
"Insya Allah kami bersedia merawat Shafira sampai Laras benar-benar sembuh," ucap Arman yang ternyata sudah ada di dalam kamar Laras.
"Iya Sayang, kamu tidak perlu khawatir dengan Shafira, setelah dari rumah sakit Papa dan Mama akan jemput Shafira ke rumah kalian, agar Fian bisa fokus merawatmu selama kamu sakit," tambah Sophia sambil duduk di kursi samping tempat tidur Laras.
"Pak, Bu kami ucapkan terima kasih, karena Bapak dan Ibu bersedia membantu kami di saat kondisi seperti ini," ucap Fian sambil tersenyum ramah kepada mertuanya.
"Iya sama-sama, satu lagi mulai besok Papa akan kembali membantumu mengawasi proyek pembangunan seperti dulu, bukan karena ada saham Laras di situ tapi saya hanya ingin kamu bisa fokus kepada kesembuhan Laras," jelas Arman sambil tersenyum ramah.
"Pa, untuk masalah Wulan dan Mas Fian sebenarnya …." belum selesai Laras menjelaskan arman langsung memotong ucapan sang putri.
"Sudah biarkan itu menjadi masa lalu antara Fian dan Wulan, Papa juga tahu jika saat ini Wulan menjadi buronan Polisi karena kasus pembunuhan terhadap sahabatnya," jelas Arman hingga membuat Laras dan Fian tekejut dan saling menatap.
"Buronan? Maksud Papa," tanya Laras yang penasaran dengan ucapan Arman.
"Apa kalian tidak tahu, jika beberapa hari lalu wajah gadis itu di siarkan di seluruh televisi karena dinyatakan sebagai tersangka kasus pembunuhan terhadap sahabatnya yang bernama Ratna," jelas Arman kepada Laras dan Fian.
"Iya, kemarin Ibu juga melihat berita itu di televisi yang lebih mengejutkan lagi Ratna yang selama ini menjadi pembantu kalian adalah sahabat dari mantan kekasih Fian, " tambah Sophia sambil mengusap rambut Laras dengan lembut.
“Sudah hal itu tidak perlu kita bahas lagi, anggap saja sebagai sebuah ujian untuk keluarga kita agar kita bisa saling memaafkan dan menghargai satu sama lain, Fian bagaimana keadaan Laras?” tanya Arman kepada Fian yang sejak tadi hanya terdiam sambil memandang Laras.
Mendengar pertanyaan Arman, Fian yang terkejut mulai menjelaskan tentang penyakit Laras saat ini. Serta memberitahukan jika Laras tidak mau melakukan operasi pengangkatan tumor. Mendengar penjelasan Fian Arman dan Sophia sedikit kecewa dengan keputusan sang putri.
“Sayang, kenapa kamu tidak mau melakukan operasi itu?” tanya Sophia kepada Laras sambil menggenggam tangan sang putri.
“Tidak Ma, Insya Allah Laras sudah ikhlas dengan apapun yang terjadi nantinya,” jawab Laras sambil tersenyum.
“Nak, kita memang harus ikhlas dengan apa yang Allah tetapkan untuk kita walaupun itu hal sepahit apapun, tapi bukan berarti kita tidak berusaha dan terus menyerah dengan kondisi kita saat ini,” jelas Sophia sambil membelai rambut putri kesayangannya.
__ADS_1
“Tapi Ma ….” baru saja Laras ingin menjawab Arman langsung memotong jawaban Laras.
“Sudah biarkan dia menentukan kehidupannya sendiri, Papa yakin Laras lebih tahu dengan kondisi tubuhnya saat ini,” jawab Arman sambil tersenyum.
Laras yang selama ini selalu tertawa bahagia bersama orang-orang terdekatnya, kini harus menahan rasa sakit di perutnya. Wajah pucat terlihat jelas pada diri Laras. Namun, untuk membuat suami dan orang tuanya dia berusaha untuk terus tersenyum dan kuat seolah tidak merasakan apapun.
“Senyummu hanya palsu Sayang, aku tahu dan aku bisa merasakan sakit yang kamu rasakan saat ini,” batin Fian sambil terus menatap sang istri yang sedang berbaring di hadapannya.
***
Setelah hampir satu minggu Laras di rawat di rumah sakit. Kini sang dokter yang menanganinya memberikan izin untuk pulang ke rumah. Setelah membayar tagihan rumah sakit sang dokter memberikan pesan agar Laras tidak boleh mengalami stress, kecapean, dan perbanyak makan sayur dan buah.
“Kamu istirahat dulu ya, aku akan ke dapur untuk membuatkan teh hangat dan makan siang untukmu,” ucap Fian sambil menutup tubuh Laras dengan selimut.
Laras tidak menjawab ucapan sang suami dia hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.
“Iya Pak,” jawab Mbok Ijah yang langsung merebus sedikit air di atas kompor.
“Mbok mulai besok pisahkan makanan saya dan seluruh karyawan dengan makanan Laras ya,” ucap Fian yang langsung membuat Mbok Ijah terdiam dan heran.
“Memangnya kenapa Pak, bukannya selama ini kita selalu masak dalam tempat yang sama?” tanya Mbok Ijah dengan penasaran.
“Karena Laras hanya boleh makan nasi dan sayur saja, untuk ayam buang kulitnya sisakan daging ayamnya saja, jangan kasih daging sapi yang banyak mengandung lemak, dan jangan berikan penyedap ataupun vetsin di dalamnya, jadi khusus punya Laras kasih saja garam dan gula," jelas Fian yang langsung dibalas anggukan oleh Mbok Ijah.
“Mbok bisa membuat bubur ayam?” tanya Fian kepada Mbok Ijah.
“Bisa Pak, memang Mbak Laras mau di buatkan bubur ayam?” jawab Mbok Ijah.
__ADS_1
“Tolong buatkan bubur untuk Laras ya Mbok, nanti kalau sudah siap tolong antarkan ke kamar saya,” ucap Fian kepada Mbok Ijah sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Setelah menunggu beberapa lama Mbok Ijah pun memberikan secangkir kopi dan teh hangat kepada Fian. Fian pun bergegas mengantar teh tersebut kepada sang istri yang sudah menunggunya di dalam kamar.
"Sayang, kamu minum dulu teh hangatnya ya, Makan siang untukmu sedang di buatkan Mbok Ijah," ucap Fian sambil membantu Laras minum segelas teh hangat.
"Terima kasih ya Mas, maafkan aku sudah merepotkanmu selama ini, " ucap Laras sambil tersenyum.
"Sayang, aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu, sudah kewajibanku menjaga dan merawatmu, aku harap kamu mau berjuang dan semangat untuk sembuh ya," jawab Fian sambil tersenyum lalu mencium kening sang istri.
Hari itu adalah hari yang sangat melelahkan bagi Fian dan Laras. Karena hampir satu minggu mereka tidur di rumah sakit dengan rasa tidak nyaman. Hingga tanpa terasa setelah menyuapi Laras mereka pun tertidur dengan pulasnya.
Keesokan paginya Fian yang bangun lebih pagi daripada yang lain langsung keluar dan berniat untuk membersihkan mobil kesayangannya. Namun, saat dia berdiri di samping mobilnya, Fian terkejut karena secara jelas dia melihat bagian belakang mobilnya mengalami pecah seolah ada yang dengan sengaja memecahnya menggunakan benda keras. Fian yang sudah penuh dengan emosi langsung berjalan ke arah kamar Bejo untuk menanyakan pecahnya lampu belakang mobilnya.
"Assalamualaikum, Bejo, " panggil Fian sambil mengetuk pintu kamar sang karyawan.
"Waalaikumsalam, ada apa Pak? " tanya Bejo dengan penasaran.
"Cepat ikut saya sekarang, " perintah Fian dengan nada kesal.
bejo yang saat itu bingung dengan sikap sang majikan hanya bisa mengikuti langkah kaki Fian.
"Kenapa lampu mobil saya pecah? Dan anehnya tidak satu tapi semuanya," tanya Fian dengan emosi yang menggebu-gebu.
Fian adalah tipe orang yang sangat merawat barang yang dia miliki dengan kehati-hatian. Karena apa yang dia miliki saat ini adalah hasil kerja keras yang panjang. Jadi tidak heran dia akan sangat marah jika barang pribadinya rusak apalagi tanpa ada yang memberitahu ataupun minta maaf.
__ADS_1