Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 42


__ADS_3

“Perceraian? Apa maksudmu,” tanya Fian yang saat itu tidak mengerti tentang ucapan sang istri.


“Untuk apa kita bersama jika salah satu diantara kita sudah merasa lelah dan menyerah dengan ujian pernikahan,” jawab Laras sambil menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Fian yang duduk di sampingnya.


“Apa kamu mendengar ucapanku kepada Bejo?” tanya Fian sambil  terkejut.


“Iya, dan aku sudah mendengar seluruh isi hatimu Mas,” jawab Laras sambil duduk di samping suaminya.


“Apa salah jika aku merasa lelah dengan ujian kehidupan?” tanya Fian sambil menoleh ke arah istrinya.


“Tidak, semua orang pasti akan pernah merasakan lelah dalam hidupnya,” jawab Laras sambil tersenyum.


“Lalu kenapa kamu justru ingin meninggalkanku dan bercerai dariku,” tanya Fian sambil duduk di bawah kaki sang istri.


“Pernikahan di bangun oleh dua orang manusia dan disatukan oleh satu tujuan yang sama yaitu ibadah dan masa depan yang indah, jika salah satu dari dua orang itu menyerah karena keadaan apa pernikahan itu masih pantas untuk diteruskan?” ucap Laras sambil memegang pipi Fian dengan lembut.


“Tapi apa tidak ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya?” tanya Fian sambil menatap mata sang istri.


“Ada, tapi saat ini aku ingin memberi kesempatan kepadamu untuk sendiri, mungkin dengan kamu sendiri bisa membuat hati dan pikiranmu tenang,” jawab Laras yang terlihat tetap tenang.


“Aku sudah terlalu lama kehilanganmu, dan kini aku tidak mau kehilanganmu lagi jadi aku mohon tetaplah disini bersamaku,” ucap Fian sambil memohon. 


“Aku tidak meninggalkanmu Sayang, aku hanya ingin membuatmu istirahat sejenak,” jawab Laras sambil mencium kening suaminya.


Saat mereka sedang berbincang-bincang mereka dikejutkan dengan suara sirine ambulans. Laras segera mengajak Fian ke rumah Siska untuk membantu proses pemakaman Aldi. Ada rasa ragu dalam diri Fian untuk datang ke rumah Siska. Namun, karena desakan sang istri dia pun segera keluar dan berjalan ke rumah Siska dengan ditemani Laras.


“Assalamualaikum,” ucap Fian dan Laras yang baru saja datang.


“Mau apa kalian kemari! Bukannya aku sudah bilang jika aku mengharamkan kaki kalian menginjak rumahku dan aku juga tidak pernah punya Adik pembunuh sepertimu,” bentak Siska sambil berteriak di hadapan  banyak orang.


“Astagfirullah, tidak ada satu manusiapun yang bisa mengharamkan manusia lain kecuali Allah, bahkan Allah saja yang menciptakan seluruh manusia, bumi dan segala sesuatunya tidak pernah mengharamkan kaki pelacur, copet, dan lainnya saat mereka memasuki rumahnya yaitu masjid. Tapi kenapa Kakak yang bukan siapa-siapa justru mengharamkan kami masuk ke rumah yang belum tentu kesuciannya?” jawab Fian sambil berdiri di hadapan Siska sambil menggenggam tangan Laras.

__ADS_1


“Aku tidak butuh ceramahmu, cepat kalian pergi dari rumahku!” bentak Siska sambil mengusir Fian dan Laras dari rumahnya.


Saat Fian dan Laras keluar dari rumah Siska, secara tidak sengaja mereka bertemu dengan Wulan yang saat itu baru saja tiba di rumah duka. Setelah bersalaman dengan Wulan Fian segera mengajak Laras melanjutkan perjalanan pulang. Terlihat jelas wajah benci Wulan terhadap Laras yang saat itu dalam gandengan sang mantan kekasih.


“Fian, apa besok kita bisa makan siang bersama?” tanya Wulan sambil memegang tangan Fian seolah tidak ingin mantan kekasihnya itu pulang ke rumahnya.


“Maaf aku tidak bisa karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,” jawab Fian sambil melepaskan tangan Wulan dan langsung melangkah meninggalkannya.


“Sekarang kamu boleh menolakku, tapi aku pastikan dalam waktu dekat kamu meninggalkan Laras untukku,” batin Wulan sambil tersenyum sinis.


Setelah sampai di dalam kamar Fian langsung mengajak Laras pergi dari rumah. Fian ingin menghabiskan waktu sebulan lamanya di pulau Bali hanya berdua dengan Laras. Namun, ajakan Fian ternyata ditolak oleh Laras dengan alasan merasa kasihan dengan Shafira.


"Kamu tenang saja aku yakin Shafira aman bersama Kakek dan Neneknya, lagipula kita hanya pergi sebulan," ucap Fian yang berusaha meyakinkan Laras.


"Tapi Mas, aku benar-benar takut jika harus berpisah terlalu lama dengan Shafira apalagi sampai satu bulan lamanya," jawab Laras dengan ragu.


"Bagaimana kalau sebelum berangkat kita menginap di rumah orang tuamu selama beberapa hari agar kamu bisa merawat Shafira sekalian meminta izin kepada Bapak dan Ibu," usul Fian sambil menggenggam tangan sang istri.


"Tidak apa-apa, lagipula kita juga diusir dan tidak dianggap, jadi bukan salah kita kalau kita pergi berlibur," jawab Fian sambil tersenyum.


 ***


Saat tiba di rumah Arman terlihat Shafira yang sedang bermain dengan Kakek dan Neneknya. Laras yang sudah sangat merindukan sang putri langsung berjalan dan menggendong Shafira dengan erat. Kondisi itu membuat Arman dan Sophia sangat terharu.


“Assalamualaikum,” ucap Fian yang baru saja turun dari mobilnya. 


“Waalaikumsalam, ayo kita masuk ke dalam rumah,” ajak Sophia kepada seluruh keluarganya.


Setelah mempersilahkan Laras dan Fian duduk di sofa. Sophia langsung berjalan ke arah dapur untuk membuat minuman untuk mereka. Kebahagiaan terlihat jelas di mata Laras saat bertemu dengan Shafira.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Nak? Bapak dengar dari Fian kamu sedang sakit," tanya Arman kepada Laras.

__ADS_1


"Alhamdulillah Laras sudah merasa lebih baik," jawab Laras sambil tersenyum.


"Sebenarnya apa yang terjadi hingga membuatmu depresi dan terpukul?" tanya Sophia sambil meletakkan beberapa cangkir diatas meja.


"Tidak ada Ma, yang penting sekarang Laras sudah jauh lebih baik," jawab Laras sambil menoleh ke arah Sophia. 


"Sebenarnya kedatangan kami kesini untuk menitipkan Shafira selama sebulan, karena Fian bermaksud mengajak Laras berlibur ke pulau Bali agar Laras bisa beristirahat total sambil berlibur," ucap Fian dengan rasa ragu.


"Papa setuju itu, biar Shafira di sini bersama kami insya Allah kami akan menjaganya dengan baik," jawab Arman sambil tersenyum. 


"Papa benar, lebih baik kamu bersenang-senang saja dulu lagipula Mama senang Shafira di sini karena saat Papa  pergi ke proyek Mama tidak sendiri," tambah Sophia sambil duduk di samping suaminya.


"Oh ya kapan kalian berangkat ke Bali?" tanya Arman penasaran.


"Insya Allah besok lusa Pak," jawab Fian sambil tersenyum ramah.


"Mas, kepala ku tiba-tiba pusing," ucap Laras sambil memegangi kepalanya.


"Sini biar Shafira Mama yang gendong, lebih baik kamu masuk ke dalam kamar dan istirahat," perintah Sophia sambil mengangkat shafira dari gendongan Laras.


"Ayo aku antar ke kamar," ajak Fian sambil memegang tangan Laras.


"Kamu disini saja temani Papa ngobrol, aku bisa jalan ke kamar sendiri," ucap Laras sambil berdiri dan berjalan dengan sempoyongan.


Saat Fian dan Arman melanjutkan pembicaraan mereka mengenai beberapa proyek baru. Tiba-tiba mereka terkejut dengan teriakan Laras dari dalam kamar. Hingga membuat seluruh orang yang ada di rumah itu panik. 


“Mas, Mas Fian!” teriak Laras dengan cukup keras.


“Laras,” ucap Fian yang langsung berlari ke arah kamar dengan diikuti Arman dan Sophia.  


 

__ADS_1


 


__ADS_2