
Beberapa hari kemudian Laras pun diizinkan pulang oleh Dokter yang menanganinya. Fian menggandeng tangan Laras dan memapahnya ke kamar dengan perlahan. Kasih sayang yang tulus begitu terlihat saat Fian memperlakukan sang istri dengan begitu lembut.
"Mas, kapan kita akan menjemput Shafira?" tanya Laras yang terlihat sangat merindukan putri kecilnya.
"Jika luka bekas operasi kering dan kamu sudah benar-benar sembuh kita akan langsung menjemputnya, sekarang kamu istirahat dulu dan aku akan membelikan makan siang untukmu," ucap Fian sambil membantu Laras berbaring di tempat tidur.
"Kamu janji ya Mas, aku sudah sangat merindukan senyum dan tingkah lucunya," jawab Laras sambil meyakinkan sang suami.
"Iya Sayang, tapi kamu harus sembuh dulu kasihan Shafira jika dia disini tapi kamu masih sakit, nanti siapa yang akan merawatnya," ucap Fian sambil mencium kening sang istri dan tersenyum.
Setelah membantu sang istri, Fian langsung keluar kamar untuk membeli makanan untuk Laras. Serta pergi ke apotek untuk membeli beberapa obat yang kebetulan tidak ada di apotik rumah sakit. Saat keluar dari kamarnya Fian yang saat itu melihat Bejo sedang memotong sebuah besi langsung memanggilnya.
"Bejo!" teriak Fian sambil melambaikan tangannya kepada Bejo dan masuk ke ruang kerjanya.
"Siap Pak!" jawab Bejo sambil berteriak karena suara alat pemotong besi yang besar hingga membuatnya susah mendengar.
"Ada apa Pak?" tanya Bejo saat sudah berada di ruang kerja Fian.
"Saya mau keluar sebentar, kamu jaga bengkel dan Laras, tolong jangan biarkan siapapun masuk ke kamar saya sebelum saya pulang, walaupun itu Kakak kandung saja," pesan Fian kepada Bejo sambil sibuk mencari kunci mobilnya.
"Baik Pak, insya Allah saya akan menjaga bengkel dan Mbak Laras dengan baik," jawab Bejo kepada Fian.
"Ok saya percaya kepadamu," ucap Fian sambil menepuk pundak sang karyawan sambil berjalan keluar ruangan.
Setelah membeli makan dan menebus obat di apotik. Fian yang saat itu berjalan ke arah mobilnya tanpa sengaja bertemu dengan Wulan. Melihat mantan kekasihnya berjalan sendiri Wulan yang sudah melihat Fian langsung berjalan menghampirinya.
"Assalamualaikum Mas," ucap Wulan yang membuat Fian terkejut.
"Waalaikumsalam, ada apa ya?" tanya Fian dengan sedikit menjauhi wanita cantik yang pernah menjadi kekasihnya itu.
"Kamu baru keluar dari apotik Mas, ngomong-ngomong siapa yang sakit?" tanya Wulan dengan penasaran.
__ADS_1
"Tidak aku hanya membeli beberapa vitamin untuk daya tahan tubuh, kamu sendiri sedang apa disini?" tanya Fian kepada Wulan.
"Aku baru saja dari kantor temanku di sekitar sini, oh ya bagaimana kalau kita makan siang bersama," ajak Wulan sambil memegang tangan Fian.
"Maaf aku tidak bisa, karena aku harus segera pulang, kasihan jika Laras menungguku terlalu lama," jawab Fian sambil melepaskan pegangan tangan Wulan seolah merasa risih.
"Ayolah Mas sebentar saja," bujuk Wulan sambil memeluk lengan kekar sang mantan kekasih.
"Maaf Wulan, aku harap kamu bisa menjaga sikapmu kepadaku, kalau begitu aku permisi dulu," jawab Fian sambil melepaskan pelukan Wulan lalu berjalan meninggalkannya.
"Sekarang kamu boleh menolakku tapi aku akan pastikan kamu kembali ke pelukanku," ucap Wulan saat Fian sudah pergi menggunakan mobilnya.
***
Hari berlalu begitu cepat, Laras kini sudah bisa melakukan aktivitasnya dengan baik. Rasa sakit yang dia rasakan juga sudah tidak lagi dia rasakan. Pagi itu saat sang suami baru keluar dari kamar mandi Laras langsung memeluk tubuh Fian yang saat itu berdiri membelakanginya.
"Sayang, aku 'kan sudah sembuh, Dokter juga sudah memeriksaku dan hasilnya pun cukup baik, bagaimana kalau kita menjemput Shafira sekarang," ucap Laras sambil memeluk tubuh Fian dan bersandar di punggung sang suami.
"Kamu serius Mas?" tanya Laras seolah tak percaya.
"Iya, aku tunggu di ruang kerja ya," ucap Fian sambil mencium kening sang istri dan berjalan keluar kamar menuju ruang kerjanya.
Setelah menunggu Laras hampir satu jam mereka pun pergi menuju rumah orang tua Laras. Dari kejauhan terlihat Shafira sedang asyik bermain di dalam gendongan sang kakek.
"Assalamualaikum," ucap Laras sambil turun dari mobilnya dan langsung berlari ke arah putri kecilnya.
"Apa kamu sudah sehat Nak," tanya Arman sambil memberikan Shafira kepada Laras.
"Alhamdulillah baik," ucap Laras sambil menggendong Shafira dan mencium tangan sang ayah.
"Mama mana Pa?" tanya Laras saat tidak melihat keberadaan sang ibu.
__ADS_1
"Ada di dapur, ayo kalian masuk dulu biar Papa panggilkan Mama," ajak Arman kepada Laras dan Fian.
Hari ini Laras terlihat begitu ceria bahkan sangat segar. Rasa sakit yang sering dirasakan sudah tidak lagi dia rasakan. Ditambah kehadiran Shafira membuatnya semakin merasa sehat dan bahagia.
"Assalammualaikum, ya Allah Nak. Maaf kalau Mama tidak bisa menemanimu waktu itu," ucap Sophia sambil berjalan dari arah dapur.
"Tidak apa-apa Ma, 'kan yang terpenting itu doa Mama, bukan hanya kehadiran Mama," jawab Laras sambil tersenyum.
"Doa Mama pasti selalu ada buat kalian semua, Mama berharap kamu selalu sehat ya Sayang," ucap Sophia sambil mencium kening sang putri.
Sophia dan Arman begitu menyayangi Laras. Mungkin karena dia adalah putri satu-satunya di keluarga itu. Bahkan sejak kecil apapun yang menjadi keinginan Laras akan diusahakan oleh Arman.
"Oh ya hari ini Mama masak makanan kesukaanmu, bagaimana kalau sekarang kita makan siang bersama," ajak Sophia kepada anak dan menantunya.
"Kebetulan Laras juga sudah lapar dan rindu dengan masakan Mama," jawab Laras sambil tersenyum.
"Ya sudah kamu makan dulu, biar Shafira Mama yang gendong ucap Sophia sambil memintah Shafira kepada sang putri.
Mereka pun makan siang dengan bahagia. Canda tawa di meja makan itu sangat terasa. Tangisan Shafira dan celotehan anak berusia 11 bulan itu membuat semua tertawa. Setelah selesai makan siang mereka pun berbincang-bincang sedikit sambil tertawa bahagia.
"Kamu terlihat lebih sehat hari ini," ucap Sophia kepada Laras sambil tersenyum.
"Alhamdulillah Ma, inj berkat Mas Fian yang sudah sangat baik dalam merawatku," jawab Laras sambi menoleh ke arah Fian dan tersenyum.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Fian kamu sudah menjaga putri kami dengan baik," ucap Sophia sambil terlihat bahagia dan bangga memiliki menantu seperti Fian.
"Sama-sama Bu, itu sudah kewajiban saya sebagai kepala keluarga dan Ayah buat Laras juga Shafira," jawab Fian sambil tersenyum.
Saat mereka sedang seru bercanda dan bercerita. Tiba-tiba ponsel Fian berbunyi dengan nyaring. Fian yang terkejut segera mengangkat panggilan itu sambil berdiri dan berjalan menjauhi Laras dan orang tuanya.
"Memangnya siapa yang menghubunginya, hingga Mas Fian mengangkat panggilan telepon itu sangat jauh dariku," batin Laras sambil melihat Fian yang berjalan ke arah ruang tamu.
__ADS_1