Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 64


__ADS_3

Mendengar pertanyaan yang diberikan Fian membuat Laras terdiam sambil terus menatap wajah sang suami yang masih menutup mata. Perlahan Laras mendekatkan wajahnya ke arah bibir sang suami. Fian yang merasakan sebuah kecupan dari sang istri langsung membuka matanya seakan terkejut dengan apa yang dilakukan Laras.  


"Apa kamu masih ragu kepadaku Mas?" tanya Laras setelah mengecup bibir sang suami.  


Fian yang sejak tadi berbaring di pangkuan sang istri langsung duduk dan menghadap Laras sambil tersenyum. Rasa malu kini menghinggapi Laras hingga mukanya merah seperti udang rebus.  


"Lalu kenapa berhenti, apa perlu aku yang memulainya?" tanya Fian sambil mendekatkan wajahnya di hadapan Laras hingga membuat sang istri tertunduk karena malu.  


Tanpa menunggu jawaban sang istri Fian langsung ******* bibir sang istri dengan rakus. Perlahan Fian membaringkan tubuh sang istri di tempat tidur sambil terus menikmati bibir mungil sang istri. Setelah melakukan hubungan panas, Laras yang berbaring di dada bidang Fian dengan memakai selimut hanya tersenyum sambil mengusap dada sang suami.  


"Apa sekarang kamu yakin jika aku hanya mencintaimu bukan masa laluku?" tanya Laras sambil menatap wajah Fian yang menutup mata seakan masih menikmati kenikmatan surga dunia bersama sang istri.  


“Sejak aku menikmati malam pertama denganmu aku sudah yakin jika hatimu hanya untukku, tetaplah jadi tempat ternyaman untukku sampai kapanpun,” ucap Fian sambil mengecup bibir mungil sang istri. 


“Aku akan selalu menjadi tempat ternyaman untukmu, tempatmu menyalurkan hasrat dan nafsumu hingga kamu tidak perlu melakukan zina untuk ketiga kalinya dengan perempuan lain,” jawab Laras sambil bersandar di dada Fian.


“Maafkan aku karena pernah menyakitimu dan jatuh di dosa zina,” ucap Fian yang masih terus memeluk Laras dengan tubuh kekarnya. 


Setelah hampir 30 menit mereka berbincang-bincang di dalam satu selimut. Tanpa disadari Laras laki-laki yang ada di sampingnya sudah tertidur dengan pulas. Perlahan Laras duduk di samping Fian sambil memandang wajah tenang sang suami yang sudah terlelap dalam tidurnya. 


“Allah memang baik, disaat aku tersesat jauh dia justru mengirim kamu untuk menuntunku kembali ke tempat dimana aku dilahirkan, di agama yang yang sebenarnya. Terima kasih ya Allah laki-laki yang engkau berikan kepadaku sudah berhasil menjadi imam dan Ayah yang baik buatku dan Shafira putri kami, Ya Allah jika aku boleh meminta kepadamu biarkan aku yang meninggalkan dunia ini terlebih dahulu, karena tanpa dia di dunia ini aku tidak akan bisa berdiri dengan kedua kakiku,” batin Laras sambil meneteskan air matanya lalu mencium kening sang suami. 


***


Hari berlalu dengan begitu cepat, hingga tanpa terasa sakit yang ada di diri Laras semakin bertambah parah. Hampir setiap bulan Laras dan Fian mengunjungi Dokter Spesialis kandungan untuk memeriksakan tumor yang ada di rahimnya. Perut Laras yang awalnya sangat Rata dan bagus kini semakin membesar sering dengan membesarnya tumor yang ada di dalam rahimnya. 


"Mas, lihat deh perutku sama seperti saat aku mengandung Shafira. Aku persis seperti perempuan yang hamil 9 bulan ya," ucap Laras yang saat itu berdiri di hadapan kaca sambil mengusap perutnya yang buncit.  

__ADS_1


"Mau seperti apapun kondisimu saat ini dan kedepannya aku akan tetap menyayangimu dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun," jawab Fian sambil memeluk Laras dari belakang. 


"Tapi Mas, aku malu keluar dengan kondisi seperti ini apa kata karyawan dan keluargamu saat mereka melihat kondisiku," ucap Laras sambil menatap Fian dari cermin yang ada di hadapannya. 


“Jangan pernah dengarkan apa kata orang, semakin kita mendengarkan mereka akan membuat penyakitmu semakin parah,” jawab Fian sambil mencium pipi Laras. 


“Apa kamu tidak ingin mencari istri kedua yang bisa membuat pandanganmu nyaman saat melihatnya,” 


“Tidak ada istri kedua ataupun istri pengganti sampai kapanpun, mau mereka menghinaku ataupun mencaciku karena kondisimu itu tidak akan membuatku berhenti menjaga dan mencintaimu," ucap Fian sambil membalikkan tubuh Laras hingga mata mereka saling bertemu.  


"Sesayang itukah kamu kepadaku Mas," batin Laras sambil menatap mata sang suami. 


"Mas apa aku boleh tinggal di rumah Mama? Aku bosan dengan kegiatanku yang hanya rebahan di tempat tidur, aku juga sangat merindukan Shafira," tanya Laras sambil menatap sang suami dengan rasa penuh harap.  


"Jika kamu ingin main aku akan antar kamu, tapi jika untuk selamanya maaf aku tidak mengizinkan. Bukannya aku tidak menyayangi ataupun Rindu kepada Shafira hanya saja kondisimu yang membuatku terpaksa berbuat seperti ini, " jawab Fian sambil meninggalkan Laras dan duduk di tempat tidur.  


"merawat seperti apa yang kamu ucapkan, kamu pikir merawat balita semudah kita merawat bayi yang baru lahir apalagi dengan kondisi perut yang begitu besar bahkan kamu sendiri tidak mampu berjalan dengan kondisi sekarang," ucap Fian hingga membuat Laras terdiam. 


"Mas Fian benar, aku tidak akan bisa merawat Shafira dengan baik," batin Laras sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong.  


"Kamu siap-siap kita akan ke rumah orang tuamu sekarang," perintah Fian sambil berjalan ke arah pintu dan meninggalkan Laras yang masih larut dalam lamunannya.  


***


“Assalamualaikum,” ucap Laras dan Fian saat sudah berada di halaman rumah Arman sambil berjalan mendekati Shafira yang sedang bermain dengan sang kakek. 


“Waalaikumsalam, Shafira lihat Abi dan Bubu datang menjengukmu,” ucap Arman sambil menggendong Shafira yang berusia 1 tahun. 

__ADS_1


“Ya Allah Laras, kenapa perutmu begitu besar, apa ini karena tumor yang tidak diangkat?” batin Arman saat melihat Laras yang sedang berjalan di hadapannya. 


“Shafira, sini sayang Bubu kangen sama Shafira,” ucap Laras sambil mengulurkan tangannya seakan ingin menggendong sang putri.


“Sini Pak biar Shafira saya yang gendong,” ucap Fian sambil mengambil Shafira dari tangan sang ayah mertua. 


“Sini Mas, aku juga ingin gendong Shafira,” rengek Laras sambil mencoba mengambil sang putri dari Fian. 


“Jangan ya, aku takut kamu kenapa-kenapa, lebih baik kita masuk dan kamu bisa memangkunya di sofa,” jawab Fian sambil menahan tubuh Shafira. 


“Fian benar, ayo kita masuk,” ajak Arman kepada anak dan menantunya. 


“Assalamualaikum,” ucap Laras dan Fian dengan bersamaan saat mereka masuk ke dalam rumah. 


“Waalaikumsalam,” jawab Sophia yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa sendok sayur di tangannya. 


“Laras,” ucap Sophia saat melihat kondisi Laras yang berdiri di hadapannya. 


“Nak, kamu dan Fian duduk dulu ya. Papa sama Mama mau ke dapur dulu untuk membantu Mama buat minuman,” ucap Arman yang langsung berjalan mendekati Sophia yang melamun di hadapannya dan menariknya ke dalam dapur. 


Laras dan Fian sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Arman kepada sang istri. Namun, saat ini pikiran dan fokus mereka ada kepada Shafira bocah berusia 1 tahun yang sudah bisa berbicara walaupun masih bahasa bayi. Di dapur Arman dan Sophia sedang sibuk membicarakan kondisi Laras sekarang.  


"Pa, apa Laras hamil?" tanya Sophia kepada Arman. 


"Papa rasa tidak Ma, sepertinya itu efek dari tumor yang sudah membesar, " jawab Arman sambil duduk di kursi kayu yang ada di dapur.  


"Ya Allah kasihan sekali putriku," ucap Sophia sambil mulai meneteskan air mata.  

__ADS_1


"Lebih baik Mama siapkan makan siang, nanti setelah makan siang ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian, " perintah Arman kepada Sophia sambil berdiri dan berjalan ke ruang tamu.  


__ADS_2