Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 47


__ADS_3

Saat tiba di rumah Fian langsung menemui Laras di kamarnya. Setelah melepas sepatunya dan menjalankan ibadah shalat dzuhur. Fian langsung menghampiri Laras yang saat itu sedang berbaring sambil memainkan ponselnya. 


"Sayang, apa kamu sudah shalat?" tanya Fian sambil berbaring di samping sang istri. 


"Alhamdulillah sudah Mas, aku ke dapur dulu ya mau minta Mbok Ijah buat siapkan makan siang untuk kita," ucap Laras sambil meletakkan ponsel di meja yang ada di sampingnya.


"Nanti saja, ada yang mau aku bicarakan kepadamu," ucap Fian sambil memegang tangan istrinya yang sudah siap untuk turun dari tempat tidur.


"Ada apa Mas, apa ada hal yang penting?" tanya Laras saat melihat wajah Fian yang begitu serius.


"Sayang, bagaimana kalau kepergian kita ke Bali diundur minggu depan?" tanya Fian dengan perasaan ragu.


"Mas, jadi atau tidak kita pergi aku tidak masalah 'kan kamu yang ingin pergi berlibur bukan aku," jawab Laras sambil tersenyum manis.


"Tapi apa kamu bersedia jika aku mengajakmu ke rumah Om Syam?" tanya Fian sambil menatap Laras.


Laras seketika terdiam mendengar ucapan sang suami yang terkesan mendadak. Laras berpikir ada apa Fian mengajaknya bertemu dengan keluarganya, sedangkan dia tahu jika keluarganya tidak ada yang menyukai dirinya. Melihat sang istri termenung Fian langsung mencium tangan sang istri hingga membuat Laras terkejut.


"Kenapa kamu mengajakku ke rumah Om Syam?" tanya Laras penasaran. 


"Om Syam ada acara keluarga 3 hari lagi, jadi aku berniat mengajakmu untuk menghadiri acara keluarga itu," jawab Fian sambil memainkan tangan istrinya.


"Apa semua Kakakmu ikut," tanya Laras yang tiba-tiba teringat akan Siska dan Ardi.


"Ada, aku yakin seluruh keluargaku pasti hadir karena acara keluarga ini sangatlah penting. Kamu mau ikut ya Sayang, kamu tidak perlu takut aku akan menjagamu," ucap Fian sambil meyakinkan sang istri agar mau ikut menghadiri acara yang ada di rumah pamannya.


"Insya Allah aku akan ikut," jawab Laras sambil tersenyum.


"Baik, sekarang aku akan ke ruang kerjaku dulu karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepada Bejo," ucap Fian sambil berdiri dan berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang kerjanya.


Waktu berlalu begitu cepat, hari ini Fian dan Laras bersiap berangkat ke rumah Syam. Fian sengaja berangkat paling belakang karena dia ingin membiarkan sang paman untuk menjelaskan terlebih dahulu kepada seluruh keluarga. Saat mereka sampai terlihat Siska, Ardi dan dua kakak Fian yang lain serta seluruh adik dan kakak dari almarhum sang ayah. 


“Assalamualaikum,” ucap Laras dan Fian secara bersamaan.


“Waalaikumsalam,” jawab seluruh orang yang ada di ruangan itu kecuali Siska dan Ardi yang hanya menoleh ke arah Laras dengan penuh kebencian.


“Ayo Sayang,” ajak Fian sambil menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke dalam ruang tamu sang paman.


"Aku yakin, Om Syam pasti sudah bercerita kepada semuanya jika tanah yang aku tempati saat ini sudah menjadi milikku sepenuhnya, dan kedatanganku kesini untuk mengambil surat tanah  yang sudah berubah menjadi nama istriku,” ucap Fian sambil menoleh ke arah Laras sambil tersenyum.


Seketika ruangan itu menjadi hening dan tegang termasuk Laras yang langsung menoleh ke arah suaminya dengan terkejut. Seluruh orang yang ada di tempat itu terlihat sangat kesal tanpa berani menatap Fian dan Laras. Namun, disaat semua sedang terdiam karena pernyataan Fian tiba-tiba Ardi kakak tertua Fian langsung berdiri dan berbicara dengan lantang.


"Tidak! Aku tidak setuju tanah itu menjadi atas nama perempuan murtad ini," teriak Ardi sambil berdiri dan menunjuk ke arah Laras.


"Kenapa, bukannya tanah ini sudah kalian jual dan aku yang membelinya dengan uang dan kerja kerasku sendiri," jawab Fian sambil berdiri dan menatap Ardi dengan tajam tapi dalam kondisi tetap tenang dan santai.


"Kami izinkan kamu membeli tanah ini, tapi tidak perlu memberikan tanah ini kepada perempuan murtad yang tak beragama ini," jawab Ardi sambil mendekati Fian.


Laras yang sejak tadi hanya terdiam melihat Ardi dan Fian bertengkar. Kini dia mulai berdiri dan berani menyampaikan isi hatinya di depan seluruh keluarga Fian. Hingga membuat mereka terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.


"Saya memang miskin, saya memang pendosa bahkan saya adalah wanita murtad yang sangat hina, tapi apa kalian yang ada di ruangan ini sudah yakin tidak memiliki dosa walaupun sekecil debu, apa kalian yakin jika kalian adalah manusia suci dan kaya sehingga bisa merendahkan saya seperti ini. Maaf Mas aku tidak bisa terus berada ditengah-tengah manusia munafik seperti mereka seorang manusia yang menganggap orang lain buruk padahal belum tentu dirinya baik," ucap Laras sambil berdiri dan mengedarkan pandangannya ke semua orang dan berjalan keluar dari rumah Syam.

__ADS_1


Semua orang yang ada di ruangan itu seketika terdiam setelah mendengar ucapan Laras. Bahkan Fian seolah dibuat kagum dengan keberanian sang istri dalam menjawab ucapan Ardi. Setelah mengambil surat tanah dari atas meja Fian langsung bergegas menemui sang Istri yang sudah berdiri di depan mobilnya.


"Sayang, aku tidak menyangka kamu bisa seberani itu dalam berbicara," ucap Fian saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aku hanya lelah terus dihina dan dicela sebagai pendosa, perempuan hina dan murtad," jawab Laras yang mulai mengeluarkan butiran air matanya.


"Kamu harus tetap seperti ini, karena aku suka Laras yang pemberani seperti sekarang," ucap Fian sambil mulai menyalakan mobilnya dan mengemudikannya menuju rumah sang mertua.


"Sebenarnya hatiku rapuh Mas, aku takut tapi entah kenapa ada dorongan kuat yang membuatku harus melawan mulut mereka," batin Laras sambil menunduk dan terdiam.


***


Sejak kejadian di rumah Syam baik Siska dan seluruh keluarga Fian tidak pernah lagi menghina Laras. Baik secara terang-terangan mereka hanya menatap Laras dengan tatapan benci setiap kali bertemu. Fian dan Laras mulai menjalankan kehidupan mereka dengan normal ilmu.


"Sayang, siang ini saat aku baru keluar dari gerbang proyek aku melihat seorang laki-laki duduk termenung di bawah pohon yang tidak jauh dari proyek," ucap Fian sambil duduk di sebuah kursi dan melepas sepatunya.


"Apa kamu menghampirinya?" tanya Laras sambil duduk di samping suaminya.


"Iya, aku menghampirinya sambil membawa sebungkus makanan dan minuman untuknya, tapi ada hal yang membuatku langsung meneteskan air mata," jawabnya sambil mengangkat kepalanya ke atas.


"Apa yang membuatmu menangis saat bertemu laki-laki itu," tanya Laras sambil mengusap pundak Fian dengan lembut.


"Saat aku berikan makanan kepadanya dia menerima dengan penuh bahagia sambil berkata terima kasih Pak, kebetulan hari ini saya belum makan," cerita Fian sambil meneteskan air matanya.


"Ya Allah, kasihan orang itu ternyata masih ada di antara kita yang kekurangan," jawab Laras saat mendengar cerita suaminya.


"Itulah yang membuatku langsung menangis, akhirnya aku membawanya ke proyek dan meminta Papa untuk memberikan pekerjaan kepadanya agar dia bisa tetap bertahan hidup," jelas Fian sambil menyandarkan kepalanya di pelukan Laras.


"Bersyukur, sedikit, banyak yang kita dapatkan jangan lupa untuk selalu bersyukur dan tetap rendah hati walaupun kita ada di titik tertinggi," jawab Fian sambil menatap mata Laras dan tersenyum.


"Masya Allah, terima kasih ya Allah engkau telah memberikanku seorang imam yang sempurna, aku tidak tahu apa yang terjadi kepadaku jika aku tidak menikah dengannya," batin Laras sambil membelai rambut Fian yang masih nyaman dalam pelukannya.


***


keesokan harinya saat Fian sibuk dengan pekerjaannya di proyek. Bejo dan beberapa karyawan yang lain sibuk dengan beberapa pesanan pembuatan pagar, kanopi dan lain-lain. Laras yang saat itu baru selesai shalat dhuha tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu di kamarnya.


“Assalamualaikum,” terdengar suara wanita mengucapkan salam dan mengetuk pintu dengan pelan.


“Waalaikumsalam,” ucap Laras sambil bergegas melipat peralatan shalatnya.


"Hai Laras apa kabar," ucap Rosa sambil tersenyum ramah.


"Kak Rosa, ayo mari masuk," ucap Laras sambil mempersilahkan kakak iparnya itu untuk masuk dan duduk di sebuah kursi.


"Bagaimana kabarmu? Oh ya Shafira kemana sepertinya dia tidak ada di kamar," tanya Rosa sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Laras.


"Alhamdulillah baik Kak, Shafira untuk sementara kami titipkan ke rumah orang tua Laras," jawab Laras sambil meletakkan beberapa cemilan di atas meja.


"Oh … memang kenapa di titipkan? Kamu 'kan tidak sibuk jadi tidak mungkin kamu kelelahan mengurus Shafira yang masih berusia 7 bulan," ucap Rosa sambil tersenyum seolah mengejek Laras.


"Laras tinggal ke dapur sebentar ya Kak," pamit Laras kepada Rosa lalu berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Setelah melihat Laras ke dapur, Rosa langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia langsung menghubungi seseorang dan memintanya segera ke bengkel Fian. Tidak lama setelah Rosa menutup ponselnya Laras pun tiba sambil membawa sebuah nampan berisi teko dan dua buah cangkir. 


"Silahkan diminum kak," ucap Laras sambil meletakkan nampan di atas meja kecil yang menjadi pembatas antara Laras dan Rosa.


"Sebenarnya kedatangan Kakak kemari …." belum selesai Rosa menjelaskan maksud kedatangannya tiba-tiba terdengar sebuah suara ketukan pintu. 


"Maaf Kak, Laras buka pintu sebentar, sepertinya Mas Fian sudah pulang," sela Laras saat dia mendengar suara ketukan pintu.


“Hai Laras apa kabar?" ucap Siska yang saat itu sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum dan berjalan masuk tanpa di persilahkan. 


Laras yang melihat kedatangan Siska langsung terkejut dan terdiam sambil melihat Rosa dan Siska tertawa bahagia di dalam kamarnya. Muncul rasa ragu dan khawatir akan kedatangan Siska. Namun, Laras berusaha tetap tenang dan sabar dalam memperlakukan dua Kakak iparnya itu.


"Hai, kenapa kamu melamun disana, ayo bergabung disini bersama kami," ucap Siska yang sudah duduk di tempat tidur Laras.


"Ehm saya ke dapur dulu ya mau ambil satu cangkir lagi untuk Kak Siska," ucap Laras sambil terkejut.


"Sudah tidak perlu, aku bisa minum satu gelas dengan Rosa kok," jawab Siska dengan tertawa bahagia.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang, semoga Kak Siska tidak melakukan hal yang berlebihan," batin Laras sambil berjalan perlahan mendekati Rosa dan Siska.


"Kamar kamu enak ya Laras, luas tempat tidur juga cukup empuk dan nyaman," ucap Siska sambil mengarahkan pandangannya ke seluruh kamar Laras.


"Alhamdulillah Kak," jawab Laras dengan ragu dan hati-hati seolah dia takut menyinggung perasaan kedua kakak iparnya.


"Eh ada bunga mawar, ini asli atau palsu?" tanya Rosa saat melihat mawar yang ada di atas meja rias.


"Asli Kak, kalau Kakak mau silahkan saja ambil nggak papa kok," jawab Laras sambil berusaha tersenyum ramah.


"Wah kamu merawat mawar ini di vas bunga, bagi caranya dong bagaimana biar bunga-bunga ini tetap segar," ucap Rosa sambil berjalan ke arah Laras sambil membawa vas bunga tersebut.


"Kebetulan Mas Fian setiap pulang dari proyek selalu membawa mawar merah untukku jadi tiap hari bunga itu akan selalu diganti dengan yang baru," jelas Laras sambil terus menatap Rosa.


"Aku sih tidak terkejut jika Adikku memberikanmu mawar setiap hari, sekarang saja kamu yang tadinya hanya seorang gembel bisa menjadi tuan putri di kamar mewah ini bahkan kini kamu menjadi pemilik tanah ini," ucap Siska sambil membuang muka.


Saat Laras sedang menuang sebuah air minum ke dalam cangkir tiba-tiba Siska menarik vas bunga yang ada di tangan Rosa dengan sangat kasar hingga menyebabkan vas bunga tersebut pecah. Laras yang melihat kejadian itu langsung berdiri dan menatap Siska dengan penuh emosi. Bukannya merasa bersalah dan minta maaf Siska malah menginjak bunga mawar tersebut hingga hancur.


"Maaf ya Kak dari tadi saya sudah cukup sabar dan mengalah kepada Kak Siska dan Kak Rosa, tapi bukan berarti kalian bisa berbuat seenaknya di kamar saya," ucap Laras sambil menahan rasa marahnya kepada Rosa dan Siska.


"Halah bunga jelek dan murahan aja dibanggain," jawab Siska sambil menginjak bunga tersebut.


"Laras jangan marah seperti itu Kak Siska hanya bercanda dan tidak sengaja, bercanda seperti ini sudah biasa di keluarga kami," ucap Rosa seakan membela kakaknya.


"Kak Rosa bilang ini tidak sengaja dan bercanda, bunga ini memang murah tapi ini pembelian Mas Fian dan kalian tidak bisa merusaknya dengan seenak kalian!" bentak Laras sambil menangis.


"Memangnya kenapa kalau aku merusak bunga ini, asal kamu tahu tanah ini tanah peninggalan orang tuaku dan barang yang ada di kamar ini pasti adikku yang membelinya jadi itu berarti kamu tidak ada hak melarangku melakukan apapun di rumah ini!" bentak Siska sambil bertolak pinggang. 


"Kakak salah tanah ini milik ku dan Mas Fian membelinya untukku jadi aku yang lebih  berhak atas tanah dan barang yang ada di sini," jawab Laras sambil menatap mata kakak iparnya dengan tajam.


"Oh jadi sekarang gadis miskin ini sudah bisa melawan ya, sekarang aku yakin kamu menikahi Fian hanya karena harta 'kan dan soal tanah ini pasti kamu yang meminta Fian untuk membelinya agar kamu dan orang tua miskin mu itu bisa menjadi orang kaya!" teriak Siska sambil mendekat ke arah Laras.


"Kamu salah besar!" tiba-tiba seorang masuk dan berteriak hingga membuat semua terkejut dan terdiam. 

__ADS_1


 


__ADS_2