
Keesokan harinya Fian dan Laras pergi untuk periksa kandungan. Seperti biasa dia selalu mempercayakan bengkelnya kepada Bejo. Setelah Fian pergi Bejo langsung berjalan ke arah dapur untuk menemui Ratna. Namun, sang asisten rumah tangga ternyata tidak ada di sana.
"Kalau mau dapat ikan kakap ya harus sabar dong, tidak mudah untuk bisa melakukan semuanya disini," terdengar suara Ratna seperti sedang berbicara dengan seseorang.
"Permisi Ratna," ucap Bejo sambil mengetuk kamar Ratna.
"Sudah dulu ya karena ada yang datang," ucap Ratna sambil menutup ponselnya dan berjalan ke arah pintu.
"Kamu sedang bicara dengan siapa?" tanya Bejo sambil melihat sekeliling kamar Ratna.
"Tidak, saya hanya bicara dengan kakak saya melalui panggilan telepon," jawab Ratna sambil terlihat gugup.
"Kalau begitu cepat kamu ganti baju dan keluar, siapkan makan siang dan kopi untuk seluruh karyawan," perintah Bejo sambil menatap Ratna dengan curiga.
"Baik Pak," jawab Ratna sambil masuk dan menutup pintunya.
"Siapa sih laki-laki itu gayanya seperti Bos besar saja, tapi sepertinya aku harus berhati-hati dengannya karena dia terlihat lebih sulit di taklukan daripada si Ijah peyot," ucap Ratna setelah memastikan Bejo sudah tidak ada di depan kamarnya.
Setelah berganti pakaian Ratna langsung menuju ke dapur. Dia langsung menjalankan tugasnya sebagai asisten rumah tangga di rumah Fian. Setelah semua selesai dan seluruh karyawan sudah berkumpul di meja makan Ratna berniat kembali ke kamarnya.
"Mau kemana Neng, Abang 'kan masih mau melihat wajah cantik Neng Ratna," goda Eko kepada Ratna.
"Yaelah mukamu seperti sandal jepit, jangan mau Neng, bagaimana kalau sama Abang sapri saja, dijamin tahan lama dan langsung jos," ucap Sapri yang mulai tergoda dengan kemolekan tubuh Ratna.
"Sudah lebih baik barengan aja biar makin mantap, bagaimana?" jawab Eko sambil bertanya kepada seluruh temannya.
"Ratna, cepat kembali ke dalam kamar dan istirahat," perintah Bejo sambil melirik ke arah Ratna yang tersenyum kepada seluruh karyawan.
"Baik Pak," jawab Ratna singkat sambil berjalan meninggalkan dapur.
"Kalian semua cepat makan dan istirahat, karena pekerjaan kita masih banyak," perintah Bejo kepada seluruh pekerja yang ada di meja makan.
"Kamu sudah seperti orang alim saja, bilang saja kalau kamu mau menikmati tubuh bahenol Ratna sendiri 'kan," jawab Sapri yang sejak awal memang menaruh iri kepada Bejo.
"Apa maksudmu?" tanya Bejo sambil meletakkan sendoknya dan menoleh ke arah Sapri.
"Halah tidak usah sok suci kami semua tahu jika tidak ada laki-laki yang kuat melihat kemolekan tubuh Ratna apalagi dengan kondisi jauh dari istri," ucap Sapri sambil tersenyum meledek.
"Dasar Bajingan, kamu pikir aku se bejat kamu?" jawab Bejo sambil berdiri dan langsung menarik kaos Sapri.
Seluruh orang yang ada disana langsung berusaha melerai perkelahian antara Sapri dan Bejo. Bejo memang memiliki sifat seperti Fian yang selalu tenang dan taat dalam agamanya. Saat Bejo dan Sapri sedang berkelahi tiba-tiba Fian yang baru saja datang langsung segera menuju dapur.
"Kamu masuk ke kamar dulu, dan bawa makanan dan vitamin ini aku mau mengurus mereka," perintah Fian kepada Laras sambil memberikan kantong plastik kepada Laras sambil melihat perkelahian Bejo dan Sapri dari jauh.
"Kamu hati-hati ya Mas, jangan terlalu kebawa emosi," pesan Laras kepada Fian sambil mengusap pundak suaminya.
__ADS_1
"Berhenti! Kalian seperti anak kecil saja bertengkar seperti ini" teriak Fian saat berada di dapur.
Suasana seketika hening setelah Fian masuk di dalam dapur. Ratna yang mendengar teriakan Fian langsung segera keluar dan berjalan ke arah dapur. Sambil berpura-pura terkejut dengan apa yang sedang terjadi.
"Maaf ada apa ya, kenapa ada ribut-ribut?" tanya Ratna seolah terkejut.
"Bejo, Sapri ikut ke ruangan saya dan yang lain selesaikan makanan kalian setelah itu istirahat," perintah Fian kepada seluruh karyawannya sambil berjalan ke ruang kerjanya tanpa melihat Ratna sedikit pun.
"Oh ya Eko tolong buatkan saya kopi dan bawa ke ruang kerjaku," perintah Fian kepada Eko sambil menghentikan langkahnya.
"Biar saya saja Pak yang buatkan," jawab Ratna sambil berjalan mendekati Fian.
"Tidak perlu, biar Eko saja yang buatkan, lebih baik kamu ganti semua pakaianmu dengan yang lebih sopan agar tidak menimbulkan syahwat di rumah ini," ucap Fian sambil mengangkat tangannya seolah memberi isyarat agar Ratna tidak berjalan mendekatinya.
Setelah memberi perintah kepada Eko dan Ratna, Fian langsung berjalan ke ruangannya dengan diikuti Bejo dan Sapri yang berjalan di belakangnya. Mendengar ucapan sang majikan Ratna terlihat sangat begitu kesal hingga membuatnya langsung masuk ke dalam kamar. Di ruang kerja Fian langsung mengintrogasi kedua karyawan yang terlibat perkelahian.
"Bejo coba jelaskan kenapa bisa ada keributan di tempatku?" tanya Fian sambil duduk di kursinya.
"Maaf Bos, ini berawal dari para karyawan yang menggoda Ratna dengan perkataan yang kurang sopan, jadi saya menegur mereka tapi ternyata Sapri tidak terima dengan apa yang saya lakukan," jelas Bejo kepada Fian sambil berdiri di hadapan Fian.
"Apa benar seperti itu Sapri?" tanya Fian sambil bersandar di kursi dan menatap wajah kedua karyawannya.
"Benar Pak," jawab Sapri sambil menunduk.
"Kenapa kamu tersinggung, apa ada perkataan Bejo yang menyinggungmu?" tanya Fian kepada Sapri sambil berdiri dan mendekati kedua anak buahnya.
"Plak," tiba-tiba Fian menampar Sapri dengan sangat keras.
"Hanya manusia yang kurang iman yang bisa berbicara sepertimu, laki-laki yang tidak mau menyentuh perempuan yang bukan mahramnya bukan berarti dia sok alim, tapi dia berusaha menghindari dosa zina karena dia tahu betapa beratnya hukuman yang akan diterima dari dosa zina tersebut," jelas Fian sambil menatap wajah Sapri yang menunduk.
"Sekarang kamu saya minta kalian bersalaman, dan saya tidak mau ada kekacauan lagi di tempat ini," perintah Fian kepada kedua karyawannya.
Bejo dan Sapri pun bersalaman dan saling meminta maaf. Namun, mata Sapri tidak dapat berbohong dengan apa yang ada di hatinya. Terlihat dendam dan sakit hati kepada Bejo yang menurutnya menjadi sumber masalah dalam hidupnya hari ini.
Setelah mengintrogasi kedua karyawannya Fian langsung masuk ke dalam kamar. Sambil terlihat lelah Fian langsung membaringkan tubuhnya ke tempat tidur dengan menjadikan kaki Laras sebagai penyangga kepalanya. Sambil tersenyum dan membelai rambut Fian dengan lembut Laras mulai bertanya dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi hingga Bejo dan Sapri berkelahi?" tanya Laras sambil membelai rambut sang suami.
"Sapri tidak terima dengan nasihat dan teguran yang diberikan Bejo kepadanya," jawab Fian sambil memejamkan matanya.
"Kenapa tidak terima, memangnya apa yang membuat Bejo menegur mereka?" tanya Laras penasaran.
Fian langsung menjelaskan kepada Laras tentang apa yang terjadi di dapur siang ini. Laras yang merasa bersalah karena telah menerima Ratna sesaat termenung. Sambil membelai rambut suaminya dia mulai memberikan saran kepada Fian.
"Mas, bagaimana kalau aku bicara dengan Ratna berdua saja?" tanya Laras kepada Fian yang masih tidur di pangkuannya.
__ADS_1
"Buat apa," tanya Fian sambil duduk dan menoleh ke arah Laras.
"Ya untuk menasehatinya, siapa tahu dengan sedikit nasehat dia mau berubah," jawab Laras sambil tersenyum.
"Apa kamu yakin dia akan berubah?" tanya Fian dengan rasa penasaran.
"Insya Allah," jawab Laras singkat sambil tersenyum.
"Masya Allah kamu sudah banyak perubahan selama ini, bahkan setiap kata yang keluar dari mulutmu begitu lembut dan sangat enak di dengar," ucap Fian sambil tersenyum dan mengecup bibir mungil Laras.
"Mas, kita shalat dzuhur dulu ya, khawatir kalau kita melakukan itu terlebih dahulu shalat kita akan tertunda," ucap Laras hingga membuat sang suami langsung beristighfar.
"Astagfirullahaladzim, terima kasih sudah mengingatkanku sekarang ayo kita sholat berjamaah," ajak Fian sambil membantu Laras turun dari tempat tidur.
Sejak usia kehamilan Laras memasuki usia 5 bulan dia terlihat lebih segar. Tidak lagi ada mual, bahkan untuk makan juga terlihat lebih lahap dari sebelumnya. Sehingga membuat Fian sedikit merasa lebih lega dan tenang.
Setelah menjalankan ibadah shalat zuhur Laras langsung berjalan ke arah dapur untuk makan siang. Fian yang biasanya ikut makan bersama sang istri kini justru tidak menemani Laras. Terlihat jelas kebingungan dari wajah Ratna saat melihat Laras berjalan sendiri ke arah dapur.
"Tumben Mbak Laras makan siang sendiri?" tanya Ratna saat melihat Laras sendirian.
"Iya, Mas Fian sedang istirahat siang. Ratna tolong siapkan makan siang untuk saya ya," perintah Laras sambil tersenyum ramah.
"Baik Mbak," jawab Ratna yang lalu berjalan ke arah kompor untuk menghangatkan sayur.
"Mbak Laras nggak takut kalau Pak Fian terpikat dengan perempuan lain?" tanya Ratna tanpa basa-basi.
"Suamiku bukanlah laki-laki muda ataupun seorang abg yang sangat mudah jatuh cinta, apalagi dengan usia yang tidak lagi muda jadi mana ada perempuan yang tertarik dengannya," jawab Laras sambil tersenyum.
"Tapi Mbak Laras harus hati-hati, karena walaupun sudah berumur tapi Pak Fian masih terlihat sangat gagah dan tampan saya yakin banyak perempuan yang mengantri untuk mendapatkannya," ucap Ratna seolah ingin membuat pikiran Laras kacau.
"Insya Allah saya tidak takut, karena Mas Fian pernah bilang apa yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk kita akan selamanya menjadi milik kita, tapi apa yang tidak untuk kita walau sekuat apapun kita mempertahankannya akan tetap lepas dari pegangan kita," jelas Laras sambil minum segelas air putih.
Mendengar jawaban Laras, Ratna menjadi sedikit kesal. Dia merasa usahanya dalam membuat Laras cemburu akan sangat sulit. Apalagi untuk memisahkan mereka.
"Ini Mbak makanannya," ucap Ratna sambil memberikan sepiring nasi kepada sang majikan.
"Terima kasih, oh ya saya mau bicara sebentar denganmu bisa?" ucap Laras sambil sedikit menjauhkan nasi yang masih sangat panas.
"Bisa Mbak," jawab Ratna sambil duduk di hadapan Laras.
"Kalau bisa tolong ganti cara berpakaianmu dengan yang sedikit longgar dan sopan, karena saya dengar hari ini ada keributan karena ada salah satu karyawan yang menggodamu dengan ucapan yang tidak sopan," jelas Laras kepada Ratna sambil menatap mata sang asisten rumah tangga.
"Ah itu mereka saja yang berpikiran mesum Mbak," jawab Ratna sambil membuang muka.
"Iya Saya tahu tapi alangkah baiknya kita sebagai perempuan harus bisa menjaga harga diri dan kehormatan kita, jangan justru malah mempertontonkannya di khalayak umum," jelas Laras sambil tersenyum.
__ADS_1
Ratna terlihat tidak peduli dengan semua nasehat Laras kepadanya. Sambil terlihat cuek dia pun langsung meninggalkan dapur tanpa berpamitan dengan sopan. Laras hanya tersenyum melihat tingkah asisten rumah tangganya sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa dia sopan terhadapmu," terdengar suara Fian yang sudah berdiri di belakang Laras.