Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 12


__ADS_3

"Ada apa kamu kesini, Mas Fian sedang tidak ada di rumah," tanya Laras sambil duduk di kursi sang suami.


"Kedatanganku kesini tidak untuk mencari Mas Fian, tapi aku kesini untuk bertemu denganmu," jawab Wulan sambil memperhatikan penampilan Laras yang sangat tertutup.


"Cepat katakan ada apa kamu mencariku," Tanya Laras sambil penasaran.


"Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Mas Fian itu sebenarnya begitu sangat mencintaiku, bahkan aku tahu kalau keluarganya juga sangat membencimu. Jadi aku minta lebih baik kamu mundur sebelum aku yang merebutnya dari tanganmu," jelas Wulan sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Laras.


"Mundur, bukankah kamu sudah mendengar jawaban dari suamiku jika dia tidak akan pernah kembali kepadamu karena dia lebih mencintaiku daripada kamu, kamu benar dia memang sangat mencintaimu tapi itu dulu jauh sebelum kalian berpisah," ucap Laras sambil berdiri dan menatap mata wulan.


"Itu hanya jawaban dia saat ada di depanmu, aku pastikan pernikahan kalian akan berakhir dan aku akan mendapatkan Fian kembali," jawab Wulan sambil tersenyum sinis.


Laras tidak menjawab apa yang diucapkan Wulan kepadanya. Dia hanya tersenyum lalu berjalan ke arah pintu untuk kembali ke kamarnya. Bagi Laras Fian bukanlah anak kecil yang harus dikhawatirkan kepergiannya, dia berhak memilih perempuan manapun yang akan menjadi pendampingnya.


"Aku pastikan kamu akan menyesal dengan keputusanmu, dan aku pastikan Fian akan kembali kepadaku!" teriak Wulan kepada Laras yang terus berjalan keluar dari ruang kerja sang suami.


"Jangan berteriak di sini, cukup kamu buktikan saja ucapanmu," jawab Laras sambil tersenyum.


Bejo yang saat itu ada di dekat ruang kerja Fian mendengar semua pembicaraan antara Laras dan Wulan. Bahkan dia juga tahu tentang ancaman yang diberikan Wulan kepada istri sang atasan. Bejo adalah salah satu orang kepercayaan Fian, jadi apapun yang terjadi di bengkel dan rumah Fian semua harus dengan pengawasan Bejo.


Sore hari saat Fian tiba di bengkel Bejo langsung segera menemui atasannya itu di ruang kerjanya. Setelah mengetuk pintu dan duduk di hadapan Fian Bejo mulai menceritakan tentang kedatangan seorang perempuan yang bernama Wulan. Bejo mulai menceritakan semua yang dia ketahui dari percakapan antara Wulan dan Laras.


"Kamu boleh keluar, aku akan menemui Laras di kamar," perintah Fian sambil berdiri dan berjalan ke arah kamarnya.


Fian yang sudah berada di kamar melihat Laras yang sedang khusyuk dalam sholatnya. Fian lantas berjalan ke kamar mandi untuk segera membersihkan badannya dan mengambil air wudhu. Setelah shalat Fian langsung mendekati Laras yang sedang bermain ponselnya sambil berbaring di tempat tidur.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu," tanya Fian sambil tidur di samping sang istri.


"Silahkan,"jawab Laras singkat sambil meletakkan ponselnya diatas meja kecil yang ada di sampingnya.


"Apa benar tadi Wulan datang ke sini," tanya Fian sambil menggenggam tangan sang istri lalu menciumnya.


"Iya benar," jawab Laras sambil menoleh ke arah sang suami.


"Apa yang dia katakan kepadamu," tanya Fian sambil duduk dan bersandar di tempat tidurnya.


"Aku yakin kamu sudah mengetahui apa yang dia katakan kepadaku dan apa yang aku katakan kepadanya, karena saat itu ada Bejo yang kebetulan berada di dekat ruangan itu," jelas Laras sambil terus menatap wajah sang suami.


"Lalu apa kamu tidak khawatir jika aku meninggalkanmu dan kembali kepadanya?" tanya Fian penasaran.


"Tidak," jawab Laras sambil bersandar di dada sang suami.


"Kenapa, bukannya dia mantanku dan aku bisa saja meninggalkanmu untuk kembali kepadanya," ucap Fian sambil membelai rambut sang istri.


"Kamu Laki-laki dewasa bukan anak kecil, kamu lebih tahu mana yang benar dan mana yang salah, jadi buat apa aku khawatir kamu akan meninggalkanku. Lagi Pula kamu pernah mengatakan kepadaku jangan pernah mengkhawatirkan apa yang belum tentu terjadi," jawab Laras sambil tersenyum dan terus bersandar di dada sang suami.


Mendengar jawaban sang istri Fian langsung tersenyum dan mencium kepala Laras. Dia begitu bersyukur memilih Laras sebagai istri dan ibu untuk anak-anaknya kelak. Karena selain cantik Laras adalah perempuan yang baik dan mudah diarahkan ke hal yang positif. Sifat cengeng dan penakut yang ada di dalam diri Laras berangsur-angsur menghilang, bahkan soal agama pun Laras juga jauh lebih baik.


"Aku bangga memiliki Istri sepertimu, bukan karena kamu cantik saja, tapi karena keinginan kamu untuk berubah menjadi lebih baik sangatlah tinggi," ucap Fian sambil memeluk sang istri yang masih bersandar di dadanya.


"Aku hanya tidak ingin membebani pikiranku dengan hal yang tidak penting, aku hanya berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi, sehingga aku bisa membuatmu bangga dan nyaman saat ada di sampingku," jawab Laras sambil mengangkat kepalanya untuk melihat wajah sang suami.


"Aku janji, aku akan selalu menjagamu dan akan selalu berada disampingmu sampai salah satu diantara kita tidak dapat membuka mata, dan saat itulah aku akan menunggumu di jannahnya Allah," ucap Fian sambil mencium bibir mungil sang istri.


Laras yang mendengar kata-kata Fian mulai membalas ciuman sang suami. Sore itu Laras dan Fian mulai terbuai dengan suasana tenang dan romantis di dalam kamarnya. Namun, saat mereka sedang menikmati keromantisan dan ciuman yang mereka lakukan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.

__ADS_1


"Pak Bos, ada tamu yang mencari Anda!" terdengar suara Bejo berteriak dari luar kamar sambil mengetuk pintu.


"Ehm, gagal deh," ucap Laras sambil tertawa.


"Aku lupa kalau sekarang masih jam kerja, aku juga ada janji dengan seorang klien yang akan memesan pagar untuk sebuah perumahan baru di Jakarta timur," jawab Fian sambil mulai merapikan rambut dan bajunya yang sudah berantakan dan langsung keluar dari kamarnya.


Setelah bertemu dengan seorang klien Fian langsung bergegas pergi ke suatu tempat. Dia bergegas mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah toko bunga langganannya. Setelah memesan buket bunga mawar merah Fian langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah. Namun, saat di tengah perjalanan tiba-tiba terdengar suara ponsel Fian dari dalam saku celana. Fian yang saat itu sedang mengendarai mobilnya langsung berhenti di pinggir jalan untuk melihat ponselnya.


"Nomor siapa ini," ucap Fian setelah mengetahui sebuah nomor baru telah menghubunginya.


"Halo, selamat sore," ucap Fian saat panggilan telepon mulai tersambung.


"Halo, apa kamu sedang sibuk," tanya seorang perempuan di seberang telepon.


"Maaf anda siapa," tanya Fian kepada sang perempuan dengan rasa penasaran.


"Aku Wulan," jawab seorang perempuan yang ternyata adalah mantan kekasih Fian yang bernama Wulan.


"Wulan, dari mana dia tahu nomor teleponku," batin Fian sambil melihat ponselnya.


"Halo, apa hari ini kamu bisa menemuiku," tanya Wulan sehingga membuat Fian terkejut.


"Bisa tapi aku mau menjemput Laras dahulu," jawab Fian sambil sedikit terkejut.


"Jangan, untuk kali ini jangan ajak istrimu, karena aku ingin bicara berdua denganmu," ucap Wulan dengan spontan saat dia tahu Fian akan mengajak sang istri menemuinya.


"Oke dimana kita akan bertemu?" tanya Fian penasaran.


"Di cafe pelangi, tempat pertama kita bertemu," jawab Wulan dengan sangat bahagia.


"Hai Sayang," jawab Wulan sambil akan mencium pipi Wulan.


"Maaf aku bukan laki-laki yang dihalalkan untukmu, lagipula aku juga sudah punya istri, silahkan duduk," jawab Fian sambil menjauhkan wajahnya dari bibir Wulan.


"Kenapa kamu sekarang berubah, padahal dulu kamu tidak seperti ini," tanya Wulan penasaran.


"Kamu yang membuatku berubah seperti sekarang," jawab Fian sambil duduk di hadapan Wulan.


"Aku, kenapa aku," tanya Wulan penasaran.


"Jika kamu tidak meninggalkanku saat itu, mungkin aku tidak akan mengenal agama bahkan akan selalu melakukan zina denganmu, tapi saat kamu meninggalkanku justru dia memberikan seorang perempuan yang halal untuk ku sentuh," jelas Fian sambil tersenyum dan sedikit menunduk.


Wulan tidak mendengarkan apa yang diucapkan Fian kepadanya. Karena bagi Wulan apa yang diucapkan Fian hanyalah sebuah ocehan yang tidak berarti. Wulan yang ingin menghindari ocehan Fian langsung memanggil salah satu pelayan dan memesan dua gelas orange jus. 


"Kamu ingat jika dulu aku sering menginap di rumahmu bahkan kita sering sekali melakukan hubungan suami istri dikamar yang sekarang ditempati istrimu," ucap Wulan kepada Fian sambil berusaha memegang tangan laki-laki yang ada di hadapannya.


"Maaf aku sudah melupakan apa yang sudah aku lakukan saat bersamamu dulu, dan aku harap kamu juga melupakan apa yang sudah pernah kita lakukan," jawab Fian sambil menjauhkan tangannya.


"Kamu yakin tidak merindukan ******* dan rintihanku yang selalu kamu dengar setiap malam," ucap Wulan sambil berbisik di telinga Fian.


"Sebenarnya apa tujuanmu memintaku bertemu di tempat ini, jika kamu hanya ingin merayuku agar aku kembali kepadamu kamu salah besar," jawab Fian sambil berdiri dari tempat tidurnya.


"Kamu mau kemana," tanya Wulan saat melihat Fian sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Aku mau pulang, karena aku yakin istriku pasti sudah menunggu dengan khawatir," jawab Fian sambil mulai melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar!" teriak Wulan hingga membuat Fian berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Paling tidak habiskan dulu minuman ini, 'kan sayang kalau minuman ini tidak kamu minum," ucap Wulan sambil tersenyum.


Hampir 1 jam Wulan dan Fian berbincang-bincang di cafe pelangi. Hingga tidak lama mereka memutuskan untuk pulang. Malam itu hujan cukup deras, Wulan yang saat itu tidak mempunyai kendaraan pribadi meminta Fian untuk mengantarnya terlebih dahulu.


"Apa hari ini kamu tidak merasa kedinginan," ucap Wulan sambil mengusap paha Fian yang sedang sibuk mengemudikan mobilnya..


"Singkirkan tanganmu, atau aku turunkan kamu di sini," ancam Fian sambil menghentikan mobilnya.


"Oke maaf," jawab Wulan singkat sambil melepaskan tangannya dari paha Fian.


Hujan yang lebat disertai angin dan petir yang menggelegar membuat Laras khawatir dengan sang suami. Berkali-kali Laras menghubungi ponsel sang suami. Namun, tidak ada jawaban dari Fian.


"Ya Allah aku mohon jaga dan lindungilah suamiku," ucap Laras sambil berdiri di depan pintu kamar.


Laras yang saat itu sedang khawatir dengan keadaan sang suami tiba-tiba mendapat sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal. Nomor tersebut mengatakan jika Laras tidak perlu menunggu Fian pulang. Karena malam ini sang suami sedang bersenang-senang.


"Apa maksudmu, dan ini siapa," balas Laras melalui pesan singkat.


"Kamu tidak perlu tahu aku siapa, tapi yang pasti saat ini suamimu sedang berbahagia dengan perempuan lain, bahkan bisa jadi sekarang dia sedang merasakan kehangatan dengan perempuan itu," jawab sang pemilik nomor tak dikenal itu.


Setelah menjawab pesan singkat Laras. Sang pemilik nomor tak dikenal itu mengirim sebuah video kebersamaan Fian dan Wulan di cafe. Terdengar ucapan Wulan bahwa mereka sering tidur di kamar yang saat ini ditempati Laras dan sang suami.


"Ya Allah, siapa orang ini dan apa benar Mas Fian dan Wulan pernah melakukan Zina," ucap Laras sambil terus melihat video tersebut.


Laras yang sedang melihat video tersebut tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan sang suami yang. Fian yang saat itu baru saja sampai dirumah langsung memberikan sebuah buket bunga mawar kepada sang istri. Namun, Laras justru membuang buket bunga tersebut di lantai.


"Kamu kenapa," tanya Fian sambil memegang tangan sang istri.


"Apa benar hari ini kamu bertemu dengan Wulan," tanya Laras sambil mulai meneteskan air matanya.


"Iya aku memang bertemu dengannya, tapi kami tidak melakukan apapun Sayang," jawab Fian sambil menggenggam tangan sang istri.


"Kamu ingat saat kamu mengantarku pulang ke rumah orang tuaku, saat itu kamu bilang jika kamu takut pernikahan kita tidak sah karena restu orang tuaku. Kamu juga bilang jika kamu takut apa yang kita lakukan itu dicatat sebagai zina, karena dosa zina itu sangat pedih siksanya, benar 'kan?" ucap Laras sambil mulai menangis.


"Iya aku ingat semua ucapanku itu," jawab Fian sambil kebingungan.


"Lalu ini apa, kamu justru pernah berzina dengan Wulan di kamar ini, dikamar kita Mas," ucap Laras sambil menunjukkan video percakapan Fian dan Laras.


"Kamu dapat video itu dari mana," tanya Fian sambil penasaran.


"Tidak penting aku dapat video ini dari mana, kenapa kamu tega menutupi semua ini dariku, bahkan kamu meletakkan aku di dalam sebuah kamar yang telah menjadi kenangan indah bahkan saksi bisu kemesraan kalian, kenapa!" tanya Laras sambil berteriak.


"Kamu dengarkan aku dulu Sayang, aku bisa jelaskan semuanya," jawab Fian sambil mencoba memeluk Laras.


"Jelaskan, kamu pikir aku bisa hidup dengan bayang-bayang masa lalumu di kamar ini, bahkan melihat tempat tidur ini saja aku sakit, apalagi harus membayangkan kalian bersegama di kamar ini, aku jijik Mas," ucap Laras sambil menangis dan duduk dilantai.


"Aku mohon dengarkan penjelasanku, aku bisa perbaiki semuanya," jawab Fian sambil terus memeluk Laras.


"Lepaskan, lepaskan tanganmu dari tubuhku aku kecewa kepadamu Mas, awalnya aku berharap kamu bisa melupakan masa lalu mu tapi kini kamu justru membuka kembali masa lalumu, sekarang lepaskan tanganmu dari tubuhku!" bentak Laras sambil berteriak dan memberontak.


"Aku mohon Sayang dengarkan penjelasanku," ucap Fian sambil terus berusaha menenangkan Laras yang terus memberontak dan menghindari tangannya.


"aahh!" teriak Laras.

__ADS_1


"Sayang!" teriak Fian sambil berlari ke arah sang istri.


__ADS_2