
Tiga hari berada di rumah sakit membuat Lia menjadi bosan , gadis itu berkeras ingin pulang karena merasa pundaknya sudah baik baik saja . Sedang kedua orang tuanya sudah kembali ke Dubay karena Abbio tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama . pria itu juga ingin memberikan waktu calon menantunya untuk lebih mengenal putri bungsunya .
" Kak tidak bisakah kita pulang sekarang saja ? Bukannya dokter sudah mengijinkan aku pulang kemarin ? "
" Bukan tidak boleh sayang , tapi kita akan pulang setelah jam besuk dokter siang ini . Aku ingin memastikan sekali lagi jika kau sudah tidak apa apa " jawab Jero datar , pria itu sedang serius melihat layar laptopnya . Sengaja ia bawa agar bisa sekaligus bekerja ketika sedang menunggui kekasih hatinya .
Jawaban itu terdengar sangat menyebalkan untuk Lia , dia merasa seperti balita yang ditempatkan di rumah sakit jika terus terusan menuruti kemauan calon suaminya itu . Saat seperti ini Lia teringat pada sang sahabat . Diraihnya ponsel yang ada di atas nakas , sudah berkali kali ia mengirim.pessn pada Elda tapi sahabatnya itu tidak pernah membalasnya .
Sudah dari sejak ia berada di rumah sakit Elda belum menemuinya , dia mengetahui jika Elda menolak untuk dipulangkan ke Dubay karena mendapat laporan dari tangan kanan suaminya . Ryota mengatakan jika Elda masih ada di kota ini , dia masih mengurus pameran yang hanya tinggal tiga hari lagi berlangsung .
" Jika kita sudah menikah apakah aku masih boleh melukis ?? Bisakah aku mengikuti sebuah pameran yang mungkin mengharuskan aku untuk pergi jauh darimu ?? Kau tahu Kak jika melukis adalah sebuah spirit untuk hidupku "
Jero tak menjawab langsung tapi ia kemudian menutup laptopnya dan berjalan mendekat ke arah ranjang dimana calon istrinya sedang berbaring . Gadis itu memejamkan matanya ketika wajah Jero tiba tiba mendekat ke arah wajahnya , ia tahu jika pria itu ingin menciumnya .
__ADS_1
Benar saja , sebuah kecupan lembut mendarat di kening , hidung , dan bibirnya . Lain halnya di kening atau hidung kali ini Jero lebih nakal dalam bermain dengan bibir calon istrinya . Mereka saling memagut dalam waktu yang tidak sebentar , suara cecapan dan geraman kecil menghiasi setiap sudut kamar itu . Dan tanpa mereka sadari jika dua manusia sedang berdiri di depan pintu kamar rawat tanpa berani melangkahkan kakinya ke dalam karena takut mengganggu kegiatan panas mereka .
" Sayaaaannggg .... "
Tautan lidah mereka terlepas ketika masing masing sudah kehabisan nafasnya , kening mereka bertaut dengan masih mencoba mengatur nafas yang tersengal sengal . Dengan senyumnya Jero menyapu bibir Lia untuk membersihkan sisa saliva akibat permainan bibir mereka .
" Aku menikahimu karena aku mencintaimu ... sangat mencintaimu ! Aku tidak akan mengikatmu dengan aturan aturan yang akan membuatmu merasa tidak nyaman untuk berada disisiku . Tapi aku minta kau tahu batasannya , hanya itu ! " sekali lagi Jero mengecup lembut bibir kemerahan itu sebelum melihat ke arah pintu karena sudut matanya sempat menangkap bayangan seseorang di pintu masuk .
" Boleh kami masuk ?? "
" Kak Olivia !!! " pekik Lia dengan merentangkan dua tangannya lebar lebar , dia sempat berdecak ketika Jero menahannya yang ingin turun dari ranjang untuk berlari menyambut dua tamu istimewanya .
Odelia dan Olivia saling memeluk cukup lama , sedang Jero memeluk sekilas calon saudara ipar yang dulu merupakan rivalnya untuk mendapatkan Odelia . Ya , Albert pernah mempunyai rasa untuk seorang Odelia . Pria itu kagum saat melihat kecantikan dan kemandirian Odelia , gadis itu juga rela melakukan apapun untuk kebahagiaan saudari kembarnya yang waktu itu menginginkan Jero .
__ADS_1
Walau terlihat bersiap biasa tapi tak bisa Jero pungkiri jika ada rasa tidak suka ketika melihat pandangan Albert kerja melihat calon istrinya . Entah , tapi naluri prianya mengatakan jika Albert masih mempunyai sebuah rasa untuk Odelia .
" Hai kapan kalian datang !? " tanya Lia setelah sempat menjabat tangan Albert .
" Barusan kami tiba dan Albert memaksa langsung ke rumah sakit untuk melihatmu . Kami sangat mengkhawatirkan dirimu Li ! " kata Olivia dengan suara khasnya yang sangat lembut .
" Terimakasih, tapi dia sudah menjagaku dengan sangat baik ! " tunjuk Lia pada Jero hingga pria itu kembali mendekat dan mendekapnya erat .
" Kurasa kita datang pada waktu yang salah sayang , calon pengantin di depan kita sepertinya sudah sangat tidak sabar !! " kata Albert dengan nada yang terdengar bercanda , tapi Jero tetap saja tidak menyukai setiap kata yang meluncur dari bibir mantan rivalnya itu .
" Jika begitu kalian boleh pulang sekarang !! Aku memang sedang tidak sabar untuk kembali menciumnya saat ini . Aku rasa kalian tidak mau melihat ini secara live bukan !? Awwsshhh ... sayang !! "
Lia mencubit perut Jero gemas , perkataan pria itu kadang terlalu terasa vulgar di telinganya .
__ADS_1
" Dia memang senang bercanda Kak , jangan didengarkan ! Kami senang kalian bisa datang untuk menjengukku , terimakasih .... "
" Aku tahu "