Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 23


__ADS_3

Setelah mematikan ponselnya Fian langsung berdiri dari tempat tidurnya. Perlahan dia mulai berjalan keluar pintu untuk menuju ke bengkelnya. Laras yang melihat suaminya berjalan dengan sempoyongan langsung memegang tangan Fian.


"Kamu mau kemana Mas?" tanya Laras sambil memegang tangan Fian.


"Aku mau menemui Bejo sebentar, aku lupa kalau kita sudah memesan nasi kotak untuk hari ini," jawab Fian sambil berusaha kuat.


"Kamu duduk saja dulu, aku pake hijab ku dulu," ucap Laras sambil memapah sang suami menuju ke tempat tidur.


Setelah memakai hijabnya Laras segera membantu Fian untuk berjalan ke arah bengkel. Terlihat bejo yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Laras yang sedang menggandeng Fian langsung memanggil Bejo.


"Bejo! Bejo," teriak Laras sambil memanggil Bejo dan memapah sang suami menuju ke ruang kerjanya.


"Bejo! dipanggil Mbak Laras tuh, " Ucap Eko yang saat itu berada di samping Bejo sambil sedikit berteriak.


"Iya Mbak, " Jawab Bejo sambil berlari ke ruangan sang atasan.


"Bejo ini kunci mobil tolong ambilkan pesanan nasi kotak saya di restoran yang ada di ujung jalan sana, semua biayanya sudah dibayar setelah kamu dari situ berikan nasi kotak tersebut di Panti Asuhan tempat biasa saya memberikan donasi, " ucap Fian sambil memberikan sebuah kunci mobil kepada Bejo.


"Siap Bos, " ucap Bejo sambil Berdiri dan mengambil kunci yang ada di meja.


Setelah mengambil kunci mobil Bejo pun langsung berjalan ke restoran yang ditunjuk oleh atasannya. Laras yang melihat kondisi Fian. Langsung mengajak sang suami kembali ke dalam kamar agar dia bisa beristirahat.


"Mana Bos mu?" tanya Siska saat bertemu Bejo di gerbang bengkel.


"Ada di dalam Mbak, Pak Fian sedang sakit," jawab Bejo sambil menoleh ke arah Siska.


"Sakit, ini pasti gara-gara perempuan miskin itu," ucap Siska sambil berjalan masuk ke dalam bengkel.


"Eh dasar kamu perempuan yang tidak bisa diandalkan, lihat Adikku sampai sakit ini pasti gara-gara kamu," ucap Siska sambil mendorong kepala Siska.


"Maaf Kak, saya juga tidak tahu kenapa Mas Fian bisa sakit seperti ini," ucap Laras sambil terus menggandeng tangan Fian.


"Alah alasan saja kamu, sudah sini biar aku yang bawa Fian masuk ke dalam kamar," jawab Siska sambil mendorong tubuh Laras.


"Kak! Laras tidak bersalah dalam hal ini dan aku minta jaga sikap Kakak kepada Laras karena saat ini dia sedang hamil anakku," bentak Fian sambil memegangi tubuh Laras yang hampir terbentur tembok.


"Kamu ini dibelain Kakaknya kok malah marah-marah, lagi pula hamil itu bukan alasan untuk wanita bermalas-malasan apalagi sampai tidak becus ngurus suami," jawab Siska sambil menoleh ke arah Laras yang sedang menunduk di hadapan Siska.


"Kalau Kak Siska kesini hanya untuk membuat masalah lebih baik Kakak pulang, aku sudah ada Laras yang mengurusku," ucap Fian seolah mengusir sang kakak.


"Dasar kamu Adik tidak tahu balas budi, sejak kecil yang merawat kamu itu aku, dan sekarang karena perempuan miskin ini kamu justru melupakan kebaikan Kakakmu ini!" bentak Siska sambil menunjuk ke wajah Laras.


"Maaf Kak, mungkin maksud Mas Fian bukan mengusir atau melupakan kebaikan Kakak," jawab Laras yang ingin menjadi penengah dalam masalah Fian dan Siska.


"Diam kamu perempuan miskin, ini semua itu gara-gara kamu, aku yakin Fian berani membantahku pasti karena hasutanmu!" bentak Siska sambil mendorong tubuh Laras.


"Cukup Kak, sekarang aku minta cepat Kakak pergi dari tempat ini, Laras antar aku ke kamar sekarang," ucap Fian sambil berjalan dengan perlahan.

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Laras yang langsung menggandeng tangan sang suami.


Setelah Fian dan Laras masuk ke dalam kamar. Siska pun langsung pulang ke rumahnya dengan rasa kesal dan marah. Dia langsung menghubungi Ardi untuk memberitahukan kondisi sang adik.


"Halo, assalamualaikum," ucap Siska saat panggilannya terhubung.


"Waalaikumsalam, ada apa malam-malam kamu menghubungiku," tanya Ardi dengan penasaran.


"Abang sudah tahu kalau Fian sekarang sakit parah," tanya Siska sambil memasang suara sedih.


"Sakit parah, kamu tahu darimana," tanya Ardi penasaran.


"Tadi aku main ke rumah Fian karena aku mendengar kabar dari Bejo jika Fian sakit, tapi saat aku sampai disana aku malah diusir oleh Laras, dan dia juga memfitnah ku di hadapan Fian," jawab Siska sambil berpura-pura menangis.


"Besok pagi aku kesana, biar aku tanyakan kepada Fian," ucap Ardi sambil menutup ponselnya.


"Bagus, aku harap perempuan itu cepat pergi dari rumah ini dan dengan begitu aku bisa menguasai harta Fian dan warisan orang tuaku melalui Wulan," batin Siska sambil tersenyum sinis.


***


Keesokan harinya Fian yang merasa kondisinya lebih baik berniat berangkat ke proyek. Sebenarnya Laras sudah melarang sang suami pergi ke proyek dengan kondisi yang masih belum sehat. Namun, karena ada pertemuan dengan beberapa klien membuat Fian tidak dapat memenuhi permintaan sang istri.


"Aku berangkat ke proyek dulu ya," ucap Fian sambil meletakkan sisir di atas meja rias.


"Kamu yakin Mas, apa tidak lebih baik kamu istirahat dulu," saran Laras sambil berjalan dan memeluk sang suami dari belakang.


"Kalau begitu aku ikut ke proyek ya, jujur aku benar-benar khawatir dengan kondisimu," pinta Laras sambil menatap sang suami.


"Tidak bisa, proyek itu bukan tempat yang aman untukmu dan anak kita, apalagi semalam hujan badai jadi jalan nya pasti licin," jelas Fian sambil mengajak Laras duduk di tempat tidur.


"'kan aku bisa menunggumu di mobil," rengek Laras kepada suaminya.


"Sayang, aku sudah sehat, dan aku janji setelah pertemuan aku pasti langsung pulang," ucap Fian sambil meyakinkan sang istri.


"Kalau begitu biar aku mengantarmu sampai di depan gerbang," pinta Laras sambil sedikit cemberut.


"Iya boleh," jawab Fian sambil meraih tangan sang istri yang ada di hadapannya.


Setelah menggunakan hijabnya Laras pun berjalan sambil menggandeng tangan sang suami. Setelah berpamitan Fian pun langsung masuk ke dalam mobil dan langsung mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah proyek. Karena hari itu masih pukul 7 jadi bengkel masih kosong karena karyawan biasanya baru datang sekitar pukul 9.


"Tunggu!" teriak seseorang saat Laras mulai menutup pintu gerbang.


"Abang," ucap Laras sambil mencium tangan Ardi.


"Mana Fian?" tanya Ardi tanpa menjabat tangan Laras.


"Mas Fian sudah berangkat ke proyek Bang," jawab Laras dengan mulut gemetar.

__ADS_1


"Apa! Jadi kamu menyuruh Adikku bekerja dengan kondisi sakit," bentak Siska sambil berteriak.


"Tidak Kak, demi Allah saya tidak meminta Mas Fian ke proyek," ucap Laras sambil membela diri.


"Jangan kamu buat Adik ku seperti sapi perahan yang bisa kamu manfaatkan uang dan hartanya," jawab Ardi sambil menatap Laras yang menunduk.


"Tidak Bang, saya tidak pernah berniat menjadikan Mas Fian sebagai sapi perahan, apalagi memanfaatkan uang dan hartanya untuk kepentingan saya," jawab Laras sambil menoleh ke arah Ardi dengan mata berkaca-kaca.


"Alah pengalihan saja kamu, aku tahu semua niat busukmu Laras," teriak Siska sambil mendorong kepala Laras hingga dia mulai menangis.


"Ada apa Jo, kok seperti ada ribut-ribut di depan," ucap Mbok Ijah kepada Bejo.


"Iya, ayo Mbok kita lihat," ajak Bejo kepada Mbok Ijah.


"Asal kamu tahu aku dan keluargaku tidak pernah mau memiliki ipar murtad sepertimu, apalagi punya keponakan yang lahir dari rahimmu!" bentak Siska sambil mengangkat dagu Laras.


"Lepaskan Mbak!" teriak Bejo yang baru saja keluar dari dapur.


"Mau apa kamu, jangan ikut campur dengan urusan keluarga kami," jawab Ardi dengan tatapan marah.


"Mbok ajak Mbak Laras masuk ke kamarnya," perintah Bejo kepada Mbok Ijah.


"Enak saja asal bawa perempuan ini, tidak! Perempuan ini harus pergi dari sini karena dia sudah membawa masalah di keluarga kami," bentak Siska sambil menarik tangan Laras.


"Jangan coba-coba menyakiti Mbak Laras," ucap Bejo kepada Siska.


"Memangnya kamu siapa berani mengatur kami, sadar dong. Kamu hanya pegawai rendahan di sini jawab Ardi sambil menatap Bejo.


"Saya memang pegawai rendahan disini, tapi semua yang ada disini dalam pengawasan dan persetujuan saya, dan semua itu sesuai dengan perintah Pak Fian kepada saya. Jadi sekarang saya minta lepaskan tangan Mbak Laras," perintah Bejo sambil menatap Siska dengan tatapan penuh amarah.


"Kalau saya tidak mau apa yang akan kamu lakukan," jawab Siska seolah menantang bejo.


Bejo yang sejak tadi menahan amarahnya langsung menarik tangan Laras dengan kasar. Hingga membuat Siska terkejut dengan apa yang dilakukan karyawan Fian. Laras yang saat ini sudah aman dengan Mbok Ijah hanya bisa menangis dan meminta maaf atas kesalahannya kepada keluarga Fian. 


"Dasar pegawai tidak tahu diri!" teriak Ardi sambil menonjok wajah Bejo hingga terjatuh ke lantai.


Berkali-kali Bejo mendapatkan pukulan dari Ardi hingga membuat seluruh wajahnya mengalami luka memar. Bejo hanya pasrah, yang ada dalam hatinya adalah keselamatan istri sang atasan. Laras dan Mbok Ijah berusaha meminta tolong sambil berteriak.


"Tolong! Tolong, Aku mohon Bang lepaskan dia," teriak Laras sambil menangis.


"Diam Kamu perempuan murtad!" bentak Siska sambil memegangi Laras.


"Aku Mohon Kak lepaskan Bejo, dia hanya berusaha menjalankan perintah dari Mas Fian," ucap Laras sambil merontah.


Saat Ardi sedang sibuk memukuli Bejo hingga lemas. Sedangkan Siska terus memegangi Laras dan Mbok Ijah. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan teriakan dari belakangnya.


"Lepaskan mereka!" tiba-tiba terdengar suara bentakan dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2