
Ruang operasi yang dingin menjadi saksi perjuangan Laras untuk bisa melahirkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Fian dan kedua orang tua Laras menanti di koridor rumah sakit dengan rasa bingung dan khawatir. Hanya doa yang bisa mereka panjatkan untuk keselamatan Laras dan calon buah hatinya.
Saat suasana tegang menghampiri Fian dan kedua orang tua Laras. Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi yang begitu kuat. Seketika membuat Fian dan seluruh keluarga menangis terharu.
"Keluarga Ibu Khania Larasati!" teriak seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Iya Dok, saya suaminya. Bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Fian saat berdiri di hadapan sang dokter.
"Selamat Pak, Anak dan Istri anda selamat," jawab sang dokter sambil tersenyum.
"Kalau boleh tahu cucu saya laki-laki atau perempuan?" tanya Arman dengan rasa bahagia dan penasaran.
"Ibu Laras melahirkan seorang putri yang sehat dan cantik," jawab sang dokter.
"Alhamdulillah," ucap Fian dan seluruh keluarganya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Ibu Laras akan segera kami pindahkan ke kamar inap jika Bapak dan Ibu mau melihat bayinya bisa di lihat di kamar bayi," jelas sang dokter lalu berjalan meninggalkan Fian dan keluarga Laras.
Fian yang mendengar kelahiran putri pertamanya merasa bahagia. Namun, seketika itu juga dia mengingat apa yang telah dia lakukan bersama Ratna semalam. Seketika kaki yang biasanya kuat kini menjadi rapuh seolah tak bertulang hingga membuatnya duduk di sebuah kursi.
"Ya Allah, semoga kelahiran putri ku bisa membawa kebahagiaan untukku dan Laras," batin Fian sambil mengusap air matanya.
"Fian, cepat kuburkan ari-ari putrimu di rumah kalian, tapi sebelum kamu pulang temui dulu putrimu dan adzankan dia," perintah Arman sambil duduk di samping sang menantu.
"Iya Pak, tapi bagaimana dengan Laras?" tanya Fian sambil terlihat cemas saat akan meninggalkan rumah sakit.
"Insya Allah Laras aman bersama kami," jawab Sophia sambil menoleh ke arah Fian.
Mendengar jawaban kedua mertuanya Fian langsung berjalan ke arah ruang bayi dengan ditemani Arman dan Sophia. Terlihat seorang bayi yang cantik, putih dan begitu sehat. Terlihat jika bayi itu memiliki berat badan yang sangat besar membuat kedua pipinya yang merah terlihat begitu tembem dan menggemaskan.
"Anak yang cantik, semoga kelak engkau bisa menjadi perempuan yang kuat dan sholeha seperti Mama mu," batin Fian sambil menatap sang putri dari luar ruangan.
"Bapak Fian," panggil seorang petugas ruangan bayi.
"Iya Sus," jawab Fian sambil berjalan mendekati sang suster.
"Apa Bapak mau mengadzankan putri Bapak?" tanya sang suster kepada Fian.
"Iya Sus," jawab Fian sambil masuk ke dalam ruang bayi.
Lantunan adzan yang merdu keluar dari mulut Fian. Air mata kebahagiaan kini mulai menetes di pipinya bersamaan dengan tangisan sang putri yang ada di gendongannya. Fian seakan tidak percaya di usianya yang menginjak 43 tahun justru bisa memiliki seorang putri yang sangat cantik dan sehat.
"Jadilah anak sholeha yang bisa memakaikan mahkota di kepala orang tuamu saat kami sudah meninggal dunia nanti, Abi tidak butuh gelar mu di dunia tapi yang Abi butuhkan adalah agama yang kuat yang akan engkau pegang hingga ajal menjemputmu," bisik Fian kepada sang putri.
"Maaf Pak, apa sudah ada nama untuk Putri Bapak?" tanya Suster saat Fian selesai mengadzani putri kecilnya.
"Sudah Sus, namanya Shafira agar kelak dia bisa menjadi seorang perawi hadis dan hafidz qur'an," jawab Fian sambil menyerahkan Shafira kepada sang suster.
"Baik nanti akan saya catat di papan nama dan buku keterangan lahir," jawab sang suster sambil menggendong Shafira dengan lembut.
Setelah memberikan putri kecilnya kepada sang suster Fian langsung segera menuju pulang ke rumahnya untuk menguburkan ari-ari putri pertamanya. Terlihat bengkel sudah terbuka dengan lebar, beberapa karyawan juga sudah mulai bekerja. Setelah mengubur ari-ari tersebut Fian meminta Ratna untuk membawa semua barang-barangnya dan segera ikut bersamanya.
"Cepat kamu kemasi barang-barangmu dan ikut denganku sekarang juga," perintah Fian sambil berdiri di samping Ratna yang sibuk memasak.
"Kita mau kemana Sayang, apa kita akan pergi bulan madu?" tanya Ratna sambil memeluk tangan Fian.
"Lepaskan tanganmu, aku tidak mau semua orang melihat apa yang kamu lakukan," ucap Fian sambil melepaskan tangan Ratna dan berjalan keluar dari dapur.
***
__ADS_1
"Ibu, dimana Mas Fian?" tanya Laras saat dia mulai sadar dari pengaruh obat bius.
"Fian kami suruh pulang untuk mengubur ari-ari Shafira Nak, kamu mau minum?" tanya Sophia sambil membelai rambut putri semata wayangnya.
"Iya Bu," jawab Laras dengan perlahan.
"Selamat sore Ibu Laras, bagaimana keadaannya?" tanya seorang perawat yang baru saja masuk sambil menggendong bayi.
"Alhamdulillah baik Sus," jawab Laras sambil tersenyum dan menahan rasa sakit.
"Ibu, Anaknya diberi ASI dulu ya. Biar kami bantu," jelas sang perawat sambil memberikan Shafira ke tangan Laras.
"Masya Allah, maha besar engkau ya Allah. Putriku memiliki wajah yang sangat cantik hingga aku kagum melihatnya," ucap Laras sambil tersenyum memandang wajah Shafira.
Disaat Laras sedang sibuk menyusui sang putri. Di tempat yang terpisah Fian mengajak Ratna menuju ke sebuah rumah yang sengaja dia beli. Ratna yang bingung dengan apa yang dilakukan Fian langsung mulai bertanya dengan memeluk laki-laki yang ada di sampingnya.
"Sayang kenapa kita kesini?" tanya Ratna sambil memeluk tangan Fian dan bersandar di pundaknya.
"Mulai hari ini kamu tinggal disini, rumah ini sengaja aku beli untukmu dan ini ada cek senilai seratus lima puluh juta rupiah untukmu, tapi dengan syarat jangan pernah kembali ke rumahku apalagi sampai berani mengatakan kepada Laras tentang semua yang sudah terjadi," jawab Fian sambil memberikan sebuah kertas dan sebuah surat rumah kepada Ratna.
"Jadi malam itu aku hanya menjadi cinta semalam untukmu?" tanya Ratna sambil menerima cek dari Fian.
"Aku tidak pernah menginginkan malam itu, aku yakin semua ini adalah jebakan mu, agar kamu bisa memeras ku," jawab Fian sambil melepaskan pelukan Ratna.
"Tidak! Aku tidak akan menerima cek ini, kamu harus menikahiku, aku tidak masalah walaupun aku hanya menjadi istri keduamu," ucap Ratna yang kembali mendekati Fian yang berdiri di hadapannya.
"Jangan pernah bermimpi aku akan menikahimu, semua yang terjadi diantara kita hanya karena ketidak sengajaan," jawab Fian lalu berjalan meninggalkan Ratna di rumah itu.
"Kamu pikir aku perempuan bodoh yang bisa dicampakkan begitu saja, kamu lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu dan Laras," ucap Ratna saat Fian sudah pergi sambil mengendarai mobilnya.
Ratna yang kini sudah berada di rumah barunya langsung segera mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia pun menelpon seseorang dan memintanya untuk datang ke rumah barunya. Apa yang diharapkan Ratna sedikit demi sedikit akan terwujud karena hubungan terlarangnya dan Fian.
"Hai Say, apa kabar ayo silahkan masuk ke rumah baruku," ucap Ratna sambil membuka pintu untuk sahabatnya.
"Rumah baru, bagaimana kamu bisa mendapatkan rumah ini sedangkan aku saja belum memberimu upah?" tanya sang sahabat dengan bingung.
"Fian yang memberikannya kepadaku, dan aku yakin sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Fian," jawab Ratna sambil duduk di sofa.
"Apa! Kamu gila aku membayarmu untuk memisahkan Fian dari Laras agar aku bisa menikah dengannya, kenapa sekarang justru kamu yang akan menikah dengannya," teriak perempuan yang berdiri di hadapan Ratna.
"Wulan, Wulan kamu pikir aku bodoh mau menyerahkan seekor ikan kakap kepadamu begitu saja, awalnya aku memang bermaksud membantumu tapi saat aku melihat ketampanan Fian apalagi ketika merasakan keperkasaannya sebagai laki-laki aku jadi berpikir kenapa bukan aku saja yang memilikinya," jawab Ratna sambil berdiri dan berjalan ke arah Wulan.
Ratna adalah sahabat baik Wulan sejak kecil. Saat Wulan mendengar dari Siska jika Fian mencari asisten rumah tangga untuk menggantikan Mbok Ijah. Dia mengirim Ratna untuk membantunya memisahkan Laras dan Fian dengan cara masuk ke dalam rumah sang mantan kekasih. Namun, justru kini Ratna yang ingin merebut Fian darinya.
"Dasar bajingan, kamu ingat semua yang sudah aku berikan untukmu, dan kini kamu justru ingin mengkhianatiku?" tanya Wulan seolah tidak percaya sahabat yang ditolongnya selama ini tega mengkhianatinya.
"Kamu hitung saja berapa jumlah yang sudah kamu keluarkan untukku selama ini, aku akan membayarnya sekarang juga," jawab Ratna dengan sombongnya.
"Kamu lihat saja, aku akan buat perhitungan untuk sahabat penghianat sepertimu," ancam Wulan sambil menatap mata Ratna dengan tajam lalu pergi meninggalkan rumah itu.
***
"Assalamualaikum," ucap Fian sambil masuk ke ruangan Laras.
"Waalaikumsalam," jawab Laras sambil menggendong sang putri.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Fian sambil berdiri di samping sang istri.
"Alhamdulillah aku merasa jauh lebih baik Mas, apa kamu sudah mengubur ari-ari Shafira?" tanya Laras sambil mencium tangan suaminya.
__ADS_1
"Sudah, Shafira terlihat sangat cantik sama sepertimu," ucap Fian sambil tersenyum dan memandang wajah sang putri dan istrinya.
"Alhamdulillah dia bisa lahir ke dunia ini dengan selamat, oh iya semalam aku dan Papa menghubungimu berkali-kali tapi tidak ada jawaban semalam kamu tidur jam berapa?" tanya Laras dengan tiba-tiba hingga membuat Fian terkejut.
"Aku … ehm," Fian terlihat sedikit gugup di hadapan Laras dan mertuanya.
"Karena Fian sudah ada di sini, Mama dan Papa mau pulang dulu ya, besok Mama akan ke sini menemanimu lagi," ucap Sophia dengan tiba-tiba.
"Oh iya Ma, lebih baik Mama dan Papa istirahat di rumah, sepertinya kalian terlihat sangat lelah karena semalaman belum tidur," jawab Laras sambil menoleh ke orang tuanya dan tersenyum.
"Fian kami pamit pulang dulu, titip Laras dan Shafira," ucap Sophia yang sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.
"Iya Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir, insya Allah saya akan menjaga Laras dan Shafira dengan baik," jawab Fian sambil menjabat tangan mertuanya dan mengantar mereka hingga ke depan ruangan.
Setelah Arman dan Sophia pulang, Fian yang sudah menyiapkan kejutan untuk istrinya langsung membawa masuk sebuah buket bunga yang berbentuk beruang. Laras yang melihat kejutan dari Fian langsung tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka jika suaminya akan melakukan hal romantis seperti hari ini.
"Besar sekali buket itu, pasti harganya mahal" ucap Laras sambil tersenyum bahagia.
"Sayang, berapapun harga buket ini tetap tidak bisa membayar perjuanganmu dalam melahirkan bidadari kecilku ini," ucap Fian sambil mencium kening Laras.
Kelahiran Shafira di tengah-tengah keluarga kecil Laras dan Fian menjadi kebahagiaan dan anugerah tersendiri untuk mereka. Walaupun rasa bersalah atas hubungan terlarang antara Ratna dan Fian masih terus menjadi beban tersendiri untuknya. Namun, Fian berharap jika Laras tidak akan pernah mengetahui apa yang telah terjadi malam itu.
"Mas, kenapa kamu melamun?" tanya Laras hingga mengejutkan Fian.
"Oh tidak, aku hanya berpikir jika Allah itu baik kepada kita sampai-sampai dia menitipkan gadis kecil yang begitu cantik," ucap Fian sambil terus memandang wajah Shafira yang terlelap dalam tidurnya.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga akhirnya Laras dan Shafira di izinkan pulang ke rumahnya. Sophia dan Arman yang bahagia dengan kelahiran cucu pertamanya berniat mengantar Laras hingga ke rumah. Saat mereka baru turun dari mobil tiba-tiba Siska yang sejak tadi melihat kedatangan Laras dan keluarganya langsung menghampirinya.
"Oh ini anak perempuan miskin yang sekarang sudah menjadi istri dari pengusaha terkenal dan kaya," ucap Siska saat sudah berada di dekat Laras dan keluarganya.
"Assalamualaikum Kak," ucap Siska sambil menjabat tangan kakak iparnya.
"Tidak perlu cium tangan, aku tidak sudi tubuhku disentuh oleh orang-orang miskin yang hanya menumpang hidup di Adikku," jawab Siska sambil menepis tangan Laras.
"Jaga ucapan Kakak di depan Laras dan orang tuanya!" bentak Fian kepada sang kakak.
"Kenapa? Memang benarkan mereka hanya orang miskin yang menumpang hidup kepadamu," ucap Siska sambil melihat Laras dan kedua orang tuanya.
"Sekali lagi anda menghina keluarga saya, anda akan tahu akibatnya," ucap Arman sambil berjalan mendekati Siska tapi Sophia langsung memegang tangannya.
"Sudah Pa, kasihan Laras dia baru saja melahirkan," ucap Sophia sambil memegang tangan Arman yang terlihat sangat marah dengan ucapan Siska.
"Kalau begitu lebih baik kita masuk ke kamar saya, kasihan Shafira sudah kepanasan," ajak Fian kepada mertuanya sambil menggandeng Laras.
"Fian, lebih baik kami pulang saja karena hari ini Ibu harus kerumah salah saudara untuk menghadiri pernikahan," ucap Sophia saat Laras dan Fian akan masuk ke dalam.
"Apa Bapak dan Ibu tidak mau mampir dan istirahat dulu, ucapan Kakak saya tolong jangan dimasukkan hati," jawab Fian yang merasa tidak enak dengan mertuanya.
"Tidak, kami memang mau menghadiri pernikahan kerabat kami, iya 'kan Pa?" ucap Sophia sambil menyenggol tangan suaminya.
"Iya, kami percaya kamu bisa menjaga dan membahagiakan Laras," jawab Arman sambil memandang wajah pucat sang putri.
"Nak kami pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik turuti semua perintah suamimu," pesan Sophia sambil mencium kening Laras.
Setelah Arman dan Sophia sudah meninggalkan bengkel. Fian langsung mengajak Laras untuk segera masuk ke dalam kamar. Setelah tiba di dalam kamar Laras yang saat itu baru saja duduk di tempat tidur terkejut melihat bercak darah di atas tempat tidurnya.
"Mas ini darah apa?" tanya Laras kepada Fian dengan penasaran.
"Ya Allah, aku lupa mengganti sprei itu," batin Fian sambil terlihat terkejut.
__ADS_1