Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
bab 65


__ADS_3

Setelah selesai makan siang dan sesaat setelah Sophia membersihkan meja makan. Arman meminta seluruh keluarganya untuk tetap duduk di meja makan termasuk Fian sang menantu.  


"Hari ini ada yang ingin Papa sampaikan kepada kalian, dan untuk Fian mungkin kamu belum tahu banyak tentang keluarga kami. Dan hari ini Papa ingin membuka semuanya di hadapanmu," ucap Arman sambil memandang seluruh keluarganya secara bergantian. 


Laras dan Sophia terlihat saling melemparkan pandangan, terbesit beberapa pertanyaan pada diri mereka tentang apa yang akan disampaikan Arman. Sophia sangat hafal dengan sifat sang suami dia tidak akan mengumpulkan keluarganya seperti ini jika tidak ada hal yang penting.  


"Sophia, Laras, sebenarnya sejak satu minggu lalu Papa dan Murni sudah resmi bercerai," ucap Arman sambil menatap kedua perempuan yang ada di hadapannya.


"Bercerai," beo Sophia seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang suami.  


"Apa benar Papa bercerai dengan perempuan itu, apa yang membuatnya memutuskan untuk menceraikan istri keduanya setelah sekian lama bersama," batin Laras sambil menatap sang ayah dengan perasaan bingung.  


"Maaf kalau boleh saya tahu siapa Murni itu? " tanya Fian seolah berpura-pura tidak tahu siapa perempuan yang bernama Murni.  


"Murni adalah istri kedua Papa, sekitar 13 tahun lalu Papa menikah siri dengan seorang perempuan yang bernama Murni," jelas Arman kepada sang menantu. 


"Lalu kenapa Bapak bercerai dengannya setelah 13 tahun bersama?" tanya Fian dengan rasa penasaran.


"Laras,  Laras 'lah yang membuat saya bercerai dengan Murni," jawab Arman sambil menoleh  ke arah sang putri.  


Laras dan Sophia yang mendengar jawaban Arman langsung membulatkan matanya. Menurut Laras dia tidak pernah peduli dan ikut campur dengan pernikahan kedua sang ayah dengan Murni. Namun,  entah kenapa kini Arman menuduh Laras yang menjadi penyebab perceraiannya dengan sang istri kedua. 


"Bagaimana bisa Papa bilang jika aku menjadi penyebab perceraian Papa dan Murni? sedangkan aku sendiri tidak pernah peduli dengan kehidupan Papa dan Murni!" bentak Laras sambil berdiri dari tempat duduknya. 


"Sayang, kamu duduk dulu biarkan Papa menjelaskan semua yang ada di hatinya," perintah Fian kepada sang istri sambil menggenggam tangan Laras. 


"Iya Nak, kita dengarkan dulu apa yang akan Papa sampaikan," tambah Sophia sambil memberi kode kepada sang putri agar kembali duduk di kursinya. 


"Pak, silahkan lanjutkan apa yang ingin Bapak sampaikan kepada Laras dan Ibu Sophia," ucap Fian saat Laras sudah duduk di kursinya. 


“Sebelumnya Papa minta maaf jika ucapan Papa sudah membuat Laras tersinggung, Papa tidak bermaksud menuduhmu sebagai penyebab hancurnya hubungan Papa dan Murni,” jelas Arman sambil berdiri dan berjalan mendekati Laras dan duduk di samping sang putri. 

__ADS_1


“Lalu kenapa bilang jika Papa bercerai karena aku?” tanya Laras sambil menatap Arman dengan tatapan penuh pertanyaan. 


“Perubahanmu yang membuat Papa berubah Nak, sejak kamu sakit Papa mulai berpikir jika inilah saatnya Papa berubah menjadi orang tua yang lebih baik buat kamu, Papa tahu Fian telah menjagamu dengan baik bahkan jauh lebih baik daripada Papa, tapi sebagai orang tua Papa juga ingin berusaha menjagamu dan membantu kesembuhanmu dengan cara membantu kalian dan Mama menjaga Shafira,” jelas Arman sambil menggenggam tangan putri kesayangannya. 


Laras yang sejak tadi terlihat kesal bahkan membuang muka saat berhadapan dengan Arman langsung meneteskan air matanya dan memeluk tubuh Arman yang sudah mulai menua. Pelukan yang selama ini tidak pernah dia rasakan dari seorang Ayah kini bisa dia rasakan kehangatannya. Sophia dan Fian yang melihat Laras memeluk Arman hanya bisa tersenyum sambil mulai meneteskan air matanya. 


“Maafkan Papa Nak, karena kesalahan Papa kamu sampai tidak pernah mengenal agamamu yang sebenarnya,” ucap Arman sambil memeluk Laras dengan erat. 


“Laras sayang Papa,” ucap Laras sambil menangis di pelukan sang ayah. 


“Papa juga sayang sama kamu Nak, maafkan Papa jika selama ini belum bisa jadi orang tua yang baik untukmu,” jawab Arman sambil terus memeluk Laras dan mencium kepala sang putri. 


Arman yang sejak tadi memeluk Laras kini mulai melepaskan pelukannya kepada putri semata wayangnya itu. Kini Arman mulai berdiri dan berjalan ke arah sang istri yang sedari tadi menangis di hadapannya. Arman yang biasanya memiliki sikap yang kasar kepada Sophia kini terlihat begitu lembut. 


"Sophia, maafkan aku karena selama ini aku sudah menjadi Suami dan Ayah yang gagal untukmu dan Laras," ucap Arman sambil meraih tangan sang istri dengan lembut.  


"Aku juga minta maaf atas semua sikapku selama ini yang mungkin membuatmu berpaling dariku," jawab Sophia sambil meneteskan air matanya.


"Aku berjanji akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu serta Ayah dan Kakek untuk anak-anak kita dan Shafira," ucap Arman yang langsung memeluk Sophia dengan erat. 


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fian saat melihat sang istri memegang perutnya sambil meringis seolah kesakitan. 


"Aku tidak apa-apa Mas, perutku hanya kram sedikit," ucap Laras sambil menarik nafas panjang. 


"Nak, apa tidak sebaiknya kamu operasi Mama hanya tidak tega melihat perutmu yang semakin membesar seperti orang hamil, Mama khawatir jika itu akan membahayakanmu nantinya," saran Sophia kepada sang putri sambil menatap Laras dengan cemas. 


"Laras baik-baik saja Ma," jawab Laras sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum. 


"Ma, lebih baik kamu buatkan Laras teh hangat siapa tahu dengan meminum teh hangat dia akan jauh lebih baik," perintah Arman kepada Sophia yang langsung dijawab dengan anggukan oleh sang istri.


"Sayang, lebih baik aku antar kamu ke rumah sakit saja ya, aku khawatir melihat keadaanmu, " ucap Fian sambil memegang tangan sang istri. 

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa Mas, lebih baik kamu bantu aku untuk berjalan ke kamar karena aku hanya perlu istirahat sebentar," ucap Laras sambil terus memegangi perutnya seolah menahan sakit. 


"Fian ayo kita bantu Laras ke kamar," Ajak Arman yang langsung berdiri dan membantu Fian memapah Laras.


***


Sejak kejadian di rumah Arman kondisi Laras semakin menurun. Perutnya yang semakin membesar membuatnya susah bergerak dan beraktivitas. Hingga suatu pagi saat Fian sedang bersiap-siap akan ke ruang kerjanya tiba-tiba dia menghampiri sang istri yang tertidur dengan meringkuk. 


"Astagfirullah," ucap Fian sambil memegang tangan Laras. 


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fian sambil membangunkan Laras dengan perlahan. 


Berkali-kali Fian membangunkan sang istri. Namun, Laras tidak kunjung terbangun dari tidurnya. Fian yang panik langsung berlari keluar untuk meminta Bejo menyiapkan mobilnya. 


"Ada apa Dek?" tanya Ardi yang baru saja datang. 


"Laras Bang, sepertinya dia tidak sadarkan diri," jawab Fian dengan panik.


"Kamu tenang dulu, apa ada minyak kayu putih," tanya Ardi sambil menenangkan sang Adik. 


"Ada di kamar," jawab Fian mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kamar.


Hampir 15 menit Ardi dan Fian berusaha untuk membuat Laras sadar dari pingsannya. 


"Mas Fian, " terdengar suara Laras memanggil nama sang suami. 


"Alhamdulillah, sekarang cepat kita bawa Laras ke rumah sakit," perintah Ardi sambil membantu Fian menggendong Laras. 


"Kamu harus kuat Sayang," ucap Fian yang saat itu meletakkan Laras di pangkuannya. 


"Laras kamu harus terus beristighfar karena itu yang bisa meringankan sakitmu, " ucap Ardi sambil fokus ke arah jalanan yang ada di hadapannya. 

__ADS_1


"Maafkan aku ya Mas, jika ada hal yang buruk terjadi padaku, aku titip Shafira kepadamu," pesan Laras kepada sang suami. 


"Kamu tidak akan kemana-mana, kita akan rawat Shafira sampai dia dewasa," ucap Fian kepada sang istri sambil terlihat mengeluarkan butir-butir air mata.  


__ADS_2