Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 31


__ADS_3

Mbok Ijah mulai memberitahukan apa saja yang harus dikerjakan oleh Ratna. Saat Mbok Ijah sedang menjelaskan kepada Ratna tentang tugas dan kewajibannya sebagai asisten rumah tangga. Tiba-tiba Fian dan Laras datang ke dapur.


"Mbok apa makan siang sudah siap?" tanya Fian kepada Mbok Ijah.


"Sudah Pak, tolong siapkan karena saya sudah lapar dan satu lagi buatkan saya kopi kesukaan," perintah Fian kepada Mbok Ijah sambil tersenyum.


"Ratna, tolong ambilkan buah pisang di lemari es ya," perintah Laras kepada asisten rumah tangga barunya.


"Mas, bagaimana hasil kerja Papa selama menjadi pengawas proyek?" tanya Laras sambil menoleh ke arah sang suami.


"Bagus, aku rasa Papa begitu berbakat dalam menangani pekerjaan ini. Oh iya aku mau membelikan Papa laptop untuk memudahkan dia dalam mengirim file," ucap Fian kepada Laras dengan penuh antusias.


"Permisi Mbak, ini buah pisangnya," ucap Ratna sambil meletakkan buah pisang diatas meja.


"Terima kasih ya Ratna," ucap Laras sambil menoleh ke arah asisten rumah tangganya.


Saat Mbok Ijah sedang menyiapkan makan siang untuk kedua majikannya. Tiba-tiba dia melihat mata Ratna menatap Fian dengan tatapan berbeda. Terlihat senyum tipis mengambang di bibir Ratna saat melihat Fian dan Laras bercanda.


"Ratna! Cepat bantu aku," ucap Mbok Ijah sambil berbisik dan sedikit membentak.


"Iya Mbok," ucap Ratna sambil berjalan dengan wajah kesal.


"Kamu jangan mimpi bisa dapatkan Pak Fian, karena aku tahu dia tidak akan tergoda oleh perempuan sepertimu," jelas Mbok Ijah saat Ratna sudah berdiri di sampingnya.


"Kalau Pak Fian tergoda bagaimana, apa Mbok mau keluar dari rumah ini dan tidak kembali lagi," jawab Ratna sambil berbisik di telinga Mbok Ijah.


Mbok Ijah yang saat itu sedang mengaduk kopi pesanan Fian seketika berhenti. Dia langsung menoleh ke arah Ratna dengan tatapan curiga dan kesal. Entah kenapa perasaan Mbok Ijah tentang rumah tangga Fian dan Laras benar-benar tidak enak.


"Apa maksud perempuan ini, apa mungkin dia ada hati dengan Pak Fian," batin Mbok Ijah sambil menatap Ratna dengan kesal.


"Mbok, apa kopinya sudah siap?" tanya Fian kepada Mbok Ijah hingga membuatnya tersadar dari lamunannya tentang Ratna.


"Sudah Pak," jawab Mbok Ijah sambil mengantar kopi ke majikannya.


Setelah seluruh makanan telah tersaji di atas meja makan. Laras dan Fian langsung menikmati masakan Mbok Ijah dengan lahap. Ratna yang saat itu sedang mencuci piring tiba-tiba berhenti karena suara ponsel di dalam saku celananya.


"Maaf saya mau angkat telepon dulu," ucap Ratna yang langsung berjalan ke arah kamarnya.


Mbok Ijah yang curiga dengan sikap asisten rumah tangga pengganti itu langsung membuntuti Ratna di kamarnya. Terdengar jelas jika Ratna sedang berbicara dengan seseorang. Mbok Ijah yakin orang itu pasti ada niat buruk terhadap keluarga kecil Fian dan Laras.


"Halo, ada apa?" tanya Ratna saat panggilan telepon sudah tersambung.


"Bicara dengan siapa dia," batin Mbok Ijah sambil terus menguping pembicaraan Ratna.


"Enak saja, kalau tahu dia setampan ini aku juga mau," ucap Ratna setelah mematikan ponselnya.


Melihat Ratna yang sudah selesai dengan panggilan teleponnya. Mbok Ijah langsung bergegas kembali ke dapur dan berpura-pura membersihkan kompor. Sambil tersenyum Ratna mulai masuk ke dalam dapur.


"Maaf ya Mbak, tadi Kakak saya dari kampung telepon," ucap Ratna sambil tersenyum.


"Iya tidak apa-apa," jawab Laras dengan ramah.

__ADS_1


"Ehm alasan, awas saja kalau kamu berani merusak pernikahan majikanku akan aku potong-potong tubuhmu," batin Mbok Ijah sambil memperagakan gerakan memotong dengan pisau.


"Mbok Ijah kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiran Mbok," tanya Fian saat melihat wajah kesal asisten rumah tangganya.


"Tidak Pak, saya hanya kesal dengan nyamuk yang baru saja datang kesini," jawab Mbok Ijah sambil meletakkan pisau.


"Nyamuk, sejak kapan disini ada nyamuk," jawab Laras dengan sedikit bingung.


"Dasar tua bangka, awas kamu ya," batin Ratna sambil menatap Mbok Ijah.


"Ya sudah ayo aku antar kamu ke kamar, karena aku mau langsung ke ruang kerja untuk mengecek laporan yang baru saja Papa kirim melalui ponsel sekalian ngopi dan ngerokok," ajak Fian kepada sang istri sambil membantu Laras berdiri.


Setelah Fian dan Laras masuk ke dalam kamarnya. Ratna langsung menghampiri Mbok Ijah yang sedang membersihkan meja makan. Ratna tiba-tiba menarik tangan Mbok Ijah dan langsung membentaknya.


"Maksud Mbok apa tadi bilang kalau saya ini nyamuk!" bentak Ratna sambil menatap Mbok Ijah dengan tajam.


"Memang aku bilang kalau kamu itu nyamuk?" tanya Mbok Ijah sambil bertolak pinggang kemudian berjalan ke arah wastafel.


"Tidak, tapi aku tahu pasti yang kamu maksud nyamuk itu aku 'ka?" jawab Ratna sambil menarik tangan Mbok Ijah.


Saat bersamaan Ratna melihat Fian berjalan ke arah dapur. Dia langsung berpura-pura jatuh seolah didorong oleh Mbok Ijah. Fian yang melihat Ratna terjatuh langsung membantunya.


"Ada apa ribut-ribut di dapur?" tanya Fian sambil membantu Ratna berdiri.


"Kenapa Mbok begitu membenciku, aku hanya kerja sementara di sini," ucap Ratna sambil pura-pura menangis.


"Saya tidak mendorong Ratna Pak, demi Allah saya tidak mendorongnya," jawab Mbok Ijah sambil terlihat panik.


"Terima kasih Pak, Mbok saya minta maaf kalau kehadiran saya membuat Mbok membenci saya," ucap Ratna sambil berpura-pura menangis.


"Demi Allah Pak, saya tidak pernah punya rasa iri kepada Ratna," jelas Mbok Ijah dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah-sudah, Mbok kerja lagi saya kesini hanya mau mengambil kopi saya saja," jawab Fian sambil meraih cangkir yang ada di atas meja lalu pergi ke arah ruang kerjanya.


"Itu masih permulaan, nanti akan aku lakukan yang lebih dari itu," ancam Ratna sambil berjalan ke arah kamarnya.


"Dasar perempuan tidak tahu malu, sepertinya aku harus meminta bantuan Bejo untuk mengawasi ular ini saat aku tidak ada," batin Mbok Ijah sambil menatap Ratna yang berjalan meninggalkan dapur.


***


Waktu berlalu begitu cepat Mbok Ijah pun telah berangkat ke kampung halamannya. Bengkel pun mulai beroperasi kembali. Bejo, Eko dan karyawan yang lain mulai bekerja lagi seperti biasa.


"Wih, kalau yang buat kopi secantik ini walaupun berjam-jam betah aku," ucap Eko saat melihat Ratna di dalam dapur.


"Mau apa Mas?" tanya Ratna sambil tersenyum.


"Buatkan Abang kopi dong Neng," ucap Eko sambil tersenyum kepada Ratna.


"Abang, mimpimu ketinggian bro. Muka seperti penggorengan saja minga di panggil Abang," jawab karyawan yang lain.


Hari itu Ratna menggunakan daster tanpa lengan. Terlihat jelas kulit putih dan belahan dadanya sehingga membuat seluruh karyawan lupa dengan pekerjaannya. Bejo yang melihat para karyawan duduk di dapur langsung berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


"Kenapa kalian semua masih disini, cepat tinggalkan dapur ini dan kerjakan tugas kalian," bentak Bejo hingga membuat seluruh karyawan terkejut dan berlari keluar dapur.


"Kamu pembantu baru disini?" tanya Bejo dengan tegas.


"Iya Mas," jawab Ratna dengan manja.


"Cepat ganti bajumu, di tempat ini dilarang menggunakan pakaian yang menampakkan auratnya," perintah Bejo dengan tegas.


"Tapi Mas, saya …." belum selesai Ratna menjawab Bejo sudah menimpali ucapannya.


"Jika kamu tidak mematuhi peraturan di tempat ini silahkan cari pekerjaan yang lain," ucap Bejo tanpa melihat Ratna.


Setelah memerintahkan Ratna untuk menggunakan pakaian yang sopan. Bejo segera berjalan ke arah ruang kerja Fian. Dia menemui Fian untuk menanyakan masalah Ratna.


"Assalamualaikum Pak," ucap Bejo sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam, ayo silahkan duduk Jo," perintah Fian kepada orang kepercayaannya itu.


"Maaf kalau saya mengganggu kerja Pak Fian, kedatangan saya kemari untuk menanyakan tentang Ratna," ucap Bejo kepada Fian hingga membuatnya terkejut.


"Memangnya kenapa dengan Ratna," tanya Fian sambil menutup laptopnya.


"Hari ini saya menegurnya karena dia menggunakan pakaian yang sangat mengundang syahwat dan menampakkan auratnya," jawab Bejo kepada Fian.


"Saya juga heran kenapa dia senang sekali memakai pakaian seperti itu, lebih baik kamu atur saja, jika dia membantah kamu langsung pecat saja dia," perintah Fian dengan terlihat bingung.


"Memangnya siapa yang merekomendasikan dia kesini?" tanya Bejo dengan penasaran.


"Mbok Ijah, makanya aku dan Laras langsung menerimanya," jawab Fian sambil bersandar di kursinya.


"Mbok Ijah, kenapa dia membawa perempuan itu masuk ke rumah ini," batin Bejo sambil menunduk.


"Saya juga sedikit takut Jo, takut masa lalu saya terulang kembali makanya sekarang saya lebih banyak di ruang kerja dan kamar," jelas Fian sambil memijat kepalanya.


"Apa Bapak yakin Mbok Ijah yang bawa dia?" tanya Bejo seolah meyakinkan Fian.


"Dia sendiri yang bilang, tapi aku juga belum bertanya kepada Mbok Ijah," jawab Fian sambil berdiri.


Sesaat Bejo berpikir tentang apa yang Fian katakan. Apa mungkin Mbok Ijah yang membawa perempuan itu. Padahal Mbok Ijah tahu jika peraturan di lokasi ini dilarang memakai baju atau apapun yang bisa mengundang syahwat dan menampakkan aurat.


"Beberapa hari lalu Mbok Ijah menghubungi saya, dia meminta saya untuk mengawasi perempuan itu karena menurut Mbok Ijah perempuan itu memiliki niat yang tidak baik," jelas Bejo kepada sang atasan.


"Sebentar, jika Mbok Ijah memintamu mengawasi Ratna, berarti secara tidak langsung bukan Mbok Ijah yang membawanya," jawab Fian sambil duduk diatas meja.


"Nah itu yang saya pikirkan Pak, karena jika Mbok Ijah yang membawa perempuan itu kenapa dia justru khawatir kepada Mbak Laras dan Pak Fian," ucap Bejo kepada Fian yang sedang memegangi dagunya.


"Lalu siapa dan apa tujuan perempuan itu kesini?" tanya Fian kepada orang kepercayaan.


"Bapak tenang saja saya akan cari tahu, siapa dalang dari kekacauan di bengkel ini, ucap Bejo kepada Fian.


"Baik kalau begitu kamu cari tahu siapa dan apa tujuan Ratna bekerja di tempat ini, sehingga dia nekat melakukan kebohongan," perintah Fian kepada Bejo.

__ADS_1


"Baik Pak, insya Allah saya akan secepatnya mendapatkan informasi yang Pak Fian minta," ucap Bejo kepada sang atasan.


__ADS_2