Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 66


__ADS_3

Hanya tatapan kosong yang bisa Laras berikan kepada sang suami. Terlihat air mata yang menetes dari mata Fian saat melihat kondisi Laras yang saat ini ada di pangkuannya. Tanpa terasa mereka pun tiba di sebuah rumah sakit pemerintah daerah. 


"Security cepat bantu saya untuk membawa istri saya ke ruang UGD!" teriak Fian kepada seorang security yang saat itu berdiri di depan ruang UGD.  


"Baik Pak!" teriak sang security sambil berlari mengambil brankar yang ada di dekat pintu masuk ruang UGD.


Beberapa saat kemudian Laras sudah terbaring diatas brankar, dan dengan cepat sang security langsung mendorong Laras menuju ke arah ruang UGD. Ardi yang saat itu melihat kondisi sang adik ipar langsung meneteskan air mata. Fian yang selalu ada di samping berusah terus mengenggam tangan Laras yang hanya bisa menangis sambil menatap sang suami. 


"Maaf Bapak tidak boleh masuk, silahkan tunggu di luar ya Pak," perintah seorang suster yang saat itu bertugas. 


"Tapi saya suaminya Sus," jawab Fian sambil memaksa masuk ke dalam.


"Iya Pak, biarkan Dokter menangani istri Bapak dulu," jelas sang suster sambil menahan tubuh Fian. 


"Fian, percayakan kepada Dokter. Abang yakin kalau Laras pasti bisa melewati semua ini," ucap Ardi sambil menepuk pundak sang adik dan mengajaknya duduk di ruang tunggu.  


"Ya Allah jaga istriku, biarkan aku terus menjaganya sampai putri kami tumbuh dewasa, " batin Fian sambil menggengam tangannya. 


“Kami harus bisa tenang, yakinlah jika Laras mampu melewati kondisi ini. Sebenarnya apa yang terjadi sampai Laras drop?" tanya Ardi kepada Fian yang masih terlihat sangat khawatir dengan kondisi istrinya. 


"Aku juga tidak tahu, tapi saat aku memegang dahinya terasa sangat panas dan dia juga tidak sadarkan diri, saat aku membuka selimut dia telah menggalami pendarahan," jelas Fian kepada Ardi. 


“ya Allah," hanya kata itu yang keluar dari bibir Ardi.  


"Keluarga Ibu Laras!" teriak seorang suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.  


"Iya Sus, saya suaminya," jawab Fian sambil berlari ke arah sang suster.  


"Bapak, tolong tebuskan obat ini di apotik," perintah sang suster sambil memberikan sebuah kertas resep. 


"Baik Sus," jawab Fian singkat lalu berbalik ke arah apotik yang tidak jauh dari ruang UGD. 

__ADS_1


setelah menebus beberapa obat serta sebuah catteter dan infus Fian langsung menuju ke ruang UGD untuk menyerahkannya kepada Suster.  Setelah menyerahkan kepada sang suster Fian diminta untuk keluar dari ruang UGD. 


"Sayang, aku tahu kamu pasti kuat dan aku pastikan aku akan selalu disampingmu," batin Fian sambil menoleh ke arah sang istri yang terlihat terbaring di atas sebuah tempat tidur. 


"Maaf apa benar Bapak adalah suami dari Ibu Khania Larasati?" tanya seorang Dokter hingga membuat Fian terkejut.  


"Iya saya Suami dari Khania Larasati," jawab Fian sambil menoleh ke arah suara. 


"Bisa kita bicara di ruangan saya sebentar?" tanya sang dokter kepada Fian yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Fian. 


Setelah mempersilahkan Fian duduk sang dokter langsung menjelaskan tentang kondisi Laras. Sang dokter juga meminta Fian untuk membujuk sang istri agar segera melakukan operasi, karena selain kondisi tumor yang sudah membesar kondisi rahim Laras juga sudah tidak dapat di pertahankan. 


“Apa yang Dokter katakan kepadamu?” tanya Ardi saat Fian kembali ke ruang UGD. 


“Laras harus segera melakukan operasi,” jawab Fian sambil duduk di sebuah kursi dengan lemas. 


“Kamu harus kuat, demi Shafira dan Laras," ucap Ardi sambil memeluk pundak sang adik. 


"Apa aku tidak boleh bahagia Bang, orang tua kita meninggal saat aku masih butuh kasih sayang mereka. Apa sekarang Allah akan mengambil Laras disaat aku sangat menyayanginya, aku bahagia dengannya, disaat kalian memikirkan keluarga kalian bahkan disaat aku sakit justru dia yang selalu ada buatku," jelas Fian sambil menangis dan menunduk. 


"Aku mau menemui Laras dulu Bang," jawab Fian sambil mengusap air matanya. 


Fian yang mulai rapuh mencoba untuk tegar saat berjalan ke ruangan sang istri. Laras yang saat itu sedang terbaring di tempat tidur terlihat sangat pucat. Namun, dia tetap berusaha tersenyum di hadapan sang suami. 


"Sayang, aku pulang dulu ya nanti setelah aku mengemasi pakaianmu aku akan kembali ke rumah sakit," ucap Fian sambil berusaha terus tersenyum dan tegar di hadapan sang istri. 


"Iya Mas, terima kasih karena kamu sudah menjadi suami terbaik untukku dan terima kasih kamu sudah membantuku untuk mengenal Allah," jawab Laras dengan tatapan kosong. 


"Ya Allah kenapa aku seakan berat meninggalkan Laras sendiri di sini," batin Fian sambil terus menatap wajah sang istri. 


"Mas, pulanglah jangan kamu pikirkan aku, insya Allah aku baik-baik saja," ucap Laras yang langsung membuat Fian yang sedang melamun terkejut. 

__ADS_1


"Iya, kamu tunggu disini ya aku hanya mengambil beberapa pakaian saja," jawab Fian yang langsung mencium kening sang istri. 


***


Setelah sampai di rumah, Fian langsung masuk ke dalam kamar untuk merapikan pakaian Laras dan beberapa peralatan mandi. Setelah di rasa semua sudah lengkap Fian langsung bergegas menuju ke rumah sakit. Namun, saat dia baru saja sampai di depan ruang kerjanya tiba-tiba terdengar suara ponsel dari saku celananya. 


"Halo selamat siang, apa benar ini dengan Bapak Muhammad Alfian?" tanya seseorang dari seberang telepon. 


"Iya saya Fian, kalau boleh tahu saya bicara dengan siapa," jawab Fian dengan rasa penasaran.


"Saya Santi dari bagian informasi rumah sakit medika, kami ingin menggabarkan jika Istri Bapak yang bernama Khania Larasati telah meninggal dunia 30 menit yang lalu," ucap sang perempuan yang mengaku bernama Santi. 


Fian yang mendengar berita itu langsung terduduk lemas. Hidupnya seakan runtuh tak berbentuk, kaki yang selalu tegak kini tidak mampu berdiri dengan sempurna. Air mata yang sudah menggering langsung membasahi pipinya saat mendengar kepergian sang istri. 


"Innalillahiwainnailaihirojiun, Laras!" teriak Fian sambil menangis hingga membuat semua orang yang ada di situ terkejut. 


"Fian, ada apa?" tanya Ardi yang saat itu terkejut dengan teriakan sang adik. 


"Laras Bang, Laras meninggalkan aku dan Shafira," jawab Fian sambil menangis. 


"Innalillahiwainnailaihirojiun," ucap Ardi sambil memeluk tubuh sang adik dengan erat. 


*** 


Banyak keluarga dan kerabat yang menghadiri pemakaman Laras. Fian laki-laki yang selama ini selalu membela serta melindungi Laras hanya bisa menangis tanpa mampu berkata. Terlihat beberapa keluarga mulai menangisi kepergian Laras saat tubuhnya sudah mulai masuk ke liang kubur. Arman yang selama ini keras hari ini terlihat rapuh, dia berusaha untuk tetap tegar sambil memeluk Sophia dan menggendong Shafira.


"Laras putriku, maafkan Papa yang selama ini kurang memberikan kasih sayang untukmu, dan terima kasih engkau telah membuat Papa mengerti akan kekuatan cinta dan pentingnya ilmu agama," batin Arman sambil meneteskan air matanya. 


Perlahan Fian mulai duduk di pusara sang istri sambil meneteskan air matanya. Sejenak dia mengingat kenangan indahnya dengan Laras. Sebuah pertemuan yang tidak disengaja yang akhirnya membuat mereka bersama.


"Sayang, terima kasih sudah hadir dan menemaniku selama ini, terima kasih atas ketulusan cinta yang engkau berikan. Aku janji akan merawat Shafira seperti permintaanmu, dan aku yakin kamu tidak merasakan sakit lagi karena Allah telah mengobati sakitmu, sampai kapanpun hanya ada satu perempuan dan satu nama sampai saat aku menjemputmu nanti," ucap Fian sambil memegang batu nisan sang istri lalu dengan lembut Fian menciumnya. 

__ADS_1


Fian yang selama ini selalu hidup didampingi sang istri, kini harus merelakan kepergian Laras. Karena dia yakin kelak Allah akan mempertemukan mereka kembali disaat yang tepat. 


"Sayang tunggu aku, aku pasti akan menjemputmu di surga, dan aku akan menjagamu disana seperti aku yang selalu menjagamu di dunia ini," ucap Fian saat sudah berada di dalam kamar sambil memeluk foto sang istri.


__ADS_2