Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 43


__ADS_3

“Ada apa Sayang, kenapa kamu berteriak ketakutan seperti ini," tanya Fian sambil memeluk tubuh istrinya.


"Ratna, disana ada Ratna," ucap Laras sambil menunjuk ke arah pojok kamar.


"Ratna, di kamar ini tidak ada siapa-siapa Sayang, kamu hanya bermimpi," jawab Fian sambil menatap Laras yang ketakutan.


"Ada Mas tadi dia ada di sana dan tersenyum kepadaku sambil melambaikan tangan dia juga menggendong seorang bayi laki-laki," jawab Laras sambil terus ketakutan dan menangis.


"Sekarang kamu istirahat, aku akan menemanimu disini," ucap Fian sambil mencium kening istrinya dan membantunya berbaring di tempat tidur.


Arman dan Sophia langsung berjalan keluar kamar meninggalkan Fian dan Laras. Saat Laras sudah terlelap dengan tidurnya Fian bermaksud untuk keluar kamar untuk mencari udara segar. Sesaat dia merenung seorang diri sambil menghisap sebatang rokok di tangannya.


"Fian, coba ceritakan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi kepada Laras," ucap Arman kepada menantunya sambil duduk di samping Fian.


“Sepertinya Laras mengalami tekanan mental atas kepergian Ratna yang tiba-tiba,” jawab Fian sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong. 


“Ratna, memangnya siapa dia?” tanya Sophia dengan penuh kebingungan.


“Ratna adalah asisten rumah tangga kami yang baru, kemarin dia ditemukan tewas di rumahnya serta ada banyak sekali luka tusukan di bagian perutnya,” jawab Fian sambil menoleh ke arah mertuanya.


“Innalillahi, apa Laras sempat melihat jasadnya?” tanya Sohpia memastikan.


“Tidak, tapi 3 jam sebelum Ratna ditemukan tewas di rumahnya kami sempat bertemu dengannya di rumah itu, mungkin karena itulah Laras syok,” jawab Fian dengan ragu.


“Lalu anak laki-laki siapa yang Laras katakan tadi, apa dia meninggal dalam keadaan hamil?” tanya Arman dengan tiba-tiba.


“Ratna memang meninggal dalam keadaan hamil, anak itu adalah anak ….” belum selesai Fian menjawab dia menghentikan ucapannya karena mendengar suara Laras yang memanggil namanya.


“Maaf Pak, Bu saya mau menemui Laras dulu,” ucap Fian sambil bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamarnya. 

__ADS_1


***


Di tempat terpisah Wulan yang sengaja datang ke rumah Siska tidak hanya untuk mengucapkan duka cita atas kepergian Aldi. Namun, justru ingin mencari simpati seluruh keluarga Fian agar mereka membenci Laras dan justru membantunya untuk merestui hubungannya dan Fian. Wulan yang awalnya ingin menggunakan orang lain untuk menghancurkan rumah tangga Fian kini justru berbalik menggunakan seluruh keluarga mantan kekasihnya sebagai alat untuk menghancurkan rumah tangga Fian.


“Assalamualaikum,” ucap Wulan sambil masuk ke dalam rumah dan menemui Siska yang sedang menangis di samping jasad sang suami.


“Waalaikumsalam,” jawab beberapa orang yang ada di rumah itu. 


“Aku turut berduka cita ya kak atas meninggalnya Mas Aldi,” ucap Wulan yang duduk di samping Siska.


“Terima kasih Wulan, kamu memang perempuan yang baik,” puji Siska sambil menjabat tangan perempuan itu.


“Oh ya Mas Fian kenapa pulang, dan tadi tidak sengaja aku melihatnya pergi dengan Laras,” ucap Wulan seolah mulai memancing kebencian seluruh keluarga Fian kepada Laras.


“Fian benar-benar sudah dibutakan oleh cinta, masa Kakaknya sedang kesusahan dia justru pergi bersenang-senang dengan istrinya,” jawab salah satu kerabat Fian yang sedang menenangkan Siska.


“Iya, seharusnya sebagai seorang istri Laras bisa memberitahu yang baik tapi sekarang dia justru malah membuat satu keluarga bertengkar, dasar perempuan tidak benar,” jawab kerabat yang lain.


“Tadi Fian dan perempuan itu ke sini, tapi Kakak usir,” jawab Siska sambil berusaha mengatur nafasnya.


“Diusir, memang kenapa harus diusir, bukannya mereka saudara Kakak,” ucap Wulan dengan hati penuh senyuman. 


“Fian memang adik ku tapi sampai kapanpun aku tidak akan mengakui Laras sebagai adik, karena perempuan itu yang sudah menjadi dalang kematian Mas Aldi,” jawab Siska sambil menghapus air matanya. 


“Sebentar, Wulan tidak mengerti kenapa harus Laras yang disalahkan bukannya Mas Aldi meninggal di dalam penjara?” tanya Wulan dengan rasa penasaran.


“Mas Aldi masuk penjara karena dituduh mencuri di bengkel Fian dan perempuan itu yang meminta Fian untuk menjebloskan Mas Aldi, padahal dia tidak terbukti bersalah,” jawab Siska seolah memutar balikkan fakta.


“Astagfirullah, kenapa Laras begitu kejam ya Kak,” ucap Wulan sambil mengusap pundak Siska.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong kamu ini siapa? Sepertinya kamu sangat mengenal Fian,” tanya seorang perempuan yang duduk disamping Siska.


“Dia ini Wulan, dia adalah mantan kekasih Fian sebelum dia menikah dengan Laras, tapi tidak tahu kenapa Fian justru meninggalkan Wulan dan memilih menikah dengan gadis miskin itu. Padahal Wulan ini gadis baik-baik dan dari keluarga terpandang,” jelas Siska yang sangat terlihat membagakan Wulan.


“Ya mungkin belum jodohnya saja Tante,” jawab Wulan kepada salah satu tante sang mentan.


Saat mereka berbincang-bincang dengan akrab. Tiba-tiba seorang ustad mendatangi Siska dan menanyakan kapan proses pemakaman bisa dilakukan. Setelah mendapat izin dari keluarga jenazah mereka pun langsung mengangkat keranda jenazah Aldi untuk segera dimakamkan.


Setelah proses pemakaman berjalan dengan lancar dan seluruh keluarga pun kembali ke rumah masing-masing termasuk Wulan. Di tempat berbeda Fian justru terlihat khawatir dengan kondisi sang istri yang terlihat lemas dan tertekan. Harapan Fian hanyalah kesembuhan Laras agar dia bisa kembali merawat Shafira dan bercanda seperti dulu.


“Mas,” panggil Laras sambil menggenggam tangan Fian.


“Iya, aku disini, apa kamu mau makan?” tanya Fian sambil mengusap rambut sang istri.


“Iya aku lapar Mas,” ucap Laras sambil tersenyum. 


“Kamu mau makan apa, bagaimana kalau aku belikan bubur ayam atau kamu mau martabak manis keju,” tanya Fian dengan penuh semangat.


“Aku pengen makan sate padang, apa kamu bisa membelikanku sate padang?” tanya Laras dengan ragu.


“Bisa tentu saja bisa, aku akan pesankan 10 bungkus sate padang untukmu,” jawab Fian sambil berdiri dan mengambil ponselnya dan segera membuka aplikasi ojek online untuk memesan sate padang.


TIdak berapa lama 12 bungkus sate padang pun tiba dengan diantar oleh seorang kurir. Setelah membayar dan memberikan 2 bungkus sate padang kepada sang kurir. Fian pun langsung masuk ke dalam rumah dan memberikannya kepada sang istri.


"Mas, tolong bantu aku bangun dan bawa aku ke meja makan, karena aku ingin makan bersama kalian," ucap  Laras sambil mengangkat tangannya seolah ingin meraih tangan suaminya yang sedang berdiri di sampingnya.


Mereka pun makan bersama dengan penuh kebahagiaan. Baik Arman ataupun Sophia tidak ada yang menanyakan siapa Ratna yang sempat Laras sebut beberapa jam lalu. Terlihat senyum bahagia Laras saat makan bersama suami, dan orang tuanya.


"Mas apa besok kita jadi ke Bali?" tanya Laras sambil mengambil gelas yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Iya Sayang, memangnya kenapa?" tanya Fian dengan penasaran.


 


__ADS_2