
Setelah mereka sampai di dalam kamar, Laras langsung menidurkan shafira di box bayi. Dia langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mengambil air wudhu untuk menjalankan ibadah sholat magrib. fian yang saat itu masih melepas kemejanya terus menatap Laras yang sudah mulai menjalankan shalat magrib seorang diri.
"Sebenarnya dia tahu darimana aku ada di rumah orang tuanya, apa jangan-jangan Mama yang memberitahunya," batin Fian sambil terus melihat sang istri.
"Sampai kapan kamu akan terus melihatku seperti itu Mas? " tanya Laras hingga membuat Fian terkejut.
"Iya, aku mau shalat magrib dulu," jawab Fian dengan terkejut saat dia mendengar suara sang istri.
Setelah menjalankan ibadah shalat magrib perlahan Fian mulai mendekati Laras yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Sambil memijat kaki sang istri Fian pun mulai bertanya tentang siapa yang memberitahukan jika dia ada di rumah Arman. Awalnya Laras hanya diam mendengar pertanyaan sang suami sambil tersenyum.
"Memangnya kenapa kamu begitu penasaran pada orang yang sudah memberitahukan keberadaan mu sampai kapan kamu terus berbohong kepada ku Mas? Apa selama ini aku selalu melarangmu dalam segala hal sampai kamu terus berbohong," tanya Laras sambil duduk dan menoleh ke arah Fian.
"Bukan begitu Sayang, aku hanya ingin menyelesaikan masalah kesalahpahaman dengan Papa mu, aku hanya tidak mau mereka berpikir aku telah mengkhianatimu dengan Wulan," jawab Fian sambil menatap wajah sang istri.
"Mas, yang menikah denganmu itu aku, yang menjalani kehidupan denganmu juga aku, jadi tidak peduli orang lain berkata apa tentang mu dan hubungan kita selama aku nyaman dan percaya kepadamu itu sudah cukup, " jelas Laras sambil tersenyum dan memegang pipi sang suami.
Fian yang mendengar penjelasan Laras hanya tersenyum, dia bersyukur bisa menikahi seorang perempuan kuat dan sabar seperti sang istri. Hari-hari mereka berjalan dengan normal selayaknya manusia pada umumnya. Sosok Wulan juga sudah mulai tenggelam di kehidupan mereka, bahkan kejahatan Siska pun sudah mulai mereda sejak Fian memutuskan untuk membeli tanah warisan almarhum sang ayah.
Hingga tepat 7 bulan setelah operasi yang dijalaninya. Laras yang saat itu sedang mengalami masa menstruasi tiba-tiba mengalami sakit yang begitu hebat pada perutnya. Hingga membuat Fian langsung membawanya ke rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Istri saya Dok?" tanya Fian kepada seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Untuk sementara Ibu Laras harus menginap di rumah sakit sampai hasil pemeriksaan laboratorium keluar," jawab sang dokter kepada Fian.
"Lalu apa saya boleh bertemu dengan istri saya Dok?" tanya Fian dengan keadaan cemas.
"Silahkan Pak, kalau begitu saya permisi dulu pak," jawab sang dokter lalu pergi meninggalkan Fian.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan sang dokter, Fian mulai duduk disebuah kursi koridor rumah sakit. Sejenak dia melamun tentang kondisi sang istri dan keadaan Shafira yang saat ini aman dalam pengawasan Mbok Ijah. Fian pun memberanikan diri untuk menghubungi Arman yang saat itu sedang duduk di teras rumahnya.
"Halo, Assalamualaikum," ucap Fian saat panggilan telepon mulai tersambung.
"Waalaikumsalam, ada apa kamu menghubungiku?" tanya Arman dengan nada angkuhnya.
"Saya hanya ingin memberitahukan jika saat ini Laras sedang di rawat di rumah sakit," jelas Fian kepada Arman.
"Apa! Cepat katakan di rumah sakit mana dia dirawat," tanya Arman dengan panik.
"Rumah sakit medika," jawab Fian singkat.
"Baik kami akan segera kesana sekarang," jawab Arman sambil langsung menutup ponselnya.
"Ada apa Pa?" tanya Sophia yang baru saja keluar dari dapur saat mendengar teriakan sang suami.
"Cepat kamu bersiap-siap kita akan ke rumah sakit sekarang," perintah Arman sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar.
"Laras, saat ini dia di rawat di rumah sakit medika," jawab Arman hingga membuat Sophia terkejut.
"Ya Allah, kalau begitu Mama mau matikan kompor dulu," ucap Sophia sambil berjalan ke arah dapur dengan terburu-buru.
***
Di rumah sakit Fian yang saat itu sedang duduk termenung di samping sang istri yang masih tertidur. Tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan seorang Dokter. Perlahan sang dokter masuk dan berjalan ke arah Laras yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
"Bagaimana keadaan Bu Laras saat ini?" tanya Dokter kepada Laras sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik Dok," jawab Laras sambil tersenyum kepada sang dokter.
"Begini Bapak dan Ibu kami sudah mendapatkan hasil laboratorium Bu Laras, menurut hasil laboratorium tumor yang pernah bersarang di rahim Ibu tumbuh lagi dan Ibu Laras juga menderita penyakit leukositosis," jelas sang dokter sambil menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Fian.
"Leukositosis apa itu Dok?" tanya Fian yang terlihat penasaran.
"Leukositosis atau leukosit adalah kondisi sel darah putih terlalu banyak, leukosit dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti peradangan, infeksi, alergi, bahkan maaf kanker darah, semua itu bisa diketahui dari pemeriksaan laboratorium, dan saya sarankan agar Ibu segera melakukan operasi pengangkatan tumor kembali," jelas sang Dokter spesialis kandungan kepada Fian dan Laras.
"Bagaimana mungkin tumor yang sudah diangkat bisa tumbuh kembali?" tanya Fian seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Bisa saja pola makan yang tidak sehat, misalkan makanan siap saji atau junk food, makanan berlemak, kurangnya asupan sayur dan buah, atau disebabkan akar tumor yang belum terangkat dengan sempurna," jelas sang dokter kepada Fian dan Laras.
"Baik Dok, kalau begitu kami akan bicarakan dulu dengan keluarga besar," jawab Fian kepada sang dokter.
"Baik, kalau begitu saya tinggal memeriksa pasien lain, Ibu Laras harus semangat untuk sembuh dan selalu berdoa insya Allah keajaiban itu pasti ada," pesan sang dokter sebelum meninggalkan kamar Laras.
Laras yang sejak tadi menahan air matanya langsung menangis saat sang dokter keluar dari kamarnya. Fian yang masih melamun dan berdiri di samping istrinya langsung memeluk Laras. Berusaha untuk menenangkan sang istri yang saat itu dalam kondisi tidak baik.
"Mas, aku mohon jangan setujui operasi itu," ucap Laras yang saat itu menangis di pelukan Fian.
"Kenapa, bukankah itu untuk kebaikanmu?" tany Fian yang tidak mengerti dengan maksud dari keputusan istrinya itu.
"Aku ikhlas menjalani ini semua, mungkin ini hukuman untukku karena aku telah menduakan Allah aku pernah meninggalkannya dan bahkan tidak mengenalnya sama sekali," ucap Laras sambil menangis.
"Tidak Sayang ini bukan hukuman dari Allah, Allah menghadirkan semua ini hanya untuk menggugurkan dosa-dosa kita, karena Allah sayang kepadamu," ucap Fian sambil menangis di pelukan Laras.
"Mas, aku selalu berdoa kepada Allah jika salah satu diantara kita harus ada yang meninggal aku minta kepada Allah biar aku saja yang meninggal terlebih dahulu, karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu disampingku," ucap Laras hingga membuat Fian menangis dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu harus percaya kepadaku, kamu tidak akan kemana-mana kita akan rawat Shafira bersama, untuk sementara aku akan titipkan Shafira kepada orang tuamu," jelas Fian sambil menatap mata Laras.
"Apa mereka masih mau membantu kita merawat Shafira?" tanya Laras dengan tatapan ragu.