Jodoh Dari Dunia Maya

Jodoh Dari Dunia Maya
Bab 63


__ADS_3

Setelah menjawab pertanyaan Fian Laras kembali melanjutkan ceritanya tentang kehidupan masa lalunya. Kali ini Laras terlihat lebih rileks dalam menceritakan semua kisahnya. Dia hanya berpikir jika ini adalah awal dari perpisahannya dengan Fian dia akan menerimanya dengan ikhlas. 


* Flashback On * 


Hubungan Laras dan Steve terjalin seperti anak muda pada umumnya. Namun, yang membedakan hanyalah cara berpacaran yang terkesan kuno, sebagian orang menganggap itu karena Steve berusia 13 tahun lebih tua dari Laras. Padahal sebenarnya tidak, Steve adalah seorang laki-laki yang sangat memegang teguh iman dan agamanya. 


"Laras!" teriak Kharina saat melihat Laras baru saja turun dari motor sang kekasih.  


"Hai Khar," jawab Laras sambil melambaikan tangan. 


"Masuk aula dulu sana sebelum ibadah dimulai," perintah Steve sambil meletakkan helm di kaca spion motornya. 


"Koko nggak masuk?" tanya Laras kepada Steve saat melihatnya berjalan ke arah yang lain. 


"Hari ini aku memimpin ibadah di Sekolah menengah pertama, nanti saat jam istirahat aku tunggu di kantin ya," jawab Steve sambil tersenyum lalu berjalan ke arah aula Sekolah menengah pertama.  


Sekolah Laras memang cukup luas dalam satu yayasan dan lahan bisa menampung banyak siswa mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah dasar, Sekolah menengah pertama, Sekolah menengah atas dan sebuah asrama untuk siswa dari luar pulau maupun luar negeri yang ingin bersekolah di sana. Sekolah Laras adalah sekolah Kristen favorite di kota B jawa timur. Bahkan untuk bahasa saja setiap jenjang pendidikan memiliki pelajaran 4 bahasa, bahasa Indonesia, Jepang, Mandarin dan bahasa Inggris. 


"Hai Ko!" teriak Laras saat melihat Steve yang sedang menikmati semangkuk bakso. 


"Hai Ra, kamu pesan makan sana," perintahnya sambil terus menikmati makanan yang ada di hadapannya. 


"Ko, Koko! " bentak Laras saat panggilannya tidak dijawab oleh Steve.


"Ada apa sih, sudah makan saja nanti aku yang bayar," jawab Steve dengan nada kesalnya. 


"Ko, aku mau masuk agamamu, " ucap Laras hingga membuat Steve tersedak karena terkejut.  


"Apa aku tidak salah dengar, apa kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Steve setengah berbisik. 

__ADS_1


"Aku yakin, Koko bisakah bantu aku masuk ke agama Kristen," jawab Laras dengan tatapan serius. 


"Lebih baik kamu makan, kamu sudah ngawur mungkin karena kamu kelaparan," ucap Steve seolah tidak percaya dengan apa yang Laras ucapkan.


"Kamu pikir aku orang gila," protes Laras saat mendengar ucapan Steve. 


"Mang bakso sama es tehnya satu lagi ya!" teriak Steve seolah tidak mendengarkan apa yang diucapkan Laras.  


"Koko! Kamu dengar apa yang aku ucapkan nggak?" bentak Laras dengan nada kesal.  


"Kamu dengarkan aku baik-baik kamu itu muslim, dan keputusanmu ini benar-benar diluar akal sehat," jawabnya sambil meletakkan sendok ke dalam mangkuk yang sudah kosong.


"Maksudmu aku gila?" tanya Laras memastikan.


"Aku tidak menuduhmu gila, tapi asal kamu tahu agama bukan untuk ajang coba-coba ataupun mainan, apalagi sejak kamu lahir kamu sudah beragama Islam. Sekarang aku tanya ke kamu apa keputusanmu ini karena kamu menjalin hubungan denganku?" tanya Steve dengan serius. 


"Jika aku yang menjadi alasanmu untuk keluar dari Islam, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini karena aku tidak mau dituduh membawa pengaruh negatif dalam iman dan Islammu," ucap Steve sambil meletakkan uang lima puluh ribuan diatas meja. 


Waktu berlalu begitu cepat, hingga akhirnya Laras mampu meyakinkan Steve jika keputusannya ini bukanlah karena dia. Tapi karena Laras merasa nyaman saat menjalani hidup di agama Kristen. Setelah mendengar penjelasan Laras, Steve akhirnya mau membantu Laras masuk ke agama Kristen hingga dia diBaptis. 


* Flashback off * 


“Jadi bukan dia alasanmu masuk ke agama Kristen?” tanya Fian saat Laras berhenti bercerita.


“Bukan, justru dia adalah orang pertama yang menentangku keluar dari Islam, dia juga adalah laki-laki yang sangat menjaga kehormatanku,” jawab Laras sambil menatap mata sang suami. 


“Tapi apa sekarang kamu sudah yakin dengan agama Islam yang kamu jalani selama ini?” tanya Ardi kepada Laras. 


“Saya sudah yakin dan nyaman dengan agama yang sekarang, apalagi saat ini ada imam yang sangat begitu menjaga dan membimbing saya,” jawab Laras sambil tersenyum dan menggenggam tangan Fian. 

__ADS_1


“Dalam hal ini Laras tidak sepenuhnya bersalah, tapi justru orang tuanya yang bersalah karena mereka telah lupa mengajarkan ilmu agama kepadanya sejak dini,” ucap Ardi sambil menatap Laras dan Fian secara bergantian. 


Setelah mendengar penjelasan sang adik ipar, Ardi pun langsung pamit pulang. Setelah mengantarkan sang abang di depan pintu, Fian langsung menghampiri sang istri yang sedang sibuk membersihkan gelas kotor yang ada di atas meja. Fian yang sudah berdiri di belakang Laras langsung menarik tangan sang istri dan memintanya duduk di tempat tidur. 


“Sayang, apa aku boleh bertanya sesuatu,” tanya Fian kepada Laras sambil merebahkan tubuhnya di pangkuan sang istri. 


“Apa, jika aku bisa pasti akan aku jawab,” jawab Laras sambil membelai rambut sang suami dengan lembut. 


“ Apakah Steve adalah cinta pertamamu?” tanya Fian yang langsung membuat Laras tersenyum.


“Kenapa? Apa kamu cemburu," tanya Laras sambil tersenyum. 


"Tidak, aku hanya ingin bertanya saja," jawab Fian sambil menatap wajah sang istri yang ada di hadapannya.


"Steve bukanlah cinta pertamaku, cinta pertamaku ada saat aku sekolah di rumah Pamanku," jawab Laras sambil tersenyum.  


"Apa kamu sangat mencintainya? Dan siapa nama laki-laki itu," tanya Fian dengan rasa penasaran. 


"Cinta pertamaku bernama Dika, aku memang sangat mencintainya melebihi apapun. Karena dia adalah laki-laki yang baik, dan sangat menjagaku walaupun dia sangat perhatian dalam pendidikanku, tapi aku tahu dia lakukan itu karena kebaikanku," jawab Laras sambil tersenyum dan seakan mengingat kenangan manis dengan cinta pertamanya. 


"Jika kamu sangat mencintainya kenapa kalian berpisah? " tanya Fian sambil menutup matanya karena merasakan sentuhan lembut sang istri.


"Bibiku, dia yang membuat aku kehilangan Dika, keluarga besarku memanglah keluarga Polri mulai dari Kakek ku yang seorang Kapolda serta paman-pamanku serta sepupuku yang semuanya Polisi dan Ayahku Yang saat itu juga mantan anggota Polisi, membuat Dika ditolak dari keluargaku," jawab Laras sambil menatap ke depan dengan pandangan datar.  


"Kenapa? Apa keluargamu mementingkan jabatan seperti yang dulu aku alami saat di tolak Ayahmu," tanya Fian dengan rasa penasaran. 


"Iya, tapi bedanya Dika hanya seorang sales perusahan kecil begitu juga dengan Ayahnya," jawab Laras sambil menoleh ke arah Fian.  


"Tapi apa saat ini cinta itu masih ada untuknya atau sudah berpindah kepadaku? " tanya Fian hingga membuat Laras terdiam dan menatap wajah sang suami dengan tajam. 

__ADS_1


__ADS_2