
"Aku tidak sengaja menginjak besi tajam hingga membuat kakiku terluka," jawab Fian sambil membereskan pakaian Laras yang ada di dalam tas.
"Lalu bagaimana sekarang, apa perlu kita bawa ke rumah sakit?" tanya Laras dengan khawatir.
"Tidak perlu, lukanya juga sudah sembuh. Kamu dan Shafira duduk saja disini biar aku yang ganti sprei ini," ucap Fian sambil menggandeng Laras ke sebuah kursi.
"Apa mungkin luka robek di telapak kaki memiliki bercak seperti darah menstruasi?" batin Laras sambil memperhatikan gelagat Fian yang terlihat mencurigakan.
Setelah mengganti sprei Fian membantu Laras untuk berdiri dari kursi dan berjalan ke tempat tidur. Fian yang sudah terlihat gugup di hadapan Laras langsung pamit untuk ke ruang kerjanya. Firasat tidak enak Laras rasakan saat melihat gerak-gerik sang suami.
"Kenapa aku merasa seperti ada yang ditutupi oleh Mas Fian," batin Laras sambil tersenyum ke arah Fian yang akan meninggalkan kamar.
Saat di dalam ruang kerjanya Fian yang berusaha untuk melupakan kejadian malam itu justru semakin muncul di dalam pikirannya. Penyesalan dan rasa bersalah selalu merasuk di dalam hatinya. ******* dan rintihan sang pembantu juga masih terdengar jelas di telinganya.
"Ya Allah sebenarnya aku ingin mengatakan semuanya kepada Laras, tapi aku takut dia akan membenciku," batin Fian sambil menutup laptop yang ada di hadapannya.
Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa hubungan terlarang itu kini menjadi hubungan yang nyata untuk Fian. Ratna yang sejak dulu diminta untuk berhenti menghubunginya justru semakin nekat untuk terus hadir di dalam hidupnya. Bahkan dia tidak segan-segan mengancam Fian untuk melaporkan kejadian malam itu kepada Laras jika Fian menolak untuk menemuinya.
"Assalamualaikum," ucap Fian sambil membuka pintu kamarnya.
"Waalaikumsalam," jawab Laras sambil melihat Fian yang baru pulang dari proyek.
"Aku mandi dulu ya Sayang," ucap Fian sambil meletakkan tas kerjanya diatas meja dan segera masuk ke dalam kamar.
"Iya, aku ke dapur dulu untuk membuatkanmu kopi," ucap Laras yang akan keluar dari kamar.
"Tidak perlu Sayang! Kamu istirahat saja biar nanti aku yang buat sendiri," jawab Fian sambil berteriak dari dalam kamar mandi.
Mendengar ucapan Fian Laras langsung mengurungkan niatnya dan segera berjalan ke box bayi Shafira. Terlihat wajah cantik sang putri yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Namun, saat Laras sedang melamun menatap Shafira tiba-tiba dia mendengar suara ponsel Fian beberapa kali.
__ADS_1
"Hai Sayang, apa kamu sudah sampai di rumah?" tulis seseorang di sebuah pesan singkat.
"Sayang?" ucap Laras dengan penasaran.
"Permainanmu malam ini benar-benar membuatku puas, terima kasih ya aku janji tidak akan melaporkan hubungan terlarang kita kepada istrimu," tiba-tiba muncul kembali sebuah tulisan yang semakin membuat Laras sakit hati.
Setelah membaca pesan singkat tak bernama itu. Laras langsung duduk terdiam di kursi kecil yang ada di samping meja sambil terus menggenggam ponsel sang suami. Fian yang baru saja keluar terkejut saat melihat ponsel miliknya ada di genggaman Laras.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fian sambil duduk di bawah Laras yang mulai meneteskan air mata.
"Kebohongan apa yang kamu sembunyikan kepadaku Mas," ucap Laras sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, aku tidak menutupi apapun darimu," jawab Fian sambil memegang kaki Laras.
"Lalu ini apa," ucap Laras sambil menyerahkan ponsel Fian dan menatap sang suami dengan tatapan kecewa.
"Mungkin ini hanya salah kirim dan aku juga tidak tahu siapa pemilik nomor ini," jawab Fian setelah membaca pesan singkat yang ada di ponselnya.
"Iya aku yakin, karena aku memang tidak mengenal pemilik nomor ini," jawab Fian dengan santai seolah ingin menghilangkan rasa gugupnya.
"Ratna kenapa bisa kamu mengirim pesan sampah ini di nomorku," batin Fian sambil sedikit kesal.
Karena memang tidak ada bukti yang menunjukkan perselingkuhan Fian. Laras mencoba untuk mempercayai sang suami. Namun, entah kenapa dia seolah ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Sepertinya aku harus mencari tahu siapa pemilik nomor itu, apa benar Mas Fian tega menghianati ku selama ini," batin Laras sambil mengusap air matanya.
***
Keesokan harinya, setelah Fian pamit untuk pergi ke proyek. Laras langsung menitipkan Shafira ke Mbok Ijah dan segera menyusul sang suami dengan menggunakan ojek online.
__ADS_1
"Sepertinya ini bukan arah proyek," pikir Laras saat mulai memasuki sebuah perumahan yang terlihat masih sepi.
Fian yang baru saja turun dari mobil langsung disambut oleh Ratna yang baru saja keluar dari rumahnya. Melihat sosok Ratna yang mencium mesra Fian membuat Laras langsung terdiam tanpa bisa berkata apapun. Perlahan dia mulai turun dari dalam mobil dan mengetuk rumah itu.
"Assalamualaikum," ucap Laras dengan nada sedikit bergetar karena menahan rasa sakit di dadanya.
"Waalaikumsalam, Sayang!" jawab Fian sambil terkejut melihat Laras sudah berdiri di hadapannya.
"Siapa yang datang Sayang!" teriak Ratna dari dalam dapur.
"Ayo Masuk," ajak Fian kepada Laras sambil menggenggam tangannya.
Laras yang melihat Fian tanpa menggunakan kemeja hanya bisa terdiam. Sesungguhnya hatinya sangat rapuh, tapi dia terus berusaha untuk kuat. Hanya air mata yang jatuh menjadi bukti hancur dan sakit yang dia rasakan.
"Sayang aku mohon dengarkan aku, semua ini benar-benar diluar kemauanku," ucap Fian saat duduk di samping Laras.
"Jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya ter …." belum selesai Laras berbicara Ratna langsung memotong pembicaraannya.
"Mbak Laras, syukurlah jika Mbak Laras sudah mengetahui hubungan kami jadi Mas Fian bisa segera bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandungan saya," ucap Ratna saat dia tahu jika tamu yang datang ke rumahnya adalah Laras.
"Ratna tutup mulutmu! Berkali-kali aku bilang padamu kalau aku tidak akan pernah menikahimu apalagi menceraikan Laras," bentak Fian sambil menoleh ke arah Ratna.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, lalu bagaimana dengan nasib anak ini Mas?" tanya Ratna sambil mendekat ke arah Fian.
"Sejak awal kamu sudah menjebakku dan membuatku masuk ke dalam perangkapmu, jadi sampai kapanpun aku tidak akan mengakui anak ini," jelas Fian sambil menggenggam tangan Laras yang hanya bisa terdiam sambil meneteskan air mata.
"Berhenti! Sekarang jelaskan apa maksud semua ini Mas," bentak Laras kepada Fian dan Laras.
"Kamu harus percaya kepadaku Sayang, aku ini di jebak oleh Ratna," jawab Fian sambil menoleh ke arah sang istri.
__ADS_1
"Sudah berapa lama hubungan kalian berjalan?" tanya Laras dengan pandangan kosong.
"Enam bulan lalu saat Mbak Laras akan di operasi," jawab Ratna sambil menatap Laras.