Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 48


__ADS_3

"Aku membeli tanah ini bukan karena permintaan Laras, aku membelinya juga bukan karena ingin kalian menghormati dia, tapi aku membelinya karena aku tahu usiaku dan Laras terpaut jauh aku takut aku tidak bisa menemaninya hingga tua," jelas Fian sambil berjalan ke arah Laras dan kedua Kakaknya.


"Ehm, itu pasti hanya argumenmu saja agar kami tidak menyalahkan perempuan ini, harusnya kamu sadar jika kamu adalah anak laki-laki jadi harusnya kamu lebih memperhatikan kami daripada perempuan ini, apalagi saat ini aku adalah seorang janda," jawab Siska dengan tatapan kesal kepada Fian.


"Aku selalu memperhatikan kalian, tapi semua itu aku lakukan setelah aku mendahulukan istri dan anakku, tapi sepertinya justru kalian yang kurang bersyukur bahkan tega membenci Laras dan keluarganya," ucap Fian sambil tersenyum sinis kepada kedua kakaknya.


Merasa dirinya telah kalah dalam berdebat dengan sang adik Siska langsung mengajak Rosa pergi dari tempat itu. Namun, apa yang dikatakan Siska tidak digubris oleh Rosa dia tetap berada di kamar Fian dan Laras. Serta secara pribadi meminta maaf atas kesalahannya hari ini.


"Maafkan Kakak ya Fian, Kakak benar-benar tidak tahu jika Kak Siska bisa bicara seperti itu kepada Laras," ucap Rosa sambil menoleh ke arah Fian yang berdiri di samping Laras.


"Harusnya Kakak tahu bagaimana sikap Kak Siska kepada istriku, kalian semua tidak masuk akal karena membenci seseorang hanya karena dia pernah keluar dari agama islam, seharusnya kalian membantunya serta mendukungnya untuk menjadi manusia yang lebih baik bukan malah menjauhinya," jelas Fian yang terlihat sangat 


kesal.


"Sekali lagi Kakak minta maaf ya Fian, Kakak benar-benar menyesal," ucap Rosa dengan penuh penyesalan.


"Sudah masuk jam makan siang, lebih baik kita makan bersama Mbok pasti sudah siapkan semuanya, ayo Kak," ajak Laras sambil menggandeng tangan kakak iparnya dengan senyum ramahnya.


"Laras maafkan Kak Rosa ya karena sudah menuruti apa yang diminta Siska," ucap Rosa sambil berjalan ke arah dapur.


"Tidak apa-apa Kak, aku tidak pernah menaruh dendam kepada siapapun karena Mas Fian selalu bilang biarkan mereka membencimu asalkan Allah tetap mencintaimu," jawab Laras sambil tersenyum.


"Masya Allah jadi setiap kata-kata ku selalu dia ingat, bahkan aku saja lupa kapan aku mengatakan itu," batin Fian yang berjalan tepat di belakang Laras dan Rosa.


Malam hari saat Fian dan Laras sedang bersantai sambil menonton acara televisi tiba-tiba ponsel Laras berbunyi. Laras pun mengambil ponsel yang ada di atas meja tepat di samping tempat tidurnya. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dia kenal masuk.


"Hai Laras apa kabar? Aku Wulan, pasti kamu tidak lupa kepada ku 'kan?" tulis Wulan kepada pesan singkatnya.

__ADS_1


"Iya aku ingat, ada apa kamu mengirim pesan kepada ku malam-malam begini?" tanya Laras kepada Wulan melalui pesan singkatnya.


"Aku hanya ingin mengingatkan jika kamu harus bersiap-siap untuk meninggalkan Fian, karena sebentar lagi aku akan merebutnya darimu," jawab Wulan hingga membuat Laras tersenyum.


"Apa kamu yakin dia memang untukmu? Kalau memang iya aku tidak masalah jika harus kehilangan dia karena mu, tapi jika tidak untukmu itu artinya kamu harus ikhlas," jawab Laras sambil tersenyum menatap Layar ponselnya.


"Tahu darimana dia nomer ini?" batin Laras sambil terus menatap Layar ponselnya.


Saat Laras sedang melamun sambil menatap layar ponselnya. Tiba-tiba Fian yang ternyata sejak tadi membaca pesan singkat Wulan secara diam-diam langsung menarik ponsel Laras dan melemparnya ke lantai hingga hancur tak bersisa. Laras yang terkejut langsung menatap Fian dengan pandangan kaget.


"Kenapa kamu lempar ponselku?" tanya Laras sambil terkejut.


"Ponsel itu sudah jelek dan juga banyak ulat di dalamnya," jawab Fian sambil menatap televisi.


"Lalu bagaimana aku bisa menghubungi orang tuaku," ucap Laras dengan penasaran.


"Besok kita ke pusat perbelanjaan dan kamu boleh beli ponsel apapun dan berapapun yang kamu mau," jawab Fian sambil melirik ke arah sang istri.


"Tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting nanti akan merugikan kamu sendiri," jawab Fian sambil membelai rambut Laras dengan lembut.


"Apa kita akan selamanya bersama sampai kita meninggal Mas?" tanya Laras sambil menatap wajah Fian.


"Insya Allah jika kamu terus beribadah dan terus menjadi wanita dan dan istri sholeha untukku," jawab Fian sambil mencium kening sang istri.


"Mas, bagaimana kalau besok kita jemput Shafira, aku sudah merindukannya," usul Laras sambil bersandar di dada Fian yang kekar.


"Boleh, tapi ada satu syarat," ucap Fian hingga membuat Laras terkejut dan langsung duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Syarat, kenapa harus ada syarat? Bukankah aku mengajakmu menjemput Shafira," jawab Laras sambil terkejut dan menoleh ke arah sang suami.


"Kamu mau tidak, kalau tidak ya sudah kita tidak akan jemput Shafira," jawab Fian sambil melirik ke arah sang istri.


Laras yang terkejut dengan sikap suaminya hanya terdiam sambil terus menatap wajah Fian yang sedang menonton televisi. Laras yang sudah kesal dengan sikap Fian langsung mengambil remote yang ada di sampingnya dan langsung mematikan televisi. Hingga membuat sang suami terkejut dengan apa yang Laras lakukan.


"Ada apa, apa aku salah dalam berucap," tanya Fian dengan penasaran.


"Sejak kapan kamu berpikir masalah syarat saat aku memintamu untuk mengantarku menjemput Shafira yaitu anak kandungmu sendiri," jelas Laras dengan nada emosi.


"Aku 'kan tidak memaksamu," jawab Fian dengan tatapan santai tapi tetap serius.


"Iya aku tahu tapi 'kan kamu …." belum selesai Laras menjawab Fian langsung meletakkan jari telunjuknya kepada bibir mungil sang istri hingga membuat Laras terdiam sambil menatap wajah sang suami.


"Kenapa kamu tidak tanya apa syaratnya?" tanya Fian sambil menatap kedua mata Laras dengan tajam.


 "Iya, apa syaratnya," jawab Laras yang merasa ketakutan dan menahan rasa grogi dengan tatapan sang suami.


Mendengar ucapan sang istri Fian langsung menyingkirkan tangannya. Perlahan dia mulai tersenyum melihat wajah panik Laras akan syarat yang akan dia berikan. Fian mulai mendekatkan wajahnya ke arah Laras yang masih diam mematung sambil menutup mata.


"Aku mau shalat isya' dulu," ucap Fian sambil tertawa dan turun dari tempat tidur.


"Dasar kamu Mas, aku sudah jantungan akan apa yang kamu katakan," ucap Laras sambil melempar bantal ke arah sang suami yang berjalan ke arah kamar mandi sambil tertawa.


"Sayang! Apa kamu tidak shalat," teriak Fian dari kejauhan.


"Iya, aku akan menyusul ke kamar mandi sekarang," jawab Laras sambil berjalan dengan cemberut.

__ADS_1


Saat Laras baru saja berjalan ke arah kamar mandi. Tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Hingga membuatnya tidak dapat berjalan dan akhirnya terjatuh.


"Mas! Sakit," teriak Laras sambil memegangi perutnya.


__ADS_2