sangat lelah , apalagi ia kewalahan karena putranya sangat aktif bergerak dan bermain . Walau semua saudaranya ikut membantu mengawasi tapi tetap saja ia tak bisa mengalihkan perhatiannya pada putra semata wayangnya itu .
Janu mendekat dan mulai memijit punggung istrinya yang berbaring tengkurap . Dulu ayah mertuanya pernah mengultimatum agar dia tidak membuat Ava hamil , tapi waktu itu ia lupa segalanya . Sampai sekarang pun ia masih menggila jika berada di dekat istri kecilnya . Ava ternyata mampu menjadi ibu yang baik walau usianya masih sangat muda .
" Tadi kamu sama istri Kak Gema menemui pelayan itu ?? "
__ADS_1
" He em " jawab Ava singkat karena pijatan tangan sang suami membuatnya terbuai . Janu Kamma selalu berusaha membuatnya nyaman walaupun dengan hal hal kecil seperti ini , dan itu yang membuat Ava semakin mencintainya .
" Ngaku ?? "
" Enggaklah ... Mana ada penjahat yang ngaku , cepat tamat nanti ceritanya "
Beberapa saat kemudian ia sudah mendengar nafas teratur istrinya , wanita cantik itu sudah ada di dalam mimpinya . Perlahan dibelainya rambut hitam panjang istrinya , diraihnya ponselnya ketika mendengar bunyi beberapa notif pesan terkirim padanya . Ternyata Gema mengirim gambar gambar putranya yang sedang makan es krim bersama ayah mertuanya .
Sebuah gambar yang pasti akan membuat Ava marah karena sudah berulang kali wanitanya mengeluarkan ultimatum untuk tidak membelikan putranya es krim . Prabu tidak akan bisa berhenti jika makan es krim . Dan cerita cerita kecil seperti inilah yang membuat dua tahun hidupnya terasa lebih berwarna . Keluarga besar yang dikenal angker dan dingin di luaran sana ternyata semenyenangkan ini .
__ADS_1
Dua jam ke depan dia dan ke empat ayahnya akan berkunjung ke perusahaan Al Shamma , dan sebuah kunjungan yang mungkin akan menghasilkan sebuah kerjasama baru lagi antara dua perusahaan raksasa . Untuk mengusir waktunya Janu berniat pergi ke balkon kamarnya untuk sekedar membaca berita bisnis dalam ponsel pintarnya , lagipula ia tidak ingin mengganggu istirahat istri cantiknya .
Tapi ketika tangannya ingin menggeser pintu kaca penghubung balkon Janu melihat Albert juga sedang ada di balkon kamar , dia baru sadar jika kamarnya dan kamar pria itu bersebelahan .
Dahi Janu mengernyit ketika melihat arah pandang pria itu , jelas jelas pria itu sedang memandang ke arah area kolam renang . Padahal tempat itu sudah sangat sepi karena semua keluarga sudah kembali ke kamar mereka masing masing . Hanya ada beberapa tamu yang terlihat duduk di kursi santai yang ada di pinggiran kolam .
Entah matanya salah melihat atau tidak , tapi ada sorot kesedihan dan keputusasaan disana . Janu berpikir jika Albert sangat menguasai semua tentang ilmu psikis , mungkin itu yang menjadikannya sebagai pemain watak yang hebat . Tidak mudah menebak apa yang ada di otaknya , mungkin saja itu yang membuat semua niat buruknya terbungkus sangat rapi .
Tapi entahlah ....
__ADS_1