Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 53


__ADS_3

Terlihat Laras dan Sophia sudah berdiri di hadapan Wulan sambil memegang stroller Shafira. Terlihat tatapan marah dan kesal dari mata Laras kepada Wulan. Setelah menampar wulan dengan keras Laras langsung menghampiri suaminya yang sedang terpaku lalu menggandeng tangan Fian.


"Kamu masih mencintai laki-laki ini, apa kamu masih ingin memiliki dia?" tanya Laras kepada Wulan yang masih terdiam sambil memegangi pipinya yang sakit akibat tamparan Laras.


“Sayang apa yang kamu katakan," bisik Fian sambil terlihat melirik ke arah sekelilingnya.


"Kenapa kamu diam, jawab pertanyaanku. Apa kamu mau kembali kepada laki-laki yang sudah menjadi suamiku saat ini," ucap Laras sambil menatap Wulan dengan tatapan tajam.


"Ya aku memang masih mencintainya, aku ingin memilikinya dan merebutnya dari tanganmu, karena aku tidak ikhlas jika dia lebih memilihmu daripada aku!" jawab Wulan sambil berteriak karena kesal.


"Wulan tutup mulutmu, aku …." belum selesai Fian menyelesaikan ucapannya Laras langsung menggenggam tangan Fian.


"Biarkan dia bicara dan mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya selama ini," jawab Laras sambil menggenggam tangan Fian sambil menatap Wulan.


Arman dan Sophia serta seluruh karyawan hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Tidak ada satu orang pun yang berani mendekati mereka ataupun ikut campur. Bahkan Arman meminta Sophia untuk berjalan menjauhi Laras dan suaminya. 


"Apa ada lagi yang ingin kamu sampaikan?" tanya Laras saat Wulan berhenti bicara.


Wulan hanya terdiam sambil terus memandang perempuan berniqab di depannya tersebut dengan tatapan marah dan benci. perlahan Laras melepaskan genggaman tangannya kepada Fian dan berjalan mendekati Wulan. Mata Laras tidak dapat berbohong atas apa yang dia rasakan saat ini. 


“Jika kamu mencintainya kenapa kamu justru meninggalkannya di saat dia sangat membutuhkanmu, kenapa kamu memilih mengikuti ucapan keluargamu, apa karena dia laki-laki tua jadi kamu meninggalkannya, lalu apa alasan kamu berusaha menarik dia kembali apa karena kekayaannya, atau memang karena cinta,” ucap Laras dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


“Sayang ayo kita pulang, tidak ada gunanya kita meladeni perempuan gila sepertinya,” ajak Fian sambil menggandeng tangan sang istri.


“Tidak Mas, dia bukan perempuan gila, tapi dia adalah seorang perempuan yang tidak tahu bagaimana untuk menjaga harga dirinya sebagai perempuan di hadapan laki-laki,” jawab Laras sambil terus menatap mata Wulan dengan tajam.

__ADS_1


“Tutup mulutmu, aku tahu bagaimana caranya menjaga harga diriku sebagai perempuan," jawab Wulan sambil menunjuk wajah Laras dengan jari telunjuknya.


"Turunkan tanganmu dari wajah istriku atau aku patahkan jarimu!" bentak Fian sambil menyingkirkan tangan Wulan dengan kasar.


"Apa mungkin perempuan yang menggoda suami orang, bahkan sampai memeluknya di tempat umum adalah perempuan yang mempunyai harga diri, di mataku kamu hanyalah perempuan yang tidak memiliki harga diri bisa dibilang kamu seperti seorang pengemis yang meminta sedekah kepada ku," jawab Laras dengan sangat santai.


"Tutup mulutmu perempuan aneh!” bentak Wulan sambil mengangkat tangannya seolah ingin menampar Laras.


Melihat apa yang akan dilakukan Wulan, dengan cepat Fian berdiri di depan sang istri. Hingga tanpa sengaja tamparan yang harusnya Wulan berikan untuk Laras justru mengenai Fian yang saat itu sudah berada di hadapannya. Wulan yang melihat jika dirinya telah menampar laki-laki yang sangat dia cinta langsung memegang wajah Fian dan meminta maaf kepadanya.


“Lepaskan tanganmu Wulan, kamu tidak boleh menyentuhku,” ucap Fian sambil menjauhkan wajahnya dari tangan sang mantan kekasih.


“Tapi aku hanya ingin menolongmu,” jawab Wulan dengan raut wajah menyesal.


“Sayang ayo kita pulang,” ucap Fian sambil menggandeng tangan Laras lalu berjalan ke arah mobil.


“Ma … Mama,” panggil Laras sambil mengetuk kamar orang tuanya dengan perlahan.


Tidak berapa lama Sophia keluar kamar tanpa ditemani Arman. Laras sangat paham dengan sifat sang ayah. Karena itulah dia sama sekali tidak menanyakan keberadaan sang ayah kepada Sophia.


"Iya ada apa Nak?” tanya Sophia saat sudah berdiri di hadapan sang putri. 


“Kami pamit pulang ya Ma, maaf jika Laras dan Mas Fian sudah membuat Mama dan Papa kecewa,” jelas Laras kepada Sophia lalu mencium tangan sang mama.


"Iya, kalian jangan mudah terpengaruh ya dengan apapun yang orang katakan kecuali kalian membuktikannya sendiri," pesan Sophia kepada Laras sambil berjalan beriringan ke arah teras.

__ADS_1


"Bu, kami pamit dulu," ucap Fian sambil menjabat tangan sang mertua.


"Iya Fian, maaf ya Bapak tidak bisa ikut keluar karena dia sudah tertidur, mungkin karena terlalu capek," jawab Sophia sambil menerima jabatan tangan sang menantu.


"Iya tidak apa-apa Bu, titip salam saja buat Pak Arman," pesan Fian dengan sopan lalu berjalan ke arah mobilnya.


Sesaat setelah Fian dan Laras pergi dari rumah itu. Arman yang sejak tadi berada di dalam kamar langsung keluar menemui sang istri. Sambil duduk di sofa Arman menanyakan apa saja yang diucapkan Laras kepadanya.


"Laras dan Fian tidak bercerita apa-apa, mereka hanya menitipkan salam kepadamu," jawab Sophia sambil masuk ke dapur untuk membuat secangkir kopi panas.


"Aku masih tidak percaya jika Fian tega mengkhianati Laras," ucap Arman sambil berteriak.


"Pa, Mama rasa perempuan itu hanya membual, kalau kata anak jaman sekarang itu gagal move on," jawab Sophia sambil meletakkan secangkir kopi di hadapan Arman.


"Gagal move on apa itu Ma?" tanya Arman penasaran.


"Itu loh Pa yang gak bisa hidup tanpa laki-laki yang dia sayang, ya bisa dibilang cinta mati gitulah Pa," jawab Sophia sambil mengingat kata- kata gaul yang sering dia dengar.


"Kamu ada-ada saja Ma, pakek acara gagal Move on lah duh, bikin Papa semakin pusing, kebanyakan lihat sinetron ya ini contohnya," jawab Arman sambil meneguk sedikit kopi panas yang ada di hadapannya.


"Ih si Papa nggak gaul, makanya sekali-kali dong ngomong ala-ala anak jaman now, soal bucin, move on biar Papa jadi Kakek-kakek gaul," protes Sophia sambil memanyunkan mulutnya.


"Sudah-sudah makin pusing aku dengar ucapanmu, lebih baik siapkan makan malam saja Papa sudah lapar karena dari siang belum makan," perintah Arman kepada sang istri sambil bersandar ke sofa.


"Iya, oh ya besok Papa kerja nggak?" tanya Sophia sebelum beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Papa belum tahu, memangnya kenapa?" tanya Arman penasaran.


"Nggak papa, aku hanya tanya saja," jawab Sophia sambil berdiri dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Arman.


__ADS_2