
"Maksud Pak Bos apa, dan siapa yang sedang dalam bahaya?" tanya Bejo yang mulai bingung dengan apa yang diucapkan Fian.
"Laras! Memang istriku ada berapa," bentak Fian kepada Bejo.
"Mbak Laras baik-baik saja, dan baru saja Mbok Ijah masuk ke dalam kamar Pak Bos untuk menemani Mbak Laras," jawab Bejo kepada Fian.
"Astagfirullahaladzim," ucap Fian yang langsung terduduk lemas.
"Ayo Bos kita bicara di ruang kerja," ajak Bejo sambil membantu Fian berjalan ke ruang kerja.
Mendengar ucapan Bejo, Fian langsung terduduk lemas. Tubuhnya seakan tak bertulang, jangankan untuk berjalan untuk duduk saja dia sudah tidak sanggup lagi. Setelah meminta Fian duduk di kursi kerjanya, Bejo langsung bergegas mengambil segelas air putih kepada sang atasan.
"Silahkan diminum dulu Pak," ucap Bejo sambil memberikan segelas air putih hangat kepada Fian.
"Terima kasih," jawab Fian sambil menerima gelas dari tangan sang karyawan.
Setelah menghabiskan segelas air putih hangat yang diberikan Bejo. Fian langsung menceritakan kronologi kenapa dirinya begitu marah dan panik. Beruntung Bejo bisa memahami perasaan sang atasan hingga dia tidak menaruh dendam dan kesal kepada Fian.
"Pak Bos bisa percaya sama saya, saya tidak akan pernah mengkhianati ataupun mengecewakan Bapak," ucap Bejo sambil duduk di hadapan Fian.
"Lalu kenapa panggilanku tidak kamu angkat?" tanya Fian penasaran sambil meletakkan gelas yang ada di tangannya.
"Hari ini ada beberapa orang yang datang untuk memesan pagar dan railing tangga, dan ponsel saya ada di dalam kamar," jawab Bejo dengan tenang.
"Maafkan saya, saya benar-benar khawatir dengan keadaan Laras," jawab Fian sambil memijat lembut kepalanya.
"Tidak apa-apa Bos, saya bisa mengerti perasaan Bos Fian," jawab Bejo sambil tersenyum ramah.
"Kalau begitu saya mau ke kamar dulu untuk istirahat," ucap Fian sambil berusaha berdiri dari tempat duduknya.
"Apa mau saya bantu Bos," tawar Bejo sambil membantu Fian berdiri.
"Boleh, saya tidak tahu kenapa kepala saya begitu sakit," jawab Fian sambil mulai berjalan dengan bantuan Bejo.
Bejo mulai membantu Fian berjalan ke arah kamarnya. Wajah pucat dan tubuh yang lemas jelas terlihat di wajah Fian sore itu. Laras yang sedang menonton televisi dengan Mbok Ijah langsung terkejut saat melihat kondisi Fian.
"Astagfirullah, kamu kenapa Mas," ucap Laras saat melihat Bejo memapah Fian.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa," jawab Fian sambil sedikit memejamkan mata seakan menahan sakit dikepalanya.
"Kalau begitu Mbok buatkan teh hangat dulu buat Pak Fian," jawab Mbok Ijah sambil berjalan keluar.
"Saya juga pamit dulu ya Pak, Bu," jawab Bejo sambil berjalan di belakang Mbok Ijah.
"Terima kasih ya," ucap Laras kepada kedua karyawannya.
Setelah menutup pintu Laras langsung berjalan mendekati sang suami dan duduk di sampingnya. Dia mulai bertanya sebenarnya apa yang terjadi hingga Fian bisa seperti ini. Di dapur Mbok Ijah yang khawatir dengan kondisi majikannya bertanya kepada Bejo tentang apa yang terjadi.
"Pak Fian dapat teror, peneror tersebut bilang kalau mereka akan membunuh Mbak Laras, dan anehnya di panggilan tersebut terdengar teriakan seorang wanita yang meminta tolong dan berpura-pura menjadi Mbak Laras," jelas Bejo kepada Mbok Ijah yang sedang memasak air.
"Sebenarnya siapa ya orang yang tega berbuat jahat kepada majikan kita, aku heran kenapa orang sebaik Mbak Laras dan Pak Fian banyak musuhnya," jawab Mbok Ijah sambil duduk di kursi.
"Entahlah Mbok, namanya juga orang iri. Mbok tolong buatkan kopi sekalian ya," ucap Bejo sambil tersenyum kepada Mbok Ijah.
"Ah kamu, ikut-ikut saja," jawab Mbok Ijah dengan nada sewot.
"Yaelah Mbok, 'kan sekalian nanti kalau Mbok buatkan aku kopi aku doain Mbok banyak rejeki, panjang umur dan makin cantik," ledek Bejo sambil menengadah tangannya.
Kedua orang itu tertawa terbahak-bahak di dapur. Setelah selesai membuat teh untuk Fian, Mbok Ijah langsung mengantarkan teh tersebut ke kamar Fian dan Laras. Mbok Ijah bisa melihat bagaimana sedih dan cemasnya Laras melihat kondisi suaminya saat ini.
"Ya Allah, kasihan Mbak Laras," batin Mbok Ijah saat sudah berada di dapur.
***
"Mas, diminum dulu tehnya mumpung masih hangat," ucap Laras sambil membangunkan Fian yang sedang tertidur.
"Terima kasih ya Sayang," jawab Fian sambil menerima cangkir dari tangan sang istri.
Setelah menghabiskan teh di cangkir itu dan meletakkan di meja yang ada disampingnya. Sambil memijat kaki sang suami dengan perlahan. Laras mulai menanyakan kepada Fian tentang apa yang terjadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi Mas," tanya Laras sambil memijat kaki suaminya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya kelelahan saja," jawab Fian sambil menata bantal untuk dia bersandar.
"Kamu yakin Mas," ucap Laras sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Iya Sayang, oh iya kenapa ponselmu tidak dapat dihubungi," tanya Fian kepada sang istri.
"Apa iya," jawab Laras sambil mulai berdiri dan mencari ponselnya.
"Ya Allah ternyata ponselku kehabisan baterai, maaf ya Mas," ucap Laras sambil mulai mengecas ponselnya.
"Iya tidak apa-apa Sayang," jawab Fian sambil tersenyum kepada Laras.
Fian bersyukur karena Laras dalam keadaan baik-baik saja. Namun, dia masih bingung dengan siapa pelaku dari teror itu. Sekilas muncul nama Wulan dan Siska di dalam kepalanya.
"Kamu kenapa bengong Mas?" tanya Laras sambil duduk di samping Fian.
"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Fian sambil terkejut.
"Apa kepalamu masih sakit, sini aku pijitin bagian kepalamu," tawar Laras sambil naik ke tempat tidurnya.
"Tidak perlu Sayang, aku tidak mau kamu kelelahan karena memijatku," jawab Fian sambil menggenggam tangan Laras dan menciumnya.
Ada rasa curiga di hati Laras melihat kondisi sang suami saat ini. Fian yang dia kenal adalah laki-laki yang jarang sekali sakit. Jangankan penyakit berat Flu saja dia sangat jarang.
"Aku yakin pasti ada yang disembunyikan oleh Mas Fian, tapi apa?" batin Laras sambil bersandar di dada sang suami.
"Sayang," panggil Fian sambil mengusap rambut istrinya.
"Iya ada apa," tanya Laras sambil duduk dan menoleh ke arah sang suami.
"Aku bersyukur jika kamu dalam kondisi sehat," jawab Fian sambil tersenyum.
Perlahan-lahan Fian mulai mendekatkan wajahnya ke arah sang istri. Dia mulai mencium lembut bibir mungil Laras. Namun, saat mereka berciuman tiba-tiba Fian dikejutkan dengan suara ponsel yang ada di atas meja rias.
"Sayang bisa tolong ambilkan ponselku," perintah Fian kepada sang istri.
"Ini Mas," jawab Laras sambil menyerahkan ponsel kepada Fian.
"Assalamualaikum," ucap Fian saat panggilan sudah mulai terhubung.
"Astagfirullahaladzim," jawab Fian sambil terkejut.
__ADS_1