
"Halo Mas Fian apa kabar?" tanya Wulan saat panggilan sudah terhubung.
"Ada apa kamu menghubungiku?" tanya Fian dengan nada kesal.
"Tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu besok siang di cafe biasa kita bertemu," jawab Wulan dengan nada manja.
"Maaf aku tidak bisa menemuimu, karena banyak kesibukan yang aku lakukan besok," ucap Fian lalu menutup ponselnya.
"Siapa yang baru saja menghubungi mu Mas?" tanya Laras dengan tiba-tiba hingga membuat Fian terkejut.
"Astagfirullah, kamu membuatku terkejut," ucap Fian sambil mengusap dadanya.
"Kamu terlalu serius dengan ponselmu, hingga kamu tidak menyadari keberadaanku yang sudah disini sejak tadi," jawab Laras yang terlihat kesal.
"Maaf Sayang, tadi Wulan yang menghubungiku," jawab Fian sambil memeluk pundak sang istri.
"Wulan, mau apa dia menghubungimu lagi?" tanya Laras yang mulai penasaran.
"Dia ingin mengajakku ketemu makan siang," jawab Fian sambil tetap memeluk pundak sang istri.
"Lalu, apakah kamu menerimanya," ucap Laras yang mulai khawatir.
"Tidak, karena besok aku ada meeting dengan beberapa klien bersama Papamu," jawab Fian sambil mencium sang istri.
"Berarti jika tidak ada meeting kamu akan menemuinya," ucap Laras dengan bibir yang mulai cemberut.
"Sudah ya kamu tidak perlu cemburu lagi, aku tidak akan pernah menemuinya sama sekali, oh ya bagaimana kalau malam ini kita menginap di sini lagipula aku juga sangat lelah untuk mengemudikan mobil," ucap Fian sambil mencium pipi sang istri.
Laras tidak menjawab pertanyaan Fian, dia langsung berjalan ke arah meja makan tanpa memperdulikan sang suami yang masih ada di belakangnya. Melihat tingkah Laras Fian hanya bisa tersenyum. Saat mereka sudah di dalam kamar untuk beristirahat.
"Sayang, apakah kamu sudah tidur," tanya Fian sambil memeluk tubuh Laras yang membelakanginya.
__ADS_1
"Belum, memangnya kenapa Mas?" tanya Laras yang langsung menoleh ke arah sang suami.
Fian yang sudah sangat merindukan Laras langsung mencium bibir sang istri dengan rakus. Perlahan dia mulai melakukan belaian demi belaian dan kecupan kepada setiap lekuk tubuh Laras. Hingga membuat sang istri sangat menikmati permainan yang dia lakukan malam ini.
"Sayang aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," bisik Fian di telinga Laras yang saat itu sudah menikmati permainan lembutnya.
***
"Sayang, kamu di sini saja dulu karena aku mau langsung ke proyek bersama Papa," ucap Fian saat dia sudah rapi.
"Iya, hari ini aku ingin sekali ke pasar, apa kamu mengizinkan aku untuk ke pasar bersama Mama dan Shafira," tanya Laras sambil merapikan kemeja Fian yang terlihat kusut.
"Boleh tapi jangan ke pasar tradisional, kasihan Shafira kalau harus kesana lebih baik kamu ke pusat perbelanjaan saja," ucap Fian yang sibuk dengan ponselnya.
"Iya Sayang aku akan ke pusat perbelanjaan, yang dekat dengan tempat ini," jawab Laras sambil tersenyum.
"Sudah aku transfer ke rekening kamu ya, apa kamu mau aku antar ke pusat perbelanjaan," ucap Fian sebelum keluar kamar.
Setelah sarapan bersama Fian dan Arman pun pamit ke proyek karena ada meeting yang harus mereka lakukan pagi ini. Siang hari tepat saat jam makan siang. Laras dan Sophia yang sudah puas memutari pusat perbelanjaan berencana mendatangi proyek tempat Fian dan Arman melakukan meeting.
"Nak, bagaimana kalau kita memberi kejutan kepada Papa dan Fian," ucap Sophia kepada Laras.
"Maksud Mama kita makan siang di proyek bersama mereka?" tanya Laras yang penasaran dengan ide sang mama.
"Iya, lagi pula 'kan Mama belum tahu dimana tempat kerja Papa selama ini," jawab Sophia sambil berjalan dan mendorong stroller.
"Mama benar, kalau begitu aku akan beli makan siang dulu untuk kita," ucap Laras yang langsung berbelok ke sebuah restoran untuk membeli makan siang.
Tepat pukul 12 siang Fian menghentikan meeting untuk makan siang. Siang itu Fian dan Arman berencana untuk makan di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari proyek. Saat mereka baru saja keluar dari ruang meeting tiba-tiba seorang wanita memeluk tubuh Fian dengan erat.
"Hai Mas, apa kabar siang ini kita makan bersama ya," ucap perempuan itu sambil memeluk Fian.
__ADS_1
"Siapa perempuan itu," batin Arman yang masih berdiri mematung sambil menatap Fian dan perempuan itu.
"Apa yang kamu lakukan disini, aku sudah bilang padamu kalau aku tidak akan menemuimu dan tolong jangan ganggu hidupku lagi," ucap Fian yang langsung melepaskan pelukan Wulan.
"Kenapa sih kamu jahat banget, ini pasti gara-gara Laras," jawab Wulan sambil terlihat kesal.
"Memang perempuan ini siapa Fian?" tanya Arman yang sangat penasaran.
"Hai Om aku Wulan, kekasih Fian," jawab Wulan sambil menjabat tangan Arman.
"Kekasih," jawab Arman singkat sambil menoleh ke arah Fian yang terlihat kesal.
Wulan memang tidak mengenal sosok Arman. Dia menganggap Arman hanyalah seorang rekan bisnis biasa. Jadi dengan bangganya dia memperkenalkan dirinya sebagai kekasih dari Fian.
"Fian, jelaskan kepada saya apa benar dia kekasihmu!" bentak Arman sambil berteriak.
"Dia hanya mantan pacar Fian Pak, sampai saat ini Fian tidak pernah menghianati Laras," jawab Fian dengan gugup.
"Awalnya saya pikir kamu adalah laki-laki setia, tapi ternyata kamu justru menyakiti putriku dengan cara masih menjalin hubungan dengan perempuan ini," ucap Arman dengan rasa kecewa yang dalam.
"Putri, berarti laki-laki ini Ayah dari Laras," batin Wulan sambil terkejut.
"Demi Allah, saya tidak ada hubungan apapun dengan perempuan ini dan hubungan saya dan Wulan sudah lama berakhir sebelum saya mengenal Laras," jelas Fian kepada sang mertua.
"Ya ampun Sayang, tega sekali kamu bicara seperti itu, padahal selama ini kamu bilang jika kamu sangat mencintaiku," ucap Wulan sambil pura-pura menangis.
"Diam kamu! Jangan membuat namaku buruk di depan mertuaku, hubungan kita memang sudah lama berakhir jauh sebelum aku menikah," bentak Fian dengan nada tinggi hingga membuat seluruh tukang yang ada di situ menoleh ke arah mereka.
"Saya benar-benar kecewa kepadamu Fian, saya harap hari ini kamu segera mengurus surat perceraian mu dan Laras, karena saya tidak mau putri saya di sakiti oleh laki-laki sepertimu," ucap Arman sambil meninggalkan Fian dan berjalan ke arah mobilnya.
"Pak! saya mohon dengarkan penjelasan saya dulu. Saya berani bersumpah jika saya dan Wulan memang tidak ada hubungan apa-apa," teriak Fian sambil mengejar Arman yang berjalan dengan keadaan emosi.
__ADS_1
"Plak!" Fian dan Arman langsung berhenti saat mendengar sebuah suara tamparan yang keras dari arah Wulan.