
Hari ini Fian sengaja tidak berangkat ke proyek. Karena dia ingin memastikan jika Laras sudah aman dari kejahatan saudaranya. Setelah menjalankan shalat dhuha Laras berniat ingin membangunkan Fian yang sedang tertidur pulas.
"Mas,apa kamu tidak berangkat ke proyek?" tanya Laras sambil mengusap rambut sang suami dengan lembut.
"Tidak, hari ini aku ingin seharian di rumah," jawab Fian sambil mengusap kedua matanya.
"Kalau begitu kamu tunggu di sini, biar hari ini aku masak makanan kesukaanmu," ucap Laras sambil berdiri dan mulai berjalan meninggalkan Fian.
Hampir satu jam Laras berada di dapur untuk memasak makanan kesukaan suaminya. Selama menjadi istri Fian ini adalah pertama kali Laras memasak untuk sang suami. Setelah mandi dan berpakaian rapi Fian langsung berjalan ke luar kamar untuk menemui sang istri yang ada di dapur.
"ehm wangi sekali masakan hari ini Mbok," ucap Fian kepada Mbok Ijah yang sedang mengupas bawang.
"Mbak Laras sedang masak opor ayam kesukaan Pak Fian," jawab Mbok Ijah sambil menoleh ke arah sang majikan.
"Kalau begitu Mbok buatkan kopi, saya mau menunggu masakan terlezat matang sambil menikmati secangkir kopi," ucap Fian sambil tersenyum ke arah sang istri.
"Iya Pak," jawab Mbok Ijah sambil berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan.
"Mbok bagaimana keadaan Bejo hari ini?" tanya Fian sambil menyalakan sebatang rokok di tangannya.
"Alhamdulillah Pak, Bejo sudah mulai baikan hanya ada beberapa luka memar," jawab Mbok Ijah sambil menyalakan kompor gas.
"Mas, kalau mau merokok di bengkel saja ya, 'kan kasihan si kecil kalau harus menghirup asap rokokmu," tegur Laras sambil berjalan ke arah sang suami.
"Oh iya, maaf ya Nak. Ayah lupa kalau kamu ada di perut Ibu," jawab Fian sambil mengusap perut Laras yang masih rata.
"Ya sudah kamu ke ruang kerja saja, kopinya biar aku yang antar," ucap Laras sambil mencium pipi sang suami.
"Ok Sayang, Mbok buat kopinya yang enak ya," ucap Fian kepada Mbok Ijah yang sedang tertawa melihat tingkah kedua majikannya.
Fian pun langsung keluar dari dapur dan berjalan menuju bengkelnya. Hari ini dia ingin bersantai seharian sambil melihat kesibukan seluruh karyawannya. Fian pun duduk di sebuah bale yang terbuat dari bambu.
"Eko!" teriak Fian kepada Eko yang sedang memotong sebatang besi dengan sebuah alat.
"Iya Bos,"jawab Eko sambil mematikan mesin yang ada di genggamannya.
__ADS_1
"Cepat kamu cari gorengan," ucap Fian sambil memberikan eko uang pecahan lima puluh ribu.
"Siap Bos," jawab Eko yang langsung berjalan keluar bengkel menggunakan sebuah motor.
Saat Fian sedang sibuk dengan ponselnya. Tiba-tiba sang istri datang dengan membawa secangkir kopi white kesukaan Fian. Dia pun meletakkan cangkir kopi tepat di hadapan sang suami yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Mas, diminum dulu kopinya," ucap Laras sambil meletakkan secangkir kopi di depan Fian.
"Terima kasih Sayang," ucap Fian sambil tersenyum dan mulai menyeruput sedikit kopi panas yang ada di hadapannya.
"Assalamualaikum," ucap Eko sambil memarkirkan motornya.
"Waalaikumsalam," jawab Fian dan Laras secara bersamaan.
"Ini Bos gorengannya," ucap Eko sambil menyerahkan gorengan kepada Fian.
"Ko, tolong panggilkan Mbok Ijah di dapur," perintah Fian sambil mulai menggigit tempe yang ada di tangannya.
Setelah meletakkan gorengan di hadapan Fian dan Laras. Eko langsung berjalan ke arah dapur untuk bertemu dengan Mbok Ijah. Setelah mendengar perintah Fian yang disampaikan Eko, Mbok Ijah pun segera menuju bale tempat Fian dan Laras menikmati udara pagi.
"Tolong ambilkan 3 piring di belakang, dan buatkan seluruh karyawan kopi," perintah Fian kepada Mbok Ijah.
"Kalau begitu biar aku membantu Mbok Ijah di belakang," jawab Laras sambil berdiri.
"Kamu disini saja temani aku menikmati kopi ini, karena kopi ini akan terasa lebih manis dan enak saat aku melihat wajahmu," rayu Fian sambil tersenyum dan memegang tangan Laras.
"Kamu ngerayu aja Mas," jawab Laras yang malu dengan rayuan Fian di hadapan seluruh karyawannya.
"Sudah tidak apa-apa Mbak, di dapur juga ada Eko jadi biar dia yang membantu saya," ucap Mbok Ijah sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih Mbok," jawab Fian sambil minum kopi di cangkirnya.
Mbok Ijah pun langsung berjalan ke arah dapur. Beliau segera menyiapkan 3 buah piring dan beberapa cangkir kopi. Setelah selesai Mbok Ijah langsung membawa kopi itu ke bengkel dengan dibantu Eko.
"Ini Pak," ucap Mbok Ijah sambil menyerahkan piring dan kopi.
__ADS_1
"Mbok ambil piring satu dan ambil berapapun gorengan untuk Mbok dan Bejo," perintah Fian kepada Mbok Ijah.
"Terima kasih Pa," jawab Mbok Ijah sambil mengambil beberapa gorengan di dalam kantong plastik.
"Ko, tolong kamu tekan bel istirahat di depan ruang kerjaku," perintah Fian kepada Eko.
"kring kring," terdengar suara bel istirahat dengan sangat kencang hingga membuat semua orang berhenti.
"Ayo kalian makan dan ngopi dulu, kerjanya di lanjutkan nanti kalau gorengan dan kopi ini sudah habis!" teriak Fian kepada seluruh karyawannya.
"Tapi ini masih jam 10 Bos," jawab salah satu karyawannya.
"Sudah tidak apa-apa, kalian ini manusia bukan binatang yang harus dipaksa untuk terus bekerja," jawab Fian sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana Mas?" tanya Laras saat melihat Fian berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo kita masuk, biar mereka bebas makan di tempat ini," jawab Fian sambil mengulurkan tangannya kepada Laras yang masih duduk di hadapannya.
"Terima kasih Bos!" teriak salah satu anak buah Fian.
"Eko mungkin sebentar lagi ada supir ojek yang datang membawa pesanan nasi kotak, yang dua nanti kamu berikan kepada Mbok Ijah dan Bejo bilang kalau makanan itu untuk mereka," pesan Fian sebelum berjalan ke arah kamarnya.
"Alhamdulillah, siap Bos terima kasih banyak," ucap Eko sambil duduk di bale bambu.
Setelah di dalam kamar Fian langsung meminta Laras untuk duduk di atas tempat tidur. Fian yang saat itu berdiri di hadapan Laras langsung mencium bibir mungil sang istri. Perlahan dia pun mulai melepaskan kancing bajunya sambil terus mengulum bibir Laras.
"Sayang, hari ini aku benar-benar merindukanmu," bisik Fian sambil mulai membuka pakaian Laras.
Laras yang menikmati sentuhan lembut suaminya mulai membalas ciuman dan sentuhan Fian kepada tubuhnya. Hingga dengan perlahan dia mulai membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ciuman, sentuhan bahkan belaian Fian membuat Laras terus mendesah kenikmatan.
"Nikmatilah Sayang, biarkan aku tetap mencintaimu sampai kapanpun," bisik Fian hingga membuat Laras merasakan geli di telinga nya.
Setelah puas melakukan hubungan suami istri mereka pun tertidur dengan hanya tertutup selimut. Laras yang terbangun dari tidurnya terkejut saat tidak melihat Fian di sampingnya. Berkali-kali Laras menghubungi nomor suaminya. Namun, tidak ada jawaban dari si pemilik nomor.
"Dimana Mas Fian, kenapa dia pergi tanpa pamit padaku," ucap Laras sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1