
Saat Laras mencoba untuk menghindari tangan sang suami yang ingin menyentuhnya. Tanpa sengaja Laras menabrak sebuah kursi di belakangnya yang membuatnya jatuh dan mengalami benturan di bagian perutnya. Fian yang melihat sang istri terjatuh langsung berlari untuk menolong Laras.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ucap Fian sambil menggendong tubuh Laras dengan panik.
"Ah sakit Mas!" teriak Laras sambil terus memegangi perutnya.
"Bejo! Bejo," teriak Fian sambil memanggil nama Bejo yang kebetulan memang tinggal di bengkel bersama Fian.
"Ada apa Pak Bos?" tanya Bejo panik.
"Cepat buka pintu mobil dan gerbang," perintah Fian sambil terus berjalan dan menggendong Laras yang sedang kesakitan.
"Kamu cari tahu siapa yang sudah mengirim video misterius ke Laras, nanti nomer dan videonya aku kirim ke ponselmu, selama saya tidak ada di bengkel seluruh urusan bengkel jadi tanggung jawabmu," ucap Fian sambil masuk ke dalam mobilnya.
Setelah memberikan pesan kepada Bejo, Fian langsung mengemudikan mobilnya ke sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Fian yang sudah khawatir dengan keadaan anak dan istrinya langsung membawa Laras ke ruang UGD. Hampir satu jam Fian menunggu kabar tentang kondisi sang istri dan calon anak mereka di koridor rumah sakit.
"Aku harus mencari tahu siapa pengirim pesan singkat itu," ucap Fian sambil duduk di kursi koridor rumah sakit.
"Apa ada keluarga dari ibu Laras!" teriak seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Saya suaminya Sus," jawab Fian sambil berjalan mendekati sang suster.
"Mari masuk ke dalam, Dokter sudah menunggu anda," ajak sang suster sambil menunjukkan jalan ke arah sebuah meja di ruang UGD.
"Permisi Dok, ini Tuan Fian suami dari Nyonya Laras," ucap sang suster sambil memperkenalkan Fian.
"Silahkan duduk Pak Fian," perintah Dokter sambil mempersilahkan Fian.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok," tanya Fian panik.
"Ibu Laras baik, hanya saja karena benturan yang sangat keras membuat bayi yang ada di dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan," jawab sang dokter sambil terlihat sedih.
"Ya Allah, kebahagiaan apalagi yang akan engkau berikan kepadaku, sehingga engkau memberikan ujian ini," batin Fian sambil mulai meneteskan air matanya.
"Apa boleh saya melihat Istri saya," tanya Fian kepada sang dokter.
"Silahkan, kebetulan istri Bapak sudah dipindahkan di ruang rawat inap," jawab sang dokter.
Setelah bertanya kepada seorang suster tentang ruang rawat inap sang istri Fian langsung segera menemui sang istri. Laras yang baru saja kehilangan anak yang ada di dalam kandungannya masih tertidur pulas. Fian yang saat itu ada di depan pintu kamar perlahan-lahan mendekati Laras.
"Maafkan aku Sayang, aku sudah gagal menjadi suami yang baik untukmu, harusnya aku menceritakan masa laluku bersama Wulan sejak dulu," ucap Fian sambil duduk di samping Laras yang masih belum sadarkan diri.
Hampir semalaman Fian menemani Laras yang tidak sadarkan diri. Keesokan harinya sebelum Laras terbangun dari tidurnya Fian memutuskan pulang untuk mengambil beberapa pakaian Laras. Setelah menulis surat di sebuah kertas Fian pun berjalan keluar dari kamar sang istri.
"Selamat pagi Sayang, semoga pagi ini kamu bangun dengan lebih ceria dan sehat. Maaf kalau saat kamu bangun aku tidak ada disampingmu, karena aku sedang perjalanan kerumah untuk mengambil beberapa barang yang tentunya akan kamu butuhkan selama di rumah sakit, aku janji setelah dari rumah aku akan langsung kembali ke rumah sakit," tulis Fian di dalam suratnya.
"Apa aku masih harus mendampingimu Mas, disaat aku tahu semua masa lalumu bersama Wulan," ucap Laras sambil menutup surat dari sang suami.
Saat tiba di depan bengkel Fian langsung memarkirkan mobilnya. Dia segera masuk ke kamar untuk mengambil barang-barang sang istri yang nantinya akan sangat dibutuhkan saat di rumah sakit. Fian yang saat itu akan kembali ke rumah sakit tiba-tiba terhenti karena teriakan dari Bejo.
"Bagaimana keadaan Mbak Laras Pak," tanya Bejo saat sudah berada di hadapan Fian.
"Baik, tapi anak kami tidak dapat tertolong," jawab Fian sambil memasukkan tas ke dalam mobil.
"Ya Allah, saya dan seluruh karyawan mengucapkan turut berduka cita Pak Bos," ucap Bejo sambil menunduk.
"Terima kasih, untuk sementara semua kegiatan saya di bengkel kamu yang bertanggung jawab, dan berikan kabar kalau beberapa hari ini saya akan menunda meeting yang sudah direncanakan," jawab Fian kepada Bejo sambil membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Siap Bos," jawab Bejo kepada sang atasan.
Saat Fian sudah mulai berangkat kerumah sakit dengan mengendarai mobilnya. Tanpa sengaja Bejo mendengar Siska sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Sambil berpura-pura duduk di depan bengkel sambil mendengarkan dan merekam pembicaraan Siska dengan seseorang.
"Sepertinya kita berhasil, karena Perempuan itu sekarang ada di rumah sakit dan anak yang ada di dalam kandungannya telah meninggal dunia," ucap Siska sambil tertawa.
"Aku yakin sebentar lagi mereka pasti akan berpisah, karena aku tahu Fian begitu sangat mengharapkan keturunan," jawab Siska melalui panggilan ponsel.
"Baik nanti akan aku kabari kamu lagi nanti," ucap Siska sambil menutup ponselnya dan masuk ke dalam rumah.
Setelah merekam dan mendengarkan pembicaraan antara Siska dan seseorang melalui panggilan telepon. Bejo mencoba mendengarkan kembali rekaman tersebut di ruangan Fian. Setelah merasa rekaman itu cukup jelas Bejo langsung mengirim pesan singkat kepada sang atasan.
Fian yang baru saja tiba di ruangan Laras langsung meletakkan tas yang dia bawa di sebuah sofa. Sambil tersenyum dia mulai mendekati sang istri yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Sambil duduk di samping sang istri Fian mulai membelai rambut Laras yang masih dalam keadaan marah.
"Sayang, aku mohon maafkan aku. Kamu harus percaya kepadaku, hubunganku dan Wulan saat ini tidak seperti yang kamu pikirkan," jelas Fian sambil membelai rambut sang istri.
"Bagaimana keadaan anak kita," tanya Laras tanpa melihat wajah sang suami.
"Allah begitu sangat menyayangi anak kita sehingga Dia mengambilnya kembali," jawab Fian yang langsung membuat Laras terkejut.
"jangan bilang kalau anak ku …." belum selesai Laras menyelesaikan perkataannya dia langsung terdiam dan menangis.
"Aku harap kamu bisa ikhlas ya Sayang," ucap Fian sambil mencoba menenangkan sang istri.
"Ikhlas, Ibu mana yang bisa ikhlas saat anaknya meninggal, apalagi ini disebabkan karena kebohonganmu," ucap Laras sambil terus menangis.
"Aku tahu ini salahku, tapi aku mohon maafkan aku," ucap Fian sambil memohon kepada sang istri.
"Aku tidak tahu apa aku masih bisa terus hidup di kamar yang sudah menjadi saksi percintaan mu dengan Wulan," jawab Laras sambil mengusap air matanya dan tanpa menoleh ke Fian sama sekali.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku janji tidak akan ada kebohongan yang lain," ucap Fian sambil memegang tangan sang istri.
"Tidak ada Sayang, aku semalam memang bertemu dengan Wulan tapi hanya sebatas makan dan berbincang-bincang," jawab Fian sambil terus meyakinkan sang istri.
"Tadinya aku pikir kamu bisa menjadi imam yang bisa membantuku untuk mengenal Allah, tapi justru sekarang kamu membuatku kembali berpikir sejahat itukah Allah kepadaku hingga dia mengujiku seperti ini," ucap Laras yang langsung membuat Fian memeluknya.
Sambil menangis Fian memeluk erat tubuh sang istri yang terus menangis. Fian yang saat itu sangat menyesal berkali-kali meminta maaf kepada Laras sambil menangis. Fian meminta Laras untuk memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.
"Tidak Sayang, Allah tidak jahat kepadamu, justru akulah yang jahat dan bersalah kepadamu," ucap Fian sambil terus memeluk tubuh Laras sambil menangis.
Seketika kamar itu menjadi hening, kini yang terdengar hanya suara isak tangis Fian dan Laras sambil berpelukan. Sambil menangis Fian terus mencium wajah sang istri sambil terus memohon agar Laras tidak meninggalkannya. Bagi Fian sudah cukup dia kehilangan orang tuanya bahkan kehilangan sosok Wulan yang dulu pernah menjadi ratu di dalam hatinya, kini dia tidak ingin kehilangan sosok Laras seorang istri yang sangat dia sayangi.
"Maafkan aku Sayang, aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ucap Fian sambil mencium kening sang istri.
"Jangan pernah bohongi aku lagi Mas, aku sangat menyayangimu melebihi apapun," jawab Laras yang mulai membalas pelukan sang suami.
"Aku janji tidak akan menutupi apapun darimu, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri, sudah cukup aku kehilangan orang-orang dimasa laluku termasuk orang tuaku, kini aku tidak ingin kehilangan kamu yang sangat aku sayangi," ucap Fian sambil menciumi wajah sang istri yang masih terus menangis di pelukannya.
Setelah menyelesaikan permasalahan diantara mereka Fian langsung memberikan setangkai mawar merah yang sudah dibeli saat dalam perjalanan di rumah sakit. Sambil tersenyum Laras menerima mawar pemberian sang suami. Namun, saat Laras ingin mencium kelopak mawar itu hidungnya terhalang sebuah benda kecil yang ada di dalam kelopak mawar.
"Cincin," ucap Laras sambil memperlihatkan sebuah cincin kepada sang suami.
"Cincin ini sengaja aku letakkan di kelopak itu, karena aku ingin memberi kejutan kepadamu," jawab Fian sambil memakaikan cincin di jari manis sang istri.
"Terima kasih Mas," ucap Laras sambil tersenyum.
"Aku yang harusnya berterima kasih kepadamu, karena kamu telah memberi kesempatan kedua kepadaku," ucap Fian sambil mencium tangan sang istri.
__ADS_1
Satu hari sebelum kepulangan sang istri Fian meminta izin kepada Laras untuk pulang ke rumah dengan alasan ingin membersihkan kamar mereka. Setelah sampai di rumah Fian langsung meminta Bejo untuk mengeluarkan seluruh furniture yang ada di kamarnya termasuk tempat tidur. Fian juga meminta seluruh anak buahnya mengecat kamarnya dengan warna kesukaan sang istri.
"Kenapa harus di keluarkan semua perabotan itu Bos," tanya Bejo penasaran.
"Aku ingin menggantinya dengan yang baru, karena aku tidak mau ada kenangan masa lalu yang tertinggal di hidupku," jawab Fian sambil duduk di kursi yang ada di ruangannya.
"Barang-barang itu masih bagus, apa perlu kita jual saja," tanya Bejo kepada sang atasan.
"Kalian bagi saja, ambil seperlunya agar semua kebagian, kalau kamu mau menjualnya silahkan tapi uang penjualan itu kamu bagi dengan seluruh karyawan termasuk Mbok Ijah," tegas Fian kepada Bejo.
Setelah semua selesai di keluarkan Bejo langsung menjual seluruh perabotan tersebut. Lalu membagikan uang hasil penjualan tersebut kepada seluruh karyawan termasuk Mbok Ijah. Setelah seluruh ruangan di cat dan semua perabotan baru di masukkan termasuk sebuah vas bunga yang berisi mawar merah sudah di tata rapi dan diletakkan di meja rias. Fian langsung bergegas menemui sang istri yang masih di rumah sakit.
"Assalamualaikum," ucap Fian sambil masuk ke ruangan Laras.
"Waalaikumsalam," jawab Laras sambil menoleh ke arah Fian.
"Ini aku bawakan martabak manis dan mawar merah untuk Tuan putri," ucap Fian sambil memberikan sebuah kantong berisi martabak dan setangkai mawar kepada sang istri.
"Terima kasih Mas,"jawab Laras sambil membuka kantong plastik tersebut.
"Sayang, rencananya besok setelah kamu sampai rumah aku ingin menghubungi orang tuamu untuk memberitahukan kondisimu," ucap Fian hingga membuat Laras tersedak.
"Aku rasa tidak perlu Mas," jawab Laras sambil meraih gelas berisi air putih di sampingnya.
"Kenapa," tanya Fian sambil membantu Laras mengambil gelas tersebut.
"Tidak ada apa-apa, tapi lebih baik tidak perlu," jawab Laras sambil meminum air tersebut.
"Kamu tidak tahu saja bagaimana sifat Ayahku, jika mereka tahu tentang kondisiku saat ini aku yakin Ayahku akan meminta kita berpisah," batin Laras sambil terus makan martabak manis keju kesukaannya.
Keesokan harinya Laras diizinkan pulang oleh Dokter yang menanganinya. Laras yang saat itu masuk ke dalam mobil dibuat terkejut oleh buket bunga mawar yang hampir memenuhi seluruh mobil sang suami. Fian yang melihat reaksi Laras hanya tersenyum sambil membantu sang istri masuk ke dalam mobil.
"Untuk apa mawar sebanyak ini Mas," tanya Laras saat sang suami sudah masuk di dalam mobil.
"Mawar-mawar ini khusus untuk Tuan putri," jawab Fian sambil mencium bibir mungil Laras lalu mulai mengemudikan mobilnya.
"Apa harus sebanyak ini," tanya Laras sambil tersenyum dan melihat seluruh dalam mobil yang sudah penuh dengan buket mawar merah.
"Tentu, kalau perlu toko bunga mawar akan aku beli untukmu," jawab Fian sambil tersenyum dan fokus mengemudi.
Banyak kejutan yang sudah Fian siapkan untuk sang istri. Sesampai di rumah Fian langsung mengantar Laras ke kamarnya. Terlihat banyak perbedaan di kamar itu hingga membuat Laras hampir tidak mengenali kamarnya. Setelah mengantar Laras untuk beristirahat, Fian langsung berjalan ke ruang kerjanya untuk mulai mengecek semua pekerjaannya.
"Bejo!" teriak Fian sambil memanggil Bejo yang saat itu sedang mengerjakan pekerjaannya.
"Iya Bos," jawab Bejo sambil menghentikan kegiatannya dan berjalan menghadap sang atasan.
"Bagaimana bengkel selama aku tinggal," tanua Fian sambil duduk dan membuka beberapa berkas yang ada di meja kerjanya.
"Baik Bos, tapi maaf apa Pak Bos tidak menerima pesan singkat saya," tanya Bejo sambil penasaran.
"Pesan singkat," jawab Fian sambil mengecek ponselnya yang ternyata sudah beberapa hari ini dalam keadaan mati karena kehabisan baterai.
"Memang ada berita apa," tambah Fian sambil mulai mengecas ponselnya.
"Ini Bos," jawab Bejo sambil mendengarkan rekaman percakapan antara Siska dan seseorang.
"Suara siapa itu dan dengan siapa dia bicara," tanya Fian sambil menoleh Bejo yang duduk di hadapan Fian.
__ADS_1
"Itu suara Mbak Siska, tapi saya tidak tahu dia bicara dengan siapa karena dia berbicara melalui ponsel," jawab Bejo sambil mematikan rekaman tersebut.
"Kak Siska, apa jangan-jangan dia ada hubungannya dengan masalah yang terjadi antara aku dan Laras," Batin Fian sambil bersandar di kursi kerjanya.