
" Ryo belakangmu !! "
JLEEBBBB ....
Jero reflek melempar pisaunya ketika melihat seorang musuh mengarahkan senjata pada sahabatnya . Walau menggunakan peredam tapi dia sengaja belum menggunakan senjata api yang di bawanya karena masih bisa menangani dengan tangan kosong .
" Oh God , sudah banyak yang sudah bisa kita sweeping tapi kenapa seperti tidak ada habisnya ... " lirih Ryota yang sampai saat ini belum mengeluarkan satu peluru pun karena kesigapan dari para penjaga Adipraja dan Jeronimo . Kelompok mereka terbagi menjadi dua yang masing masing dipimpin oleh para putra Adipraja . Jero sweeping sisi kanan mansion sedang Gema dan orang orangnya menuju sisi kiri mansion . Mereka bergerak lebih cepat karena jeritan para gadis di dalam semakin keras .
Walau jumlah penjaga di mansion cukup banyak tapi kebanyakan dari mereka lengah , mungkin karena sebelumnya tidak pernah mendapat serangan mendadak seperti yang Gema dan Jero lakukan . Hanya dalam hitungan menit mereka sudah bisa menyapu penjaga di sisi kanan mansion .
" Bos .... "
__ADS_1
Jero hanya mengangguk dengan satu jari terangkat tanda agar Ryota diam , mereka sudah sampai di area tengah di mana dia yakin tempat para gadis berada . Ada banyak deretan kamar yang ada di depan mereka .
Tapi mata mereka memicing ketika melihat ada dua orang musuh yang terkapar dengan leher patah , orang yang melumpuhkan mereka pasti sudah mempunyai teknik yang mumpuni . Mungkin sengaja tidak menggunakan senjata agar tidak menarik perhatian para penjaga lain di luar .
Jero dan orang orangnya terpaku ketika melewati sebuah kamar yang setengah terbuka . Mereka melihat pemandangan yang sangat miris , seorang wanita sedang berada di atas ranjang tanpa mengenakan busana . Ada banyak luka ditubuhnya , pergelangan tangan dan kakinya memerah mungkin akibat terikat cukup lama karena terlihat bekas tali terputus di masing masing ujung ranjang .
Wajah wanita itu ketakutan melihat para pria yang tak sengaja lewat di depan kamar yang ditempatinya . Seorang penjaga masuk dengan isyarat agar wanita itu tidak mengeluarkan suara . Bahkan sang penjaga melepas kemeja hitam yang dia kenakan agar dipakai oleh wanita itu .
" B-biasanya mereka berpesta di lantai tiga rumah ini . Ada sekitar sepuluh orang wanita yang disekap di bawah tanah , mereka akan keluar jika pesta di lantai atas sudah dimulai . Tolong kami ... kami ingin keluar dari tempat ini Tuan ! Tadi ada gadis cantik menolongku tapi sepertinya dia dibawa ke atas oleh mereka ! " lirih wanita itu dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya .
Sang penjaga mengangguk dan kemudian keluar kamar untuk melaporkan informasi ini pada Jero yang masih berdiri di luar kamar .
__ADS_1
" Target ada di lantai tiga dan banyak gadis di sekap di lantai bawah Tuan ! Wanita itu bilang tadi ada wanita cantik yang sempat menolongnya tapi sekarang sudah di bawa ke lantai atas "
" Aku dan Ryota akan ke lantai atas dan kalian akan membebaskan para gadis yang ada di bawah ... " ujar Jero yang di angguki oleh para penjaganya . Jero yakin jika Lia atau Vania yang tadi menolong wanita itu . Mereka sengaja menyerahkan dirinya agar bisa ikut dalam pesta di lantai atas .
" Kita berdua saja ?? Nggak salah Bos ? " cicit Ryota karena yakin di atas sana musuh akan semakin banyak .
" Kak Gema sudah lebih cepat , dia sudah membersihkan area lantai dua gedung ini . Itu artinya kita bisa langsung naik ke lantai tiga menyusul mereka " kata Jero yang sempat berkomunikasi dengan sulungnya menggunakan sebuah alat yang menempel di telinganya . Sepertinya gerakan mereka kalah cepat , Gema Aksa dan orang orangnya bahkan tanpa kesulitan mampu menuju target yang ada di lantai tiga hanya dalam hitungan menit .
Sampai di lantai tiga Jero menghentikan langkahnya , bibirnya tak bisa berkata kata dan kedua kakinya terasa tak bertenaga lagi .
" Oh God ... sayang !! "
__ADS_1