Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 50


__ADS_3

"Menurut pemeriksaan yang telah kami lakukan ada tumor di rahim Ibu Laras yang membuatnya mengalami sakit yang hebat," ucap sang dokter dengan wajah yang terlihat sedih.


"astagfirullahaladzim," jawab Fian yang langsung meneteskan air matanya. 


"kami harus segera melakukan tindakan operasi kepada Istri Bapak agar kami bisa segera mengangkat tumor tersebut, dan mengetahui apakah tumor ini berbahaya apa tidak," jelas Dokter kepada Fian sambil memegang bolpoin di tangannya.


"Beri saya waktu untuk membicarakan ini kepada keluarga saya terutama Istri saya Dok," jawab Fian yang terlihat berkaca-kaca.


"Silahkan Pak, tapi saya harap tidak terlalu lama karena kami khawatir jika tumor itu ganas," ucap sang dokter.


Setelah berbicara dengan Dokter Fian langsung berjalan ke arah ruangan Laras dengan sempoyongan. Penjelasan Dokter benar-benar membuatnya lemas seakan tidak memiliki tulang dan energi untuk menopang tubuhnya. Sesaat Fian duduk di kursi koridor rumah sakit sebelum memasuki ruangan sang istri.


"Kamu kenapa Fian?" tanya Arman yang saat itu baru saja dari minimarket.


"Bapak dari mana?" tanya Fian terkejut sambil mengusap air matanya dengan kedua jarinya.


"Bapak dari minimarket, Laras minta tolong untuk dibelikan minuman dan roti, kamu sendiri kenapa tidak masuk," ucap Arman sambil terlihat heran melihat sikap sang menantu.


"Apa bisa Fian bicara dengan Bapak sebentar saja," ucap Fian sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Iya tentu, ada apa coba kamu ceritakan kepada Bapak apa yang telah terjadi,"perintah Arman sambil duduk di sebuah kursi.


Fian mulai menceritakan tentang apa yang baru saja dia dengar dari Dokter. Arman yang mendengar ucapan sang menantu langsung bersandar di kursi koridor rumah sakit. Seketika kantong plastik yang ada di genggamannya pun jatuh berserakan di lantai.


"Ya Allah kasihan Laras, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arman dengan wajah sedih.


"Jalan satu-satunya hanya operasi, tapi saya bingung bagaimana saya menyampaikan ini kepada Laras," ucap Fian sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kamu tidak perlu bingung bercerita kepadaku Mas, aku ikhlas jika aku harus menjalani operasi," ucap Laras yang ternyata sudah berada di depan pintu kamarnya.


"Sayang, kenapa kamu keluar kamar?" tanya Fian yang langsung berdiri dan mendekati istrinya.

__ADS_1


"Iya Nak, harusnya kamu istirahat saja di kamar," ucap Arman sambil mengambil barang-barang yang terjatuh.


"Aku tidak apa-apa Mas, kapan operasinya akan dilakukan?" tanya Laras sambil menatap mata Fian.


"Apa kamu yakin siap melakukan operasi ini," ucap Fian kepada Laras sambil memegang pundak sang istri.


"Insya Allah aku yakin, seperti apa yang kamu bilang apa yang menurut kita buruk belum tentu buruk di mata Allah, dan yakin operasi ini adalah baik untukku dan Allah," ucap Laras sambil tersenyum kecil.


Laras terlihat sangat pucat dan lemah. Jangankan untuk berdiri berjalan saja dia belum sepenuhnya kuat. Fian dan Arman berusaha membantu Laras untuk kembali ke tempat tidurnya dengan perlahan.


"Pak, Fian titip Laras sebentar karena saya akan ke ruangan Dokter," ucap Fian setelah membantu Laras berbaring ke tempat tidurnya.


"Iya, lebih baik kamu cepat urus operasi Laras agar dia bisa cepat sembuh," jawab Arman sambil menepuk pundak Fian.


Saat Arman sedang menjaga sang putri dan dengan perlahan menyuapi Laras. Tiba-tiba terdengar suara ponsel dari saku celana Arman. Setelah memberikan roti kepada Laras, Arman segera keluar kamar dan mengangkat teleponnya.


"Hallo, Assalamualaikum," ucap Arman saat panggilan terhubung dengan sang istri.


"Laras besok melakukan operasi, karena dia menderita tumor rahim," jawab Arman yang langsung membuat Sophia terkejut dan menangis.


"Ya Allah, kalau begitu besok pagi Mama akan ke rumah sakit," ucap Sophia sambil terdengar panik.


"Jangan Ma, kasihan Shafira lebih baik Mama di rumah jaga Shafira dengan baik biar Papa dan Fian yang menjaga Laras sampai selesai operasi," jelas Arman kepada Sophia yang tengah panik.


"Tapi Pa …." belum selesai Sophia menjawab Arman langsung menasehatinya.


"Mama percaya sama Papa dan berdoa insya Allah semuanya akan baik-baik saja, kasihan Shafira kalau harus di rumah sakit dengan waktu yang lama," jelas Arman hingga membuat Sophia sedikit merasa tenang.


***


Pagi ini Laras mulai dibawa ke ruang operasi oleh beberapa Suster. Operasi ini adalah operasi kedua setelah Laras melahirkan Shafira. Namun, entah kenapa hati dan perasaan Fian benar-benar takut dan khawatir.

__ADS_1


Hampir 4 jam lamanya Laras berada di dalam ruang operasi. Namun, tidak ada tanda-tanda Dokter ataupun Suster yang keluar dari ruang operasi. Fian dan Arman menunggu dengan keadaan cemas.


"Bapak Fian!" teriak seorang dokter sambil memanggil nama Fian.


"Iya Dok, bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Fian saat sudah berdiri di hadapan sang dokter dengan di temani Arman.


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, dan ini benjolan tumor yang ada di dalam rahim Istri Bapak," jelas sang dokter sambil menunjukkan foto di dalam ponselnya.


"Ya Allah sudah lumayan besar ya Dok," jawab Fian saat melihat sebuah benda bulat yang ada di ponsel sang dokter dan ternyata benjolan itu sudah berukuran hampir sebesar bola kasti.


"Itulah kenapa kami meminta Bapak untuk segera mengambil keputusan, baik kalau begitu saya permisi dulu dan Ibu Laras akan dipindahkan ke ruangannya saat dia sudah sadar dari obat biusnya," ucap sang dokter sebelum masuk ke dalam ruang operasi.


"Alhamdulillah Pak, Akhirnya operasinya berhasil," ucap Fian dengan bernafas lega.


"Alhamdulillah," ucap Arman dengan perasaan senang.


Laras yang mulai sadar dari pengaruh obat bius. Langsung dipindahkan ke ruangannya. Perlahan dia mulai belajar makan dan minum.


"Kamu mau makan apa Sayang, biar aku belikan sekarang ya?" tanya Fian sambil membelai rambut Laras.


"Tidak Mas, aku hanya ingin minum karena aku sangat haus sekali," jawab Laras dengan terbatah-batah karena kondisinya yang masih sangat lemas.


"Kalau begitu Bapak pamit dulu ya, kasihan Ibu dan Shafira di rumah sendirian sejak semalam," ucap Arman kepada anak dan menantunya.


"Iya Pak, terima kasih Bapak sudah mau menemani saya semalaman ini," ucap Fian sambil menjabat tangan mertuanya dan menciumnya.


Ini pertama kali Fian mencium tangan Arman, biasanya Fian hanya menjabat tangan Arman seperti orang yang bersalaman. Laras yang melihat moment itu hanya tersenyum bahagia. Hingga tiba-tiba dia dikejutkan dengan panggilan Arman kepadanya.


"Nak, Papa pulang dulu kamu harus cepat sembuh biar bisa bermain lagi dengan Shafira," ucap Arman lalu mencium kening sang putri kesayangan.


"Iya Pa, Laras titip Shafira dulu ya Pa," jawab Laras sambil mencium tangan Ayahnya.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, insya Allah Shafira aman bersama kami," ucap Arman sambil tersenyum.


__ADS_2