Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 41


__ADS_3

Hampir 30 menit Fian dan Laras berusaha membangunkan Siska. Hingga akhirnya saat Siska terbangun dia langsung mencekik Laras persis seperti orang kesetanan. Fian yang terkejut langsung berusaha menyingkirkan tangan Siska dari leher Laras.


"Dasar kamu perempuan pembawa sial!" teriak Siska sambil mencekik leher adik iparnya itu.


"Kak lepaskan Laras!" teriak Fian sambil berusaha melepaskan tangan Siska. 


"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Kakak maksud, aku mohon lepaskan aku Kak," ucap Laras sambil berusaha terus bernafas ditengah cekikan Siska yang sangat kuat.


Melihat keadaan Laras yang sudah lemas karena susah bernafas membuat Fian langsung mendorong tubuh Siska hingga jatuh dan membentur sebuah tembok. Seketika itu juga Siska langsung lemas dan menangis tersedu-sedu. Hingga membuat Fian dan Laras bingung.


"Maafkan aku Kak, aku terpaksa mendorongmu karena Laras hampir saja meninggal karena kehabisan nafas," ucap Fian sambil mencoba mendekati Siska yang menangis di pelukan Evi.


"Aku memang sengaja membunuh perempuan itu, agar kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang," bentak Siska sambil menangis dan menunjuk ke arah Laras yang terlihat lemas sambil memegangi lehernya.


"Maksud Kakak apa?" tanya sang adik dengan kebingungan.


"Mas Aldi meninggal di dalam penjara, menurut petugas Polisi dia terlibat perkelahian di dalam penjara, hingga membuatnya di pukuli beberapa napi yang ada di dalam sel tersebut," jelas Siska sambil terus menangis di pelukan Evi yang mulai meneteskan air mata.


"Innalillahiwainailaihirojiun," ucap Fian dan Laras dengan bersamaan. 


"Kamu pasti senang 'kan melihat Mbak menjadi janda untuk kedua kalinya?" tebak Siska sambil menoleh ke arah Fian dan Laras yang berdiri di depannya.


"Kami tidak pernah ada rasa bahagia saat melihat Mbak terkena musibah, aku melaporkan Mas Aldi karena dia telah mencuri ditempatku bukan untuk membunuhnya," jelas Fian sambil duduk di hadapan Siska yang terlihat sangat terpukul atas kepergian sang suami.


"Tapi karena kamu menjebloskannya ke penjara sekarang dia meninggal, coba kalau kamu tidak menuruti dia pasti Mas Aldi masih hidup!" bentak Siska sambil berdiri. 


"Kakak salah, Aku melaporkan Mas Aldi bukan karena permintaan Laras tapi karena kesalahan Mas Aldi sendiri," jawab Fian dengan sedikit kesal. 


"Mas, bagaimana kalau kita ajak Kak Siska untuk menjemput jenazah Mas Aldi," usul Laras kepada Fian yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Bagaimana apa Kakak mau aku antar untuk menjemput jenazah Mas Aldi?" tanya Fian sambil mulai menyentuh tangan sang kakak.


"Tidak perlu, lebih baik kalian pergi dari rumahku dan mulai sekarang aku tidak punya Adik sepertimu, kamu urus saja istri miskin kesayanganmu itu," ucap Siska sambil menatap Fian dengan tatapan penuh dendam.


"Baik jika memang itu keinginan Kakak, aku dan Laras turut berduka cita atas meninggalnya Mas Aldi kalau begitu kami pamit dulu," jawab Fian sambil pergi meninggalkan rumah Siska bersama Laras.


Fian langsung menggandeng tangan Laras dan segera mengajaknya keluar dari rumah itu. Siska yang sedang dalam kondisi berduka langsung meminta Evi untuk segera bersiap-siap untuk menjemput jenazah Aldi di penjara. Setelah melepas lelah sebentar Fian langsung berjalan ke arah ruang kerjanya.


"Jo! Ikut aku ke ruang kerja sekarang," teriak fian sambil berjalan ke ruang kerjanya.


"Siap Bos," jawab Bejo sambil berdiri dan berjalan ke arah Fian.


"Suruh seluruh karyawan berhenti dan langsung bantu Kak Siska menyiapkan kursi untuk tamu yang akan takziah ke rumahnya, dan kamu beli beberapa makanan dan minuman untuk para tamu," ucap Fian sambil menatap layar ponselnya.


"Memang siapa yang meninggal Pak?" tanya Bejo kepada Fian.


"Innalillahiwainnailaihirojiun," ucap Bejo yang langsung terkejut dengan jawaban bosnya itu. 


"Jujur sebenarnya aku ingin menyerah dengan ujian yang datang secara bergantian," jelas Fian sambil mengusap mukanya dengan kasar.


"Maksud Bapak apa?" tanya Bejo seolah bingung dengan ucapan Fian. 


"Entah kenapa sejak aku mengenal Laras ujian hidup berdatangan silih berganti, mulai restu yang tidak aku dapat dari keluargaku dan Laras, Wulan yang tiba-tiba hadir hingga membuat Laras keguguran dan lain sebagainya. Rasanya aku ingin mengakhiri pernikahan ini, tapi rasa cintaku kepada Laras memaksaku bertahan," jelas Fian sambil bersandar di kursinya.


"Astagfirullahaladzim, apa Bapak berpikir jika Mbak Laras adalah sumber masalah dalam kehidupan Pak Fan," ucap Bejo saat mendengar penjelasan Fian. 


"Entahlah aku juga tidak tahu pasti, yang aku tahu saat ini aku merasa lelah dengan semua masalah yang ada," jawab Fian sambil melipat tangannya di atas meja dan menempatkan kepalanya di atas tangannya.


"Jangan pernah ikuti bisikan setan Pak, istighfar dan coba Pak Fian ambil air wudhu dan shalat, semoga dengan begitu hati Bapak bisa lebih tenang," saran Bejo kepada Fian yang sangat terlihat penuh beban di hati dan pikirannya.

__ADS_1


Bejo memanglah karyawan biasa di bengkel itu. Namun, karena iman yang dimilikinya serta sifat Bejo yang sangat tenang dan santai membuat Fian sangat nyaman mencurahkan isi hatinya. Setelah memberi saran dan masukan Bejo langsung segera pamit untuk memberitahu seluruh karyawan mengenai berita duka itu.


"Ada apa Jo?" tanya Mbok Ijah yang baru saja datang dari pasar.


"Suami Kak Siska baru saja meninggal dunia, Pak Fian meminta seluruh karyawan untuk tidak bekerja dan membantu Kak siska," jelas Bejo kepada Mbok Ijah.


"Innalillahiwainnailaihirojiun, padahal tadi pagi Kak Siska baru saja bertengkar dengan saya," jawab Mbok Ijah.


"Memang kenapa kak Siska bertengkar dengan Mbok?" tanya Fian yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


"Maaf Pak, bukan maksud saya menjelek-jelekkan Kakak dari Pak Fian," jawab Mbok Ijah yang terkejut sambil menunduk.


"Tidak apa-apa coba Mbok ceritakan apa yang sebenarnya terjadi," perintah Fian sambil mendekati asisten rumah tangganya itu.


Mbok Ijah mulai menjelaskan tentang perdebatan antara dirinya dan Siska tadi pagi sebelum dia berangkat ke pasar. Menurut Mbok Ijah ucapan Siska sebagai seorang Kakak sangat tidak pantas. Apalagi sampai mendoakan perceraian rumah tangga sang adik.


"Ya sudah sekarang Mbok ke dapur dan masak, karena saya juga sudah lapar," perintah Fian kepada asisten rumah tangganya sambil tersenyum.


"Ya Allah kenapa kak Siska tega mendoakan perceraianku dan Laras," batin Fian sambil melamun.


"Pak, kami pamit ke rumah Mbak Siska duluan," ucap Bejo kepada Fian hingga membuatnya sedikit terkejut.


"Iya, saya ke kamar dulu nanti saya akan menyusul kalian," jawab Fian dengan sedikit terkejut.


***


“Kamu mau kemana Sayang?” tanya Fian saat melihat Laras mengemasi seluruh pakaiannya.


“Aku akan pulang ke rumah orang tuaku, dan nanti biar Papa yang mengurus perceraian kita,” jawab Laras sambil sibuk mengemasi barang-barangnya. 

__ADS_1


__ADS_2