
" Kau !!??? "
Jero langsung berdiri ketika wanita cantik yang Ryota katakan akan menjadi ikon perusahaan itu berjalan mendekat padanya . Gadis itu adalah putri dari sahabat baik Daddynya , anak didik dari pilar kedua sekaligus pernah menjadi tangan kanan pilar pertama .
" Hai Kak Jero ?? Nice to meet you ... "
" Dara ... kau Anandara Wicaksono !? " gumam Jero yang seakan tak percaya pada penglihatannya .
Gadis cantik itu adalah putri satu satunya dari Wicaksono dan Violetta Al Shamma . Walaupun Wicaksono berteman baik dengan Daddynya tapi mereka sangat jarang bertemu karena menantu Al Shama itu memutuskan hidup tenang di kota kelahirannya , Jogjakarta .
Jero tidak terlalu mengenal Anandara karena gadis itu sangat jarang berkunjung ke keluarga Adipraja . Tidak seperti orang tua lain yang ingin anak mereka bersekolah di luar negeri , Wicaksono dan Violeta menyekolahkan putri mereka di dalam negeri karena berpikir universitas di negeri sendiri tak kalah hebat dari negara lain . Mereka pun mendidik putrinya untuk menjadi pribadi yang santun dan sederhana .
" Ya ... Aku Anandara Wicaksono ! Aku tahu kau akan lupa padaku , siapa yang akan mengingat gadis desa sepertiku ?! " kata Dara ramah ketika Jero menjabat tangannya .
Beberapa minggu yang lalu saat dia datang ke Bandung bersama teman temannya secara tak sengaja dia bertemu dengan istri pilar pertama . Waktu itu Aira Prameswari sedang mengunjungi salah satu kafenya yang ada disana , sedang Dara dan teman temannya sedang berada di kafe untuk makan siang .
__ADS_1
Wajah Dara yang sangat mirip dengan ibunya membuat Aira mudah mengenalinya , dan tanpa disangka Dara malah diminta untuk menjadi brand ambassador jaringan restauran dan kafe milik Aira yang sekarang sudah diwariskan pada Jeronimo .
Awalnya Dara menolak karena dunia modeling bukanlah dunianya . Tapi ketika Aira mengatakan jika Jeronimo yang mengurus usaha restauran dan kafe , Dara langsung menyetujui permintaan wanita itu . Sudah lama ia mengagumi semua sosok dari para pewaris Adipraja khususnya putra dari sahabat ayahnya .
" Jangan merendah , aku dengar dari Uncle Wicaksono kau sudah mulai belajar mengurus perusahaan . Kakek Gaffar selalu membanggakan dirimu ...."
" Tapi aku tidak sehebat dirimu . Boleh aku duduk !? "
" Ya Tuhan , maaf ... tentu saja ! Silahkan duduk Dara , kau terlalu cantik hingga kami lupa mempersilahkan dirimu untuk duduk ! " kata Jero melirik pada Ryota yang tak bisa mengalihkan pandangannya pada gadis di depannya . Jero tahu jiwa cassanova Ryota sedang meronta karena melihat kecantikan dan kemolekan Anandara .
Setelah duduk Jero segera meminta Ryota untuk menjelaskan poin poin dari kerjasama mereka , dia melakukan itu karena mengejar waktu . Siangnya dia di undang makan siang oleh seorang klien jadi mungkin tidak bisa terlalu lama untuk menemani Anandara .
" Nenek Sri bilang aku harus menginap di apartemenmu Kak !! Mereka terlalu khawatir karena ini pertama kalinya aku pergi sendirian ke luar negeri . Kau sangat tahu ayah dan Kakek Gaffar selalu lebay dalam segalanya , padahal aku bukan anak kecil lagi ... "
Jero menghela nafasnya , dia tahu jika titah neneknya adalah mutlak . Tak ada satupun yang berani menolak ataupun menyangkal perkataannya bahkan ke empat pilar sekalipun .
__ADS_1
" Jangan berwajah seperti itu Kak ! Tadi aku sudah mendapat tempat menginap tak jauh dari gedung ini . Aku menginap di galeri seni di ujung jalan , kita bukan muhrim jadi tak mungkin kita menginap di bawah atap yang sama "
" Galeri seni ?? Kenapa tidak mencari hotel saja !? Aku yang nanti akan mengurusnya " kata Jero karena berpikir sebuah galeri seni bukanlah tempat yang nyaman untuk bermalam .
" Tidak terimakasih Kak ! Tapi Odelia juga ada disana , sudah lama kami tidak bertemu ... "
DEGGHHH ... DEGGHHHH
" Odelia ... "
" Ya , Odelia bersama komunitasnya sedang menggelar pameran seni di kota ini dan pameran seni itu baru dibuka tadi pagi . Kakak tidak tertarik untuk melihatnya !? " tanya Dara yang belum tahu kisah antara Jero dan Lia .
Bukannya menjawab tapi Jero beranjak dari sofa menuju meja kerjanya . Dia menyambar ponselnya dan melihat pesan pesan yang dikirim Vania kepadanya . Dan matanya membola ketika melihat gambar gambar pemilik hatinya yang di foto oleh Vania dengan diam diam . Pria itu kemudian mendengar pesan suara yang juga terkirim padanya , dan sebuah senyum menghiasi bibirnya ketika mendengar suara lembut yang sudah lama ia rindukan .
Jangan bertanya apakah aku merindukannya , karena jawabannya ada padanya !
__ADS_1
Potongan suara yang dikirim Vania itu seperti air es yang bisa mengobati dahaga di hatinya . Tak peduli apa maksud kata katanya tapi suara itu benar benar mampu sedikit mengobati rasa rindunya .
" Kau ada di sini sayang .... " kata Jero dengan meremat ponselnya .