
Mendengar ucapan Fian dan kondisi lampu mobil yang sudah pecah membuat Bejo terkejut. Terakhir Bejo melihat mobil itu dalam keadaan baik dan tidak ada pecah ataupun goresan. Bahkan setelah para karyawan pulang mobil itu tetap dengan kondisi aman.
"Cepat katakan kenapa mobil ini bisa hancur seperti ini!" bentak Fian hingga membuat Bejo terkejut.
"Saya tidak tahu Pak, kemarin sore tidak ada yang menabrak ataupun memecah mobil Bapak dengan sengaja," jelas Bejo dengan sedikit heran sambil melawan rasa takut.
"Kalau semua karyawan datang kumpulkan mereka ke ruang kerja saya, akan saya putar cctv di sini dan siapapun yang bersalah akan saya pecat hari ini juga," ucap Fian sambil berjalan ke arah kamarnya.
Fian yang sudah berada di dalam kamar langsung berjalan ke arah kamar mandi dengan tergesa-gesa. Setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi dia langsung menuju ke dapur untuk menemui Mbok Ijah terlebih dahulu. Lalu menemui karyawannya di ruang kerja.
"Assalamualaikum," ucap Fian kepada seluruh karyawannya.
"Waalaikumsalam," jawab Bejo dan beberapa karyawan yang lain.
"Kalian pasti sudah tahu kenapa saya meminta saya berkumpul di ruang kerja saya, sebelum saya memeriksa cctv cepat kalian jujur siapa yang sudah merusak mobil saya hingga bagian lampu belakang pecah," jelas Fian sambil duduk di meja kerjanya.
Seluruh karyawan hanya terdiam sambil saling melemparkan pandangan. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka mulut untuk mengakuinya. Hampir 10 menit Fian menunggu kejujuran dari para karyawannya. Namun, tidak ada yang membuka mulut.
"Baik saya akan putar cctv, jika terbukti salah satu diantara kalian pelakunya saya akan pastikan hari ini juga dia dipecat dari sini tanpa pesangon," ancam Fian sambil mulai membuka laptopnya.
Detik demi detik diputar dengan perlahan oleh Fian. Hingga saat menunjukkan jam karyawan pulang pun tidak ada tanda-tanda jika mereka bersalah. Namun, saat tepat pukul 3 malam cctv mulai menunjukkan siapa pelaku yang telah merusak mobil kesayangan sang kontraktor.
Sesosok laki-laki masuk menaiki pagar yang ada di dekat rumah Siska. Pria itu berjalan perlahan-lahan mendekati mobil terios putih yang terparkir bersebelahan dengan mobil Bejo di sebuah garasi. Tiba-tiba laki-laki itu mengambil sebuah besi bekas yang ada di bengkel itu dan memukul kaca lampu bagian belakang hingga hancur semua.
"Doni," ucap Fian saat melihat sosok yang ada di kamera cctv.
__ADS_1
Setelah menutup laptopnya Fian pun langsung berjalan menuju ke arah mobilnya untuk mengambil pecahan kaca lampu yang berserakan. Dan langsung membawanya ke rumah sang Kakak.
"Maling kalian semua!" teriak Fian sambil mendobrak pintu rumah Siska hingga membuat seluruh orang yang ada di situ terkejut.
"Ada apa kamu pagi-pagi datang kesini sambil marah-marah, siapa yang kamu bilang maling!" bentak Siska seakan tidak terima dengan apa yang dikatakan Fian.
"Kamu dan anak-anakmu ini maling, lihat apa yang sudah dilakukan Doni, semalam dia Mengendap-endap ke bengkelku dan merusak mobilku," jawab Fian sambil melempar pecahan di hadapan sang kakak.
"Kamu jangan asal menuduh, Doni sejak kemarin tidak ada di rumah," ucap Siska sambil berdiri dan bertolak pinggang di hadapan Fian.
"Kamu mau bukti? Ayo ikut ke bengkelku akan aku tunjukkan buktinya," ucap Fian kepada Siska.
Mereka berdua pun berjalan ke arah bengkel untuk melihat bukti rekaman cctv.
"Aku yakin itu bukan Doni," ucap Siska seolah menggelak.
"Ehm … Loe pikir gue tolol, maling masih dibela," jawab Fian sambil menatap Siska dengan tatapan tajam.
Laras yang saat itu baru saja bangun dari tidurnya langsung segera keluar saat mendengar teriakan sang kakak ipar dan suaminya.
"Ada apa Mas?" tanya Laras yang saat itu baru saja tiba di ruang kerja Fian.
"Jangan ikut campur urusanku dan adikku, dasar kamu perempuan pembawa sial, dasar anj**g!" bentak Siska saat melihat Laras yang baru saja masuk.
"Elo yang yang anj**g, loe pikir gue takut mau ya, jangan dipikir aku diam itu berarti aku takut. Aku seperti itu karena aku masih menghargaimu sebagai Kakak dari suamiku Bang**t!" bentak Laras kepada Siska hingga membuat Fian langsung terdiam mendengar ucapan sang istri.
__ADS_1
Laras yang selama ini tidak pernah mengeluarkan kata-kata kotor. Kini tanpa sadar telah mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang muslim. Setelah puas memaki Siska Laras langsung keluar dari ruang kerja Fian dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Ehm … Kamu jangan beraninya sama orang lemah, ayo lawan aku kalau berani. Selama ini aku menghargai kamu karena kamu Kakak ku dan kamu juga perempuan, kalau kamu laki-laki sudah aku penggal kepalamu dari dulu," ucap Fian sambil tersenyum sinis.
"Kamu pikir aku takut sama kamu, dasar kamu adik tidak tahu balas budi," jawab Siska dengan ketus.
"Balas budi apa, apa yang sudah kamu keluarkan untukku selama ini, sini ayo bawa semua keluarga malingmu kalian bawa pisau satu-satu pun aku tidak takut, kalau nggak aku injak-injak kamu dan anakmu," ucap Fian sambil menatap Siska dengan tajam.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, sekali lagi kamu usik kehidupanku apalagi menyenggol hingga melukai istriku, aku pastikan kamu dan keluargamu akan mati ditanganku, " ucap Fian sambil membuka pintu ruang kerjanya.
"Astagfirullah … Ya Allah ampuni hamba," ucap Fian sambil menarik nafas panjang dan duduk di sebuah kursi.
Sejenak Fian terdiam sambil mengusap wajahnya dengan kasar dan bersandar di kursi. Setelah merasa dirinya cukup tenang Fian pun langsung menemui Laras di dalam kamar. Perlahan Fian mendekati Laras yang berbaring di tempat tidur.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja," tanya Fian sambil mengusap pundak Laras.
"Maafkan aku Mas, aku tidak bermaksud bicara kasar kepada Kak Siska," ucap Laras sambil duduk dan menundukkan pandangannya.
"Aku tau, kamu banyak-banyak istighfar ya dan jangan sampai kamu mengulangi kesalahn yang sama," pesan Fian sambil mengangkat wajah Laras.
"Tapi Mas …." belum selesai Laras menjawab Fian langsung menutup mulutnya dengan jari telunjuk.
"Jangan pernah membantah perintah suami selama itu perintah yang baik, " ucap Fian sambil tersenyum dan mencium kening Laras.
Laras yang dulu liar, tidak mengenal agama dan perokok, kini berubah menjadi wanita yang lembut dan sholeha. Setiap ucapan yang akan diucapkan selalu dipikirkan terlebih dahulu. Karena itulah Fian sempat terkejut saat Laras memaki Siska dengan kata-kata kotor dan tidak pantas untuk diucapkan. Namun, Fian paham dan maklum dengan apa yang dikatakan Laras semata karena rasa tertekan dan tindasan yang dilakukan Siska kepadanya.
__ADS_1